Langsung ke konten utama

Kyai Ali

Cerpen Fairuzul Mumtaz


KYAI ALI terkenal dengan sifat penyayangnya. ia begitu menyayangi santrinya. Tak ayal jika pesantrennya berkembang begitu pesat. Dalam jangka waktu tiga tahun saja, pesantren peninggalan mertuanya itu menjadi terkenal dan dipenuhi dengan santri-santri dari berbagai pelosok negeri ini. Ia pun memiliki waktu tersendiri untuk mengajarkan ilmu-ilmunya kepada para santri.
Sorogan. Itulah salah satu metode yang dipakainya. Setiap pagi dan sore hari, setiap santri harus menyiapkan kitab kuning yang akan dibacanya di hadapan Kyai Ali langsung. Metode ini sangat efektif. Selain santri lebih tersentuh karena diajar oleh kyainya secara langsung dan mengingat setiap apa yang diajarkan, kedekatan emosional antara Kyai dan santri terjalin akrab. Sehingga bukan hal yang mustahil jika Kyai Ali mengenal dan ingat semua nama santrinya. Bila Kyai Ali memiliki hajatan, peringatan khaul, khataman dan lain-lainnya, Kyai Ali lebih sering menulis surat dengan tangannya sendiri untuk para santrinya. Diakhir surat, biasanya ada pesan tambahan, "Awas kalau tidak datang!" atau "Datang lho..." dan semacamnya.
Sebelum pesantren ini dipegang oleh Kyai Ali, yakni mertua Kyai Ali. Pesantren itu hanyalah pesantren kecil di sebuah dusun bekas hutan belantara tempat para raja-raja terdahulu berburu menjangan, yang mengkhususkan pada penghafalan dan pengkajian Alqur'an atau yang biasa disebut takhassus Alqur'an. Kyai Ali sendiri merupakan santri dari mertuanya yang kemudian dinikahkan dengan anak perempuannya. Sepeninggal mertuanya, Kyai Ali pun menjadi pengasuh pesantren itu dan mengembangkannya. Bagi Kyai Ali, tak cukup hanya dengan takhassus, sehingga perlu dikembangkan dengan mempelajari kitab-kitab kuning dalam rangka mendukung tafsir Alqur'an, meski dalam perkembangannya takhassus dan kitab kuning dipelajari secara terpisah. Akhirnya pondok pesantren tersebut memiliki dua cabang, yaitu takhassus dan salaf.
Metode sorogan yang diterapkan Kyai Ali memiliki tiga piranti. Pertama-tama seorang santri harus mencari sendiri makna arti bahasa dalam kitab kuning melalui kamus-kamus atau bertanya kepada santri yang lebih senior. Kedua, para santri menghafal makna-makna tersebut dan memahaminya lalu ketiga, santri harus mampu menjelaskan apa yang telah ia bacakan di hadapan Kyai Ali.
Begitulah Kyai Ali mengajar santrinya. Awalnya, hanya beberapa santri saja, tidak sampai seratus. lama kelamaan, ketika pesantren itu berkembang, dan memiliki banyak santri, ratusan hingga ribuan, Kyai Ali tetap setia melayani para santrinya. Jadwal yang semula sehari dua kali terpaksa harus dipangkas menjadi sehari satu kali. selain itu, santri-santri yang masih baru dianjurkan untuk sorogan kepada santri yang telah senior atau sudah dianggap ustadz dan tentunya mendapatkan rekomendasi dari Kyai Ali. Setelah santri yang baru itu melewati beberpa kitab kuning yang kecil-kecil, baru ia akan mulai sorogan langsung dengan Kyai Ali langsung.
