Langsung ke konten utama

Postingan

Ode Bagi yang Menodai Tubuhku

aku menyebutmu Pampa dataran rendah berumput tak berpohon yang tak mengijinkan matahari bergeliat di dadamu, membakar lagu-lagu tentang keberanian kuda-kuda meringkik di bukit-bukit menghanguskan perjanjian waktu mengutuki pejalan kaki dengan peluhnya. kau bakar dupa ditubuhmu, sebagai bumi yang menemani gelisah kematian lewat cangkir-cangkir kopi juga rapalan kata; mengadukan nasib yang tak pernah memberi upah dan selalu mengubah jalan pulang menuju sungai-sungai, tempat terindah pemandian peri. kaupun berkelok terpesona peri meliuk di tubuh sungai di getaran dawai kecipak air hingga waktu tunduk di kakimu lalu ketika matahari kau genggam aku tunduk di matamu tersingkap tubuhku laksa warna tak merah tapi di ranjangku, sepuluh ribu tetesan merah ngalir dari tubuh yang sunyi aku, sejuk di dadamu, pulas mendengkur. Djogjakarta, 2008.

Narasi di Redup Bulan

kenangan kita ranggas dari pohon yang mestinya semi daun-daunnya adalah lembaran kisah kita yang kecoklatan gugur di halaman perpustakaan ketika kita seka puisi dari halaman buku-buku meleleh ke jantung serupa kutukan jarum waktu semoga tak ada luka yang menggelapkan mata tak ada liku kabut jalan dan kita akan menuainya sebagai kenangan yang tak pernah keriput siapa yang guru, mengajari tentang lubang jalan, bau busuk, juga sesekali wangi kemenyan yang diramu dengan jamuan malam sebab kita sebenarnya adalah murid, memburu angin dari setiap mulut. akhirnya kita paham, bahwa daun mesti coklat dan jatuh waktu mesti menua murid mesti guru tapi kenangan akan memutih sebagai cahaya bukan uban yang membunuh usia sebab narasi tetaplah sebuah pintalan mimpi di redup bulan. Djogjakarta, 2008.

TARIAN KULIT HITAM

DISEBUAH RUANG TAMU YANG CUKUP BESAR. Karabo Nama majikanku adalah Nyanyo Plum. Ia suka sekali pada anjing dan orang afrika. Ah, satu hal lagi yang disukainya, ia sering sekali mengatakan bahwa semua orang harus mematuhi peraturan walaupun menyakitkan. Dan Ini adalah tiga hal besar dalam kehidupan Nyonya. Di sini aku bekerja, di Greenside, sebuah tempat yang tidak jauh dari pusat Johannesburg. Aku bekerja di sini setelah meninggalkan dua keluarga kulit putih. Keluarga kulit putih pertama tempatku bekerja sebagai juru masak dan tukang cuci adalah seorang pria dan istrinya di Parktown North. Mereka minum terlalu banyak dan selalu lupa membayarku. Setelah lima bulan aku bilang pada diriku sendiri: Tidak! Aku akan meninggalkan pemabuk-pemabuk ini. Jadi begitulah. Hari itu aku marah seperti besi panas merah dimasukkan ke dalam air. Di keluarga kedua aku adalah juru masak dan mencuci untuk lima anak yang dibesarkan dengan tidak baik. Ini di Belgravia. Seringkali mereka memanggilku Kau Gadis ...

PISPOT

PISPOT Geger Wong Ngoyak Jambret Adaptasi dari Cerpen Pispot Karya Hamsad Rangkuti BABAK I SUASANA RAMAI PASAR. BEGITULAH, KEGALAUAN BERCAMPUR MENJADI SATU. TAMPAK DI SANA-SINI TAWAR MENAWAR BARANG KEBUTUHAN. DI SAAT SEPERTI ITU, TIBA-TIBA SEORANG WANITA BERTERIAK. Yu Kesi : Oalah… Gusti, gusti! Celaka, aku! Celaka betul aku hari ini. Aduh mimpi apa aku semalam. Tolong….. copet…..!!! SERENTAK SEMUA YANG ADA DI PASAR ITU MENATAP WANITA YANG BERTERIAK DAN MENDEKATINYA. Kang Ustman : Lho Yu, kamu itu ada apa tho? Kok nderimil kaya orang edan saja. Yu Kesi : Kamu itu bisanya cuma nyacat orang saja. Tidak mau tahu perasaan orang lain! Kang Ustman : Lho… malah mutung kasarung, aku ini tanya’e? Yu Kesi : Tanya, tanya! Saya itu kemalingan, kecopetan! Lihat, Kalungku amblas! Lek Kardi : Ooo… jelasnya ada insident tho! Yu Kesi : Tolong kalung saya… Duh gusti… Aku ini punya salah apa? Lek Pur : Yu Kesi. Kamu tahu kemena perginya penjabret tadi? Yu Kesi ...