Sabtu, 10 Juli 2010

Catatan Pendek Tentang Luka

Karena aku tak mengenal musim

Kubiarkan hujan memilikimu

Sebab dalam diriku

Gelombang tebal menangisi

Irama matahari dalam kabut

Biarlah hanya percakapan kita tersisa

Abu dari kertas cinta

Yang pelan-pelan menidurkan lagu-lagu

Menjadi angin di hutanmu yang sepi tiba-tiba

Lalu luka itu terbit

Tak putus-putus

Djogjakarta, 2008.


Aku Mengingatmu Sebagai Prasasti

Aku mengingatmu sebagai prasasti

Jika nanti kau lupa tentang dawai

Yang ragu-ragu berderit kau gesek di belakang rumah

Saat purnama telah pulang

Dan aku sibuk mengajarimu

Mengeja kalimat-kalimat yang semakin tua

Pada daftar alamat yang kita lupa mengiriminya doa

Aku mengingatmu sebagai prasasti

Hari lahirmu yang merekah pada sebuah batu

Isyarat yang kubiarkan mengeras

Namun pada lekuknya

Suatu hari akan kau pahami

Sebagai gerimisku atasmu yang tak pernah reda.

Djogjakarta, 2008.



Kembang Kamboja;

Sebuah Kado Pernikahan

Kita mesti pulang

Sepetak rumah persegi empat telah menunggu kita

Mengenakan gaun putih yang diikat

Ini pernikahan kali terakhir
Setiap kita telah dipinang sejak kelahiran

Kamboja bernyanyi lagu gagak hitam

Menggugurkan daunnya menjadi doa

Bagi pesta pernikahan yang penuh peluh dan air mata.

Djogjakarta, 2008.


puisi-puisi di atas telah dimuat di koran mingguan Minggu Pagi Yogyakarta, 01 Maret 2010

0 komentar: