Sabtu, 10 Juli 2010

Perjamuan yang Lindap



tempelkan lagi pumflet-pumflet kosong di atas bambu

renta, mimpi yang menyangsang pada kail kosong

di pintu laut bergeming ribuan ikan kelaparan

''hari ini tak ada nelayan berkapal''

suatu hari nanti

kucium dadamu dan kuselipkan mawar yang diwariskan

dewa-dewa, lalu segera kemasi deru mesin kapal

dan riuh ombak agar kita bebas berlayar

menempuh jalan camar

jalan bergurat rapi di tepi tebing sorga

tangis itu, kini, di dasar laut.

aku membawanya dari cerita yang dipanggul waktu

dari suratan pemakaman

tanda yang tertulis pada alamat cinta telah sampai

kisah cerita telah membahasakan dirinya sendiri

: di suatu pagi yang tak kukenal mataharinya

di suatu pagi yang menerbitkan tangis itu lagi.

kita ini binatang laut, katamu. aku menerjemahkannya

jadi kerlip kunang-kunang yang berebutan menyala

di padang pasir, lalu kau pergi tanpa membawa nafasmu,

kusimpan di dada kiriku agar a menjadi setia,

menunggu angin

: pemukiman kepak sayap dan jerit malaikat.

aku tak menemukan siapapun untuk pulang

gerit waktu tak mampu menjinakkan gelombang

yang berlari ke gelombang. matanya tertutup gerhana

yang membakar, dan dari segala pintu aku lindap di mimpi

anak nelayan.



di muat di Bali Post, 11 April 2010

3 komentar:

mikoalonso mengatakan...

keren bro mantap

mikoalonso mengatakan...

keren mantap bro

fairuzul mumtaz mengatakan...

makasih mas bro. puisimu lebih bagus.. hehehe