Ngaji sorogan menjadi kewajiban bagi setiap santri. Jika ada salah satu santri yang tidak ngaji, maka yang terkena hukuman pada hari itu bukan santri yang tidak mengaji, melainkan teman sekamarnya. "Itu merupakan kesalahanmu juga, kenapa kamu tidak mengajaknya ngaji." Begitu kata Kyai Ali. Banyak sekali santri yang tiba-tiba dihukum dengan menyapu halaman rumah atau masjid karena teman sekamarnya tidak ikut ngaji. Rupa-rupanya, selain mengajarkan ilmu-ilmu tikab kuning, Kyai Ali juga menerapkan kedisiplinan kepada santrinya.
Kyai Ali paham betul dengan setiap santrinya. Ialah yang membangunkan sendiri para santrinya ketika datang ajakan sholat subuh. Rasa sayangnya kepada para santri membuatnya harus terus mengontrol sendiri para santri setiap hari. Dari kedetakan antara santri dan kyai itu, rata-rata para santri tak ada yang memanggilnya dengan sebutan kyai. Dan agaknya, Kyai Ali sendiri lebih senang dipanggil dengan sebutan Bapak atau Pak saja. Inilah kelebihan Kyai karismatik tersebut selain ia hafal ribuan nama santrinya. Dan mungkin suatu keanehan bahwa setiap santrinya merupakan santri kesayangannya. Kyai Ali sendiri tidak suka mengukung santrinya dengan berbagai aturan sehingga pesantren tersebut terkenal bebas. Hanya dua peraturan yang tidak boleh dilakukan para santrinya dan itu merupakan larangan keras, mangkir ngaji dan mengganggu penduduk kampung sekitar.
Mungkin karena kebebasan yang diterapkan tersebut, Kyai Ali merasa harus mengontrol santrinya sendiri setiap harinya meski ia sendiri sibuknya bukan main. Selain sibuk sebagai ketua dari organisasi masyarakat terbesar di negeri ini, ia juga banyak mendapat undangan untuk mengisi pengajian di sana-sini dan segala macamnya. namun hal itu tak mengurangi jatahnya mengontrol para santrinya. Cara mengontrol santrinya, juga termasuk unik dan nyentrik, yaitu dengan memasang speaker. Speaker itu ia rekayasa sendiri sedemikian rupa hingga memiliki fungsi ganda. Speaker itu dipasang di seluruh penjuru pesantren agar para santri dapat mendengarkan dengan jelas. Di satu sisi, para santri dapat langsung mendengarkan suara Kyai Ali. Di sisi lain, speaker itu dapat beralih fungsi menjadi mikrofon yang dapat menyerap suara-suara para santri. Dengan speaker tersebut, Kyai Ali dapat berkomunikasi dengan santrinya. namun tak satupun santri mengetahuinya.
Dari speaker itu, Kyai Ali banyak tahu tentang rahasia-rahasia santrinya. Ketika salah seorang santri mengahadapi masalah yang rumit, biasanya Kyai Ali langsung memanggilnya lewat speaker tersebut. Al khasil, banyak santri yang menyangka bahwa Kyai Ali memiliki ilmu kanuragan sehingga dapat mengetahui masalah-masalah yang dihadapi para santrinya.
Namun, Kyai Ali tetaplah manusia biasa, tempatnya salah dan lupa. suatu kali, ketika Kang Mustakim, salah seorang santri, sedang sowan beserta orangtuanya yang datang menjenguk anaknya karena memberikan pesangon atau jajan bulanan. Sebelum Kang Mustakim sowan, Kyai Ali sedang mendengarkan suara-suara santrinya. Luput Kyai Ali mematikan speaker itu, datanglah Kang Mustakim beserta orangtuanya. Dalam pasowanan itu, Kang Mustakim tidak banyak mendengarkan obrolan dan nasehat Kyai Ali. Kyai Ali pun karena sedang asyik dan senang karena didatangi santri beserta orangtuanya, lupa bahwa belum mematikan speakernya dan tidak memperhatikan gelagat Kang Mustakim yang penuh dengan selidik berkenaan dengan suara-suara yang ia dengar dari speaker itu. Kang Mustakim terus berkonsentrasi dengan suara-suara dari speaker di ruang lain rumah Kyai Ali tersebut.
