Selasa, 19 April 2011

Setelah Membaca Kumpulan Cerpen Eksil Cucu Tukang Perang Karya Soeprijadi Tomodihardjo


Membaca kumpulan cerpen Cucu Tukang Perang (CTP) karya Soeparji Tomodihardjo, yang konon disebut sebagai sastra eksil indonesia, ternyata cukup merubah cara pandang saya terhadap sastra eksil. Dan tentu saja, saya kecewa. JJ Kusni mengatakan bahwa yang disebut sastra eksil Indonesia meliputi empat hal, yaitu 1) mereka yang sedang belajar; 2) anggota dan staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (profesi—pen.); 3) mereka yang sengaja tinggal dan menetap di luar negeri dengan alasan nonpolitik; 4) mereka yang terpaksa tinggal dan menetap untuk kurun waktu panjang di luar negeri karena alasan politik. Sementara Situmorang mendefinisikan sastra eksil dalam tiga cakupan, yaitu Pertama, sebuah ketakhadiran, sebuah absensi yang panjang dan biasanya karena terpaksa hengkang dari tempat tinggal ataupun negeri sendiri. Kedua, pembuangan secara resmi (oleh negara) dari negeri sendiri, dan pengertian ketiga adalah seseorang yang dibuang ataupun hidup di luar tempat tinggal ataupun negerinya sendiri (perantau, ekspatriat). Perlu disayangkan, Kamus Besar Bahasa Indonesia tak punya kata eksil.

Semula saya mengamini kata dua orang tersebut dan membatasi berbagai cakupan yang luas itu dengan kesimpulan yang sama antara kedua orang tersebut, yaitu pada alasan politik, terutama sehubungan dengan kepentingan saya, lebih menyempit lagi pada peristiwa 65 di Indonesia. Namun, setelah membaca kumcer CTP pandangan saya mengenai eksil saya rasakan bergeser. Saya tak lagi membatasi dengan patokan definisi dari kedua orang tersebut, melainkan memberikan penyimpulan sendiri. Bahwa sastra eksil Indonesia adalah karya sastra yang dihasilkan oleh orang-orang yang mengalami dislokasi geografis dari negeri sendiri karena satu alasan, yaitu alasan politik dan tak pernah kembali. Selebihnya, bukan sastra eksil.

Dorothea Schaefter, dalam artikelnya di jurnal Study (University of London), membicarakan eksil Indonesia tetapi tidak memberikan definisi secara eksplisit mengenai sastra eksil Indonesia. Namun, ia mengupas sejarah eksil Indonesia mulai pergerakannya dari bekas Blok timur, khususnya di Rusia, Republik Rakyat Cina, Albania dan Vietnam, hingga pada tahun 1980-an para eksilan itu meninggalkan negera-negara tersebut dan menetap di Eropa. Dari sejarah panjang eksil Indonesia yang ditulisnya, menyiratkan bahwa mereka yang disebut eksil Indonesia adalah mereka yang memiliki satu alasan, yaitu politik.

Sementara definisi yang dimunculkan oleh kedua orang Indonesia di atas bagi saya memiliki makna yang ambigu. Pasalnya, keduanya, dalam membicarakan sastra eksil Indonesia keterkaitan contoh-contoh karya yang diambil mengarah kepada orang-orang Indonesia yang menetap di Negara-negara Barat, Eropa khususnya. Sementara orang Indonesia yang menetap di Negara-negara Timur tak pernah disebut sebagai eksil Indonesia, apapun alasannya. Diskriminasi bukan? Sebut saja TKI. Karya sastra yang dihasilkan mereka disebut-sebut sebagai sastra TKI, sastra buruh. Sementara dari definisi yang disebutkan oleh kedua orang tersebut, TKI masuk di dalamnya tapi tak pernah dimasukkan ke dalamnya. Seolah-olah pekerjaan sebagai buruh tak layak disebut sebagai eksil. Sementara staff KBRI disebut eksil? Apakah menjadi eksil merupakan kebanggaan? Kepentingan apa yang bermain?

