Langsung ke konten utama

Satu Jam. Martini dan Album Foto



I.

Satu jam.  Hanya sedikit waktu itulah yang diberikan kepada Martini, seorang gadis muda yang mengabdi kepada sepasang suami-istri sebagai pembantu. Suami-istri itu telah resmi dinyatakan cerai oleh pengadilan dan Martini sebagai pembantu setia mereka harus memilih salah satu di antara keduanya. Permasalahan bagi Martini adalah keduanya sama baiknya, bahkan Martini tak memiliki catatan buruk bagi keduanya.
Di sebuah desa terpencil di pinggiran pantai utara, Martini lahir sebagai gadis serba pas-pasan. Desa Martini melarat pendidikan, didominasi matrealistik agama yang fanatik, kecemburuan sosial yang terselubung memburu mereka mengenal hal-hal mistik dan perdukunan. Rasanya sulit untuk menggali sumber daya manusia yang cemerlang, sebab pada akhirnya motivator tersebut akan menjadi tumpuan yang tidak lepas dari caci maki. Banyak tetangganya mengadu nasib dengan hal-hal mistik, menjadi pertapa di sebuah gua, puasa berbulan-bulan, bahkan ada yang sampai mengorbankan anaknya untuk mencari pasugihan.
Jika tidak begitu, muda-mudi di desanya akan mengadu nasib di luar desa, ke kota bahkan ke luar negeri. Beberapa temannya telah merantau ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, bahkan Arab Saudi.
Hal ini tak asing bagi Martini. Hingga pada usianya yang mencapai angka dua puluh, Martini memutuskan hengkang dari desanya, mengabdi entah pada siapa dan jadi apa. Martini pasrah pada nasib.
“Seorang pemilik perusahan besar di Jakarta, membutuhkan seorang pembantu. Rumah dekat dengan tempat kerja saya. Jika kamu mau, kamu bisa berangkat bersama saya sehabis lebaran nanti, lebaran ke lima. Mereka orangnya baik. Kejadin-kejadian di televisi, seperti penyiksaan terhadap pembatu tidak akan terjadi jika kamu bekerja dengan orang itu. Saya yakin, Tin. Saya mengenal mereka betul-betul,” Kata seorang teman yang berkunjung ke rumahnya sewaktu lebaran.
“Jika kamu mau, nanti malam kita atur semuanya. Datanglah ke rumahku nanti malam.”
Selepas kepulangan temannya itu, kepala Martini tak pernah tenang, hatinya digoda kota Jakarta, Ibu Kota. Ia mempertimbangkan segala hal. Dari orangtua, kakak, dan adik-adiknya. Dalam hatinya, mungkin ini dapat membantu perekonomian keluarga tanpa harus memakai hal-hal mistik yang baginya lebih tidak masuk akal, mendapatkan sesuatu tanpa ada usaha riil. Martini lantas memantapkan dalam hatinya, “Ya!”
Sehabis maghrib, sepulang dari musholla, Martini mendatangi bapak-ibunya untuk mengutarakan maksudnya. Apa daya, orangtuanya memang tak mampu memberikan materi lebih kepadanya. Hanya restulah yang dapat mereka berikan untuk maksud baik anaknya itu. Bercucurlah air mata ibunya yang akan melepas anak perempuannya. Hanya pesan bapaknya, “Kamu bukan Malinkundang, Tin.” Pesan itupun menancap di ubun-ubun Martini.
Di usia yang ke dua puluh, Martini bukan lagi gadis ingusan. Ia sudah cukup dewasa memutuskan pilihan. Sebab itulah orangtuanya merestuinya menyerahkan diri pada nasib. Lalu jika sekarang ia disuruh memilih antara suami-istri, bukan karena ia telah dewasa dalam memilih, melainkan karena ia bekerja tanpa daftar hitam. Ia sendiri pun tak pernah mencatat daftar hitam bagi siapa pun, terlebih kedua majikannya itu dan seorang anak semata wayang mereka.
“Saya akan pergi dari rumah ini. Kami sepakat, bahwa tak ada yang perlu diperebutkan. Semuanya berhak memilih. Termasuk kamu,” majikan laki-laki memulai pembicaraan. Majikan laki-laki itu melarang Martini memanggilnya dengan panggilan “Tuan”, melainkan “Bapak”.
Hati Martini berdegup lebih dari biasanya. Mukanya merah. Seluruh tubuh ia rasakan gemetaran. Dihadapannya kini telah duduk kedua majikannya, dan anak semata wayang mereka duduk dikursi sebelah kanannya.
Sebagai pembantu, mungkin Martini yang paling beruntung. Memiliki majikan yang menghargainya penuh sebagai seorang manusia yang memiliki kemerdekaan atas diri sendiri. Namun di antara majikan dan pembantu itu, mereka tak pernah melanggar kewajiban masing-masing. Martini merasa sangat beruntung. Apalagi ia sering kali mendengar cerita teman-teman seprofesinya mengeluh tentang tindakan majikannya yang sering bertindak kasar. Tapi ia selalu menanggapi keluhan itu dengan kesabaran, “Mungkin karena tuanmu itu kecapaian memikirkan banyak hal…” atau “Mungkin kita harus lebih giat bekerja…” dan selalu diakhirinya dengan, “Berdoa saja, semoga semuanya akan baik-baik saja.”
Apa yang dirasakan oleh Martini, dirasakan pula oleh majikannya, “Kami merasa beruntung memiliki pembantu sepertimu. Kami tidak pernah memiliki catatan buruk dalam kerjamu. Kami menyayangimu bukan sebagai pembantu, melainkan sebagai anggota keluarga kami,”