Kang Mustakim memang terkenal santri nakal dan sering mengganggu santri lain. Ia paling sering absen ngaji. Mengetahui rahasia Kyai Ali, Kang Mustakim tidak lagi kuatir jika di akhir bulan ia kehabisan uang jajan atau sedang menghadapi masalah-masalah. Entah bagaimana caranya, dalam waktu dekat, ia pun segera tahu kapan speaker itu berfungsi sebagai pengeras suara dan kapan speaker itu berfungsi sebagai mikrofon. kenakalannya pun menjadi-jadi dan membuat para santri lain iri dan bertanya-tanya kenapa Kang Mustakim bisa begitu. Ia lebih sering dipanggil Kyai Ali. Pendek kata, ia menjadi lebih dekat dengan Kyai Ali.
Mengatahui jadwal-jadwal perubahan speaker tersebut, Kang Mustakim pandai memanfaatkannya. di waktu para santri sedang tadarrus atau belajar mencari makna untuk persiapan sorogan, Kang Mustakim justru ngeluyur tak jelas juntrungannya. Dan ketika tiba speaker itu beralih fungsi, ia telah berada di bawah speaker untuk tadarrus dan sengaja mengeraskan suaranya. Di malam hari, ia sering kali mengobrol sendiri di bawah speaker itu, mengeluarkan segala unek-uneknya agar didengar Kyai Ali, mulai dari masalah cinta, uang jajan dan masalahnya dengan santri lain. para santripun heran dengan tingkah lakunya itu.
"Ah, akhir bulan," keluhnya suatu malam. "Uang jajan habis, beras dan bumbu-bumbu habis, belum lagi iuran kamar. Mana utangku banyak lagi. Aduh! aku juga harus beli kitab. repot sekali hidup ini. Ya Allah, berilah aku sedikit rezekimu agar lancar menjalankan ibadah terhadapmu. Dan bukankah aku ini sedang berjihat karena menjalankan kewajiban menuntut ilmu."
Jika sudah begini, sehabis jamaah subuh akan terdengar suara Kyai Ali memanggil Kang Mustakim untuk ke ndalem. Bersuka-citalah Kang Mustakim karena mendapatkan uang dari Kyai Ali dengan cuma-cuma.
Melihat Kang Mustakim seperti hidupnya terjamin, santri-santri lain pun bertanya padanya. Namun Kang Mustakim biasanya hanya menjawab, "berdoalah, agar Allah memberikan pengetahuan yang lebih." Tentu saja banyak santri yang jengkel padanya. Namun perlakuan Kang Mustakim berbeda kepada Kang Sabri, sahabatnya. Kang Mustakim merasa punya hutang budi kepada Kang Sabri karena sering ditolong. Ia membeberkan semua rahasia yang ia tahu dan meminta Kang Sabri untuk merahasiakannya. Kang Sabri pun paham dan tak hanya tinggal diam. Kang Sabri pun mengikuti jejak Kang Mustakim. Al khasil, kedua santri itu semakin dekat dengan Kyai Ali.
Namun dasar santri. Santri tak hanya memilki satu sahabat. bahkan seluruh santri di pondok bias dianggap sebagai sahabat. Tidak lama kemudian, rahasia itu tersebar di seantero pondok pesatren itu. para santri pun tiba-tiba menjadi nakal dan memanfaatkan keadaan.
Melihat keadaan ini, bukannya para santri merasa dimata-matai, tapi justru merasa harus terbuka dengan Kyai Ali agar diperhatikan. Umumnya, yang dirasakan para santri adalah sikap keterbukaan dan kebebasan. mungkin dari kebebasan dan keterbukaan itulah, pesantren yang diasuh Kyai Ali itu banyak melahirkan alumni-alumni yang cukup berpengaruh di masyarakat meski mereka terhitung nakal ketika mondok.[]Djogjakarta, 2008.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Strukturalisme Genetik Goldmann