Berangkat dari pembacaan di atas, dalam kumcer CTP, sang penyunting, Zen Hae, memberikan pengantar yang meyakinkan pembaca bahwa sang penulis adalah eksil Indonesia korban peristiwa 65 di Indonesia. Mula-mula saya percaya—mungkin karena saya orang baik dan mudah percaya, tapi kepercayaan saya cuma satu. Sungguh! Setelah membaca pengantar tersebut, saya tidak langsung membuka halaman berikutnya, melainkan membuka kumpulan puisi Di Negeri Orang, yang selalu berada dekat tempat tidur saya sebagai dongeng pengantar tidur saya, dan membaca kembali biografi dari Soeprijadi Tomodihardjo namun tidak mendapatkan keterangan yang memuaskan saya. Lalu saya buka halaman terakhir kumcer CTP. Betapa terkagetnya saya. Ternyata pengarangnya bukan eksil sebagaimana saya definisikan di atas. Saya kecewa pada Zen Hae. Ah, sialan kau! Atau ini hanya sopan santun seorang Zen Hae dalam menulis kata pengantar?

Dari halaman terakhir kumcer tersebut, informasi yang saya dapatkan adalah “dalam posisinya sebagai anggota PWI, Soeprijadi pernah mengikuti rombongan 15 orang anggota PWI dari seluruh Indonesia ke Beijing untuk kegiatan liputan selama satu bulan (Oktober 1965). Namun, seusai tugas itu (November 1965), ia memutuskan menerima tawaran kerja selaku penerjemah di kantor berita Xinhua (Hsinhua) di Beijing. Belakang atas bantuan seniornya di kantor berita Antara Jerman, Soeprijadi melawat ke Eropa Barat dan akhirnya meninggalkan profesi semula untuk bekerja di Sekretariat Universitaetskliniken Koeln (Rumah Sakit Unversitas Koeln) sampai pensiun 1998.”

Keterangan yang saya dapatkan di atas berbeda dengan yang ditulis oleh Zen Hae dalam pengantarnya. Ia lebih banyak menyoroti kehidupan eksil korban peristiwa 65 di Indonesia yang kemudian dikaitkan dengan kehidupan Soeprijadi. Secara tidak langsung Zen Hae mengatakan bahwa Soeprijadi adalah korban peristiwa 65 di Indonesia. Terlebih Zen Hae menulis kalimat dahsyatnya, “karya-karyanya tidak melulu bisa dikategorikan sebagai ‘kendaraan ideologi’ belaka—hal yang sangat jamak bagi pengarang kiri semasanya, tetapi telah menjelma karya sastra itu sendiri, sastra sebagai pertaruhan pertama dan terakhir seorang pengarang”. Apa maksudnya “menjelma karya sastra itu sendiri”? Lalu, sastra sebagai pertaruhan pertama dan terakhir? Sastra sebagai penghidupan utama? Bukankah Soeprijadi “meninggalkan profesi semula” sebagai wartawan dan penerjemah yang barangkali juga penulis?

Meski demikian, toh saya merampungkan juga pembacaan saya terhadap kumcer tersebut. Lebih karena kewajiban kepentingan. Dan yang saya temukan, bukan kehidupan eksil. Beberapa cerpen memang berbicara mengenai berbagai hal pascaperang (bukan ketika perang), pengalamannya tinggal sementara di hotel Beijing dan berlatar luar negeri. Beberapa hal lagi berbau romantisme. Gugurlah harapan saya.

Ketika menerima kumcer CTP dari tangan penyair kondang Nur Wahida Idris selepas yasinan sebegai berkatnya, saya berharap menemukan pengalaman-pengalaman eksil seperti pertentangan ideologi dengan pemerintah yang berkuasa pada saat itu dan sekarang, peristiwa politik saat itu, kerinduan yang tak terlampiaskan pada negerinya, pengalaman pengusiran, serta pengalaman-pengalaman getir lainnya. Lamat-lamat memang saya menemukan beberapa hal yang saya harapkan, tapi juga tak memuaskan. Jika hanya demikian, harapan saya lebih terpuaskan dengan karya-karya Martin Aleida dan Pramudya Ananta Toer.