Pendahuluan
Strukturalisme genetik ditemukan oleh Lucien Goldmann, seorang filsuf dan sosiolog Rumania-Perancis. Teori ini dikemukakannya pada tahun 1956 dengan terbitnya buku The Hidden God: a Study of Tragic Vision in the Pensees of Pascal and the tragedies of Racine. Teori dan pendekatan yang dimunculkannya ini dikembangkan sebagai sintesis atas pemikiran Jean Piaget, Geogre Lukacs, dan Karl Marx. Menurut Faruk (2003: 12) Goldmann percaya bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur. Artinya, ia tidak berdiri sendiri, melainkan banyak hal yang menyokongnya sehingga ia menjadi satu bangunan yang otonom. Akan tetapi, Goldmann tidak secara langsung menghubungkan antara teks sastra dengan struktur sosial yang menghasilkannya, melainkan mengaitkannya terlebih dahulu dengan kelas sosial dominan. Sebab, struktur itu bukanlah sesuatu yang statis, melainkan merupakan produk dari sejarah yan terus berlangsung, proses strukturisasi dan destrukturisasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat as…

Mengupas Makna Tadarus, Antologi Puisi “Tadarus” karya; Musthofa Bisri

Gus Mus—panggilan akrab A. Mustofa Bisri—menggubah puisi (baca; Al qur'an) menjadi puisi. Apa yang ada di dalam Al qur'an beliau terjemahkan lagi dalam puisi Indonesia. Meski hal ini tidak bisa menandingi, bahkan mustahil untuk menyamai isi dari alqur'an, tapi puisi yang digubah oleh Gus Mus sudah cukup menggerakkan seluruh bulu roma dan mengendorkan sendi-sendi tubuh. Tentu saja hal ini tidak lepas dari pandangan tentang proses kreatif yang dilakukan oleh Gus Mus.
Gus Mus yang tak pernah tamat atau lulus sekolah belajar kesenian dengan mengamati masa kecilnya. Jiwa pelukisnya tumbuh saat beliau teringat bahwa pada masa kecilnya beliau pernah memenangkan lomba menggambar dan warnai. Sejak saat itu, beliau sadar bahwa dalam dirinya ada bakat untuk melukis. Kemudian mulailah Gus Mus melukis hingga pada saat ini lukisan beliau sangat terkenal. Salah satu lukisannya yang hanya bertuliskan alif di atas kanvas terjual hingga puluhan juta rupih.
Untuk bakat menulisnya sendiri, be…

Satu Cinta Untuk Eva Dwi Kurniawan

1.Penyair Eva merupakan penyair yang sangat produktif. Dalam kurun waktu lima bulan, ia menyulap puisi-puisi itu dan jadilah antologi Swara Dewi yang berjumlah 64 judul. Angka genap yang terkesan ganjil, kenapa tidak dibulatkan menjadi 65 saja? Tentu ini memiliki alasan tertentu. Ia menuliskan puisinya dari bulan Januari hingga Mei 2012. Baru kali ini saya melihat ada penyair sedahsyat dan seproduktif ini. Mungkin hidupnya didedikasikan hanya untuk puisi. Dan dengan membaca antologi tersebut, kesan pertamanya adalah menulis puisi itu gampang. Antara kurun Januari hingga Mei saya kembali bertanya, di mana bulan april? Tak ada satu pun puisi yang ditulis bulan April masuk dalam antologi ini. Mungkin bulan April terlalu menyakitkan baginya? Mungkin ia pernah patah hati di bulan April. Tampaknya, Penyair Eva tidak menganggap bulan itu begitu penting, melainkan ia memilih puisi-puisi yang memiliki tema sama. Ini terlihat dari adanya puisi di bulan Desember 2012 yang diikutkan dalam antologi…