Prasangka buruk saya lainnya, jangan-jangan Soeprijadi ini lebih banyak memiliki karya yang jauh dari pengalamannya yang konon dikatakan eksil? Karya-karya dalam kumcer CTP tentu saja diseleksi hanya sebatas pengalaman-pengalaman yang supaya disebut eksil dan agar bukunya lebih laku. Kecurigaan ini berdasarkan yang dikatakan oleh Zen Hae bahwa Soeprijadi merupakan penulis produktif, sementara cerpen-cerpen dalam CTP berkisar dari tahun 2004 hingga 2010. Tentunya masih banyak karya lainnya yang berceceran.

Ah, barangkali Soeprijadi tak mengalami pengalaman-pengalaman sebagaimana yang pernah dialami oleh Sobron Aidit, Agam Wispi, Asahan Alham, A. Kohar Ibrahim. Bahkan dalam biografinya, ia tak disebut-sebut sebagai anggota Lekra. Karena tentu saja, pengalaman-pengalaman itulah yang menjadi sumber penciptaan teks kreatif. Lepas dari anggapan dan kecurigaan, saya sampaikan rasa terima kasih kepada Soeprijadi Tomodihardjo yang telah membuat saya pusing.[]Djogjakarta, 2011.

Jumat, 18 Februari 2011

Konser Musik Puisi "Harmoni Musik Puisi Jogja"

No : 010/HMPJ/I/2011

Lampiran :

Perihal : Permohonan Keikutsertaan Konser Musik Puisi “Harmoni Musik Puisi Jogja”

Kepada Ketua:

Komunitas/Sanggar……………………..

Di tempat

Dengan hormat,

Sehubungan akan diadakannya konser musik puisi “Harmoni Musik Puisi Jogja” yang diadakan oleh SARKEM (Sanggar Kreativitas Manusia) pada,

Hari/tanggal : Jum’at – Sabtu, 6 – 7 Mei 2011

Pukul : 19.00 – 23.00 WIB

Tempat : Bentara Budaya Yogyakarta

Jl. Suroto no. 2 Kotabaru Yogyakarta

Maka kami selaku panitia mengharapkan keikutsertaan saudara/i sebagai kelompok sastra dan/atau seni yang memiliki konsentrasi musik puisi. Akan sangat disayangkan jika musik puisi yang dimiliki oleh kelompok hanya untuk dinikmati sendiri. Kami berharap dalam konser musik puisi “Harmoni Musik Puisi Jogja” ini dapat mewadahi kreativitas kelompok yang tersembunyi.

Demikian pengharapan kami dalam keikutsertaan saudara/i dalam mengikuti konser musik puisi “Harmoni Musik Puisi Jogja”. Atas perhatian dan tanggapan saudara/i, kami ucapkan terima kasih.

Yogyakarta, 5 Februari 2011

Ketua Panitia

Fairuzul Mumtaz

Sekretaris

Ariestyanty Nurul Ilmi

Formulir Pendaftaran “Harmoni Musik Puisi Jogja”

Nama Kelompok :

Nama Pimpinan Kelompok :

Nama Delegasi yang Diutus :

Nomer Telepon/HP :

Alamat Email :

Alamat Surat :

Jumlah Personil :




Proposal Kegiatan

“Harmoni Musik Puisi Jogja”

Judul Kegiatan

Konser Musik Puisi “Harmoni Musik Puisi Jogja”

Latar Belakang Kegiatan

Musik menjadi kegemaran setiap orang. Entah apapun jenis musiknya, ia memiliki massanya sendiri. Begitu pula dengan musik puisi, yang pada awal mula kemunculannya hanya sebagai tempelan pada setiap acara atau alternatif pilihan terakhir jika tidak siap memenuhi undangan pentas bersama suatu komunitas. Dengan keberaniannya, kelompok-kelompok yang secara intens menggarap musik puisi memisahkan diri dengan hal tersebut, berharap musik puisi mendapat tempatnya sendiri. Meski demikian, musik puisi masih menjadi konsumsi komunitas, dan bukan masyakarat umum. Hal ini dapat dimengerti karena lirik yang diaransement bukanlah pilihan kata-kata yang sederhana dan mudah dicerna sebagaimana lagu-lagu yang beredar saat ini.

Menanggapi hal tersebut, Sanggar Kreativitas Manusia (SARKEM) merespon dengan menggelar konser musik puisi. Banyak harapan yang ingin diraih dengan konser tersebut, khususnya terciptanya suatu forum musik puisi yang dapat menggagas arah musik puisi agar dapat dikenal masyarakat luas dan memberikan masukan kepada pejabat terkait sehubungan dengan dimasukkannya musik puisi dalam kurikulum Sekolah Menengah Pertama.

Tujuan Kegiatan

· Pertunjukan yang berkualitas dan menghibur

· Musik puisi dapat dikenal dan dinikmati masyarakat luas

· Terciptanya forum musik puisi yang harmonis

Target Kegiatan

· Pelajar dan mahasiswa

· Praktisi kesenian

· Akademisi kesenian

· Pejabat pemerintah

· Masyarakat umum


Waktu dan Tempat Kegiatan

Kegiatan akan diadakan pada,

Hari/tanggal : Jum’at – Sabtu, 6 – 7 Mei 2011

Pukul : 19.00 – 23.00 WIB

Tempat : Bentara Budaya Yogyakarta

Jl. Suroto no. 2 Kotabaru Yogyakarta

Rencana Anggaran Dana

Lampiran I

Susunan Panitia

Lampiran II

Ketentuan & Kewajiban Peserta Konser Musik Puisi “Harmoni Musik Puisi Jogja”

Lampiran III

Penutup

Demikian proposal kegitan “Harmoni Musik Puisi Jogja” ini dibuat. Atas segala perhatian dan tanggapan saudara/i, kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Yogyakarta, 15 Februari 2011

Ketua Panitia

Fairuzul Mumtaz

Sekretaris

Ariestyanty Nurul Ilmi

Lampiran I

Rencana Anggaran Dana

No.

SEKRETARIATAN

UNIT

BIAYA per @ (Rp.)

JUMLAH (Rp.)

1.

Alat tulis kantor

1

paket

30.000

2.

Penggandaan Proposal

15

Copy

2.000

30.000

3.

Pengandaan surat-surat dan LPJ

13.000

4.

Penggandaan Proposal Sponsorship

10

copy

2.000

20.000

SUB TOTAL

93.000

No.

HUMAS DAN PUBLIKASI

UNIT

BIAYA per @ (Rp.)

JUMLAH (Rp.)

1.

Poster

300

Lembar

1.000

300.000

2.

Spanduk rentang

2

buah

75.000

150.000

3.

Booklet

250

buah

1.000

250.000

4.

Kaos

450.000

SUB TOTAL

1.150.000

No.

KEBUTUHAN PANGGUNG

UNIT

BIAYA per @ (Rp.)

JUMLAH (Rp.)

1.

Sewa Sound System

250.000

2.

Setting panggung

100.000

3.

Lighting panggung

100.000

SUB TOTAL

450.000

No.

DOKUMENTASI

UNIT

BIAYA per @ (Rp.)

JUMLAH (Rp.)

1.

CD blank

15

buah

1.500

27.000

2.

CD case

15

buah

1.000

15.000

3.

Cover CD

15

buah

1.000

15.000

4.

Sewa kamera

250.000

5.

Kaset

100.000

SUB TOTAL

407.000

No.

TEMPAT

UNIT

BIAYA per @ (Rp.)

JUMLAH (Rp.)

1.

Sewa Gedung

1.000.000

SUB TOTAL

1.000.000

No.

TRANSPORTASI

UNIT

BIAYA per @ (Rp.)

JUMLAH (Rp.)

1.

BBM Motor

5

buah

20.000

100.000

SUB TOTAL

100.000

No.

KONSUMSI

UNIT

BIAYA per @ (Rp.)

JUMLAH (Rp.)

1.

Makan siang (2hari)

15

orang

10.000

150.000

2.

Makan malam (2hari)

15

orang

10.000

150.000

SUB TOTAL

300.000

No.

ANGGARAN DANA

JUMLAH (Rp.)

1.

Kesekretariatan

93.000

2.

Humas dan Publikasi

1.150.000

3.

Kebutuhan panggung

450.000

4.

Dokumentasi

407.000

5.

Tempat

1.000.000

6.

Transportasi

100.000

7.

Konsumsi

300.000

SUB TOTAL

3.500.000


Lampiran II

Susunan Panitia

Ketua Panitia

Fairuzul Mumtaz

Sekretaris

Ariestyanty Nurul Ilmi

Bendahara

Ida MM

Acara

Erang Risanto

Humas dan Publikasi

Hanif Arifin

Robertus Priatmoko

Vino Damar

Dokumentasi

Wahyu Purwanto

Nara Tungga Indit Rahasita

Konsumsi

Lina

Tikah Kumala

Brenda Christina

Penata Panggung

Bayu Dwi Nugroho

Ika Yudhi Kasran

Avit Rudiarto


Lampiran III

Ketentuan & Kewajiban Peserta Konser Musik Puisi “Harmoni Musik Puisi Jogja”

Ketentuan Umum Peserta

  1. Kelompok yang intens menggarap musik puisi dan telah memiliki beberapa materi untuk dipentaskan
  2. Peserta tidak dibatasi usia
  3. Kelompok boleh dari luar jogja
  4. Maksimal 15 kelompok
  5. Mengisi formulir pendaftaran dan mengembalikannya tepat waktu
  6. Pendaftaran tidak dipungut biaya
  7. Peserta memberikan jawaban keikutsertaan maksimal pada tanggal 1 Maret 2011 pukul 16.00 wib di sekretariat SARKEM, Jl. Tutul 23B Papringan Condongcatur Sleman Yogyakarta (085868357537/087738099230)
  8. Segala ketentuan yang tidak sesuai dapat dibicarakan dalam rapat yang akan diselenggarakan setelah masing-masing kelompok bersedia menjadi peserta. Undangan rapat menyusul.

Kewajiban Peserta

  1. Mengirim satu delegasi (person) untuk mengambil keputusan bersama
  2. Menyiapkan materi pentas selama 30 menit
  3. Membawa alat sendiri
  4. Membawa konsumsi sendiri
  5. Menyerahkan profil kelompok dan anggota yang pentas 2 minggu sebelum hari konser
  6. Bersedia menjualkan tiket pertunjukan minimal 25 tiket seharga 5.000/tiket sebelum pertunjukan dan diserahkan kepada panitia 2 hari sebelum pentas.
  7. Mendapatkan pembagian dari hasil penjualan tiket (80% dibagi rata kepada seluruh peserta)
  8. Jika peserta tidak memenuhi penjualan tiket minimal 25 tiket, maka peserta tersebut tidak mendapatkan hak atas pembagian hasil penjualan tiket, tetapi masih diperkenankan untuk pentas bersama.

Kewajiban Panitia

  1. Menyelenggarakan Konser Musik Puisi “Harmoni Musik Puisi Jogja” selama 2 hari
  2. Menyediakan tempat, sound system, lighting, dan setting panggung
  3. Menyediakan kru panggung
  4. Menyediakan booklet
  5. Menyediakan publikasi dan dokumentasi konser
  6. Seluruh pemasukan yang datang dari sponsor adalah menjadi hak panitia
  7. Mendapatkan 20 % dari penjualan tiket setelah dipotong seluruh pengeluaran
  8. Jika memungkinkan dan mendapat persetujuan dari seluruh peserta, akan dibuatkan album kompilasi live dari hasil konser dalam bentuk CD.
  9. Memberikan laporan pertanggungjawaban kepada peserta.