Pipi Martini basah dengan air mata merasakan satu lagi kebaikan majikannya. Memang, dalam kehidupan sehari-hari, Martini dianggap sebagai anggota keluarga. Salah satu contoh ialah ketika sarapan dan jam makan malam tiba. Ketika makan malam, kedua suami-istri itu telah berada di rumah, menyempatkan berkumpul setelah seharian sibuk dengan berbagai macam urusan kantor.  Diajaknya Martini dalam satu meja makan merupakan satu kebahagiaan tersendiri baginya, Karena merasa disejajarkan dengan majikannya. Tapi Martini tak pernah melakoni istilah Jawa, diwehi ati njaluk rempelo. Justru ia semakin tunduk dengan cara Jawanya, sebagaimana orangtuanya di desa mengajarinya untuk sopan santun kepada siapa saja.
Air matanya semakin deras dan kesedihan yang dirasakannya semakin menyakitkan ketika majikan laki-laki mengatakan, “Pilihlah di antara kami.” Namun, Martini tak ingin kedua majikan dan anak semata wayang mereka menungu terlalu lama. Ia pun segera menjawab dengan sesenggukan.
“Maaf, Pak, Bu, juga Mas Fredy. Sulit bagi saya untuk memilih. Setahu saya, seperti yang terjadi pada Ani, pembantu seberang rumah, masalah seperti ini bukan pembantu yang memutuskan, tetapi majikannya. Jika tidak, akan melibatkan pengadilan dan wali hakim, seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Sulit bagi saya menjadi hakim atas pilihan sendiri.”
Martini memang penurut. Ia lebih suka dipilihkan daripada memilih, lebih suka menurut daripada menuntut.
Ia membuka-buka kenangan dalam memori di kepalanya, mencoba memilah antara yang buruk dan yang baik, antara majikan laki-laki dan majikan wanita, dari awal ia menginjakkan kaki di rumah ini sampai detik terakhir ini ia berhadapan dengan seluruh orang yang ada di rumah ini. Isi kepalanya diputar, diotak-atik secepat mungkin untuk memberikan pertimbangan bagi pilihan yang akan ia jatuhkan. Di antara kedua majikannya, ia tak ingin menjadi hakim bagi dirinya sendiri.
Keheningan di ruangan itu semakin terasa ketika sesenggukan Martini sebab menahan tangis sesekali keluar dari mulutnya. Hanya suara lirih pendingin ruangan terdengar di sudut ruang keluarga, menempel di tembok menghadap ke utara yang terus mengiringi perbincangan malam itu.
Siapa pula yang ingin berjauhan dengan orang yang disayangi, apalagi berpisah dalam waktu yang tak tentu. Paling tidak itu yang dirasakan Martini. Tak hanya sebagai majikan, ia pun telah menganggap kedua majikannya sebagai orangtuanya sendiri. Selain uang gaji yang diberikan majikan kepada Martini setiap bulannya, ia pun mendapat kasih sayang dari keduanya. Anak semata wayang mereka pun telah menganggapnya sebagai adik sendiri. Tak heran jika Martini tak ingin memilih keduanya dan membiarkan keduanya memilihnya. Terasa sakit bagi Martini untuk berpisah dengan salah satunya.
Tangan Martini mulai basah karena terlalu menggenggam. Sebuah genggaman menahan rasa sakit dalam hati. Kakinya terasa dingin oleh pendingin ruangan. Meskipun Martini sudah tiga hidup di dalam ruangan yang ber-AC, belum juga ia terbiasa. Pendingin ruangan di kamarnya pun lebih sering ia matikan karena tak tahan dingin. Sesekali tangan Martini menyentuh pipi, menyeka air mata terus menetes.
Siapa pula yang mau menjadi hakim bagi dirinya sendiri. Martini memang telah membayangkan malam ini akan terjadi, tapi tak pernah terbayangkan akan sesulit ini. Dalam pikirannya, ia akan menerima saja keputusan majikannya tanpa ada kata memilih. Inilah simalakama, katanya dalam hati.
Ini kali kedua dalam hidupnya untuk memutuskan pilihan. Yang pertama, ketika seorang laki-laki datang ke rumahnya memintanya untuk menjadi istri. Martini hanya menjawab, terserah bapak dan ibuku. Malam berikutnya datang pula laki-laki lain dengan permintaan yang sama. Jawaban yang muncul dari mulut Martini tak berbeda dengan jawaban yang pertama. Kedua orangtuanya bingung, kedua lelaki itu sama baiknya. Tak pantas bagi orangtua Martini mempertimbangkan kekayaan kedua lelaki itu, toh keluarga Martini sendiri jauh dari kehidupan sederhana. Lantas Martini disuruh memilih.
Lelaki pertama bernama Sabri. Santri dari Kyai Amin yang telah belasan tahun hidup di desanya. Pengetahuan agamanya tak ada yang meragukan. Bahkan, ia sering kali menjadi wakil Kyai Amin jika berhalangan. Keluarga Sabri Jauh diujung Sumatera. Sabri sendiri tak pernah pulang sejak ia memutuskan hengkang dari desanya yang penuh dengan perang saudara. Sabri datang ke desanya dibawa oleh Anak Kyai Amin bernama Qirom.
Lelaki kedua bernama Khilmi. Anak seorang nelayan cukup kaya di desanya. Khilmi anak yang santun, berbeda dengan anak muda seusianya di desa yang lebih suka hura-hura ketimbang ke masjid. Keduanya sama baik.
Malam berikutnya, orangtuanya menyuruh adiknya memanggil kedua lelaki itu ke rumah. Makanan ala kadarnya disediakan di atas lantai karena memang keluarga Martini tak memiliki meja makan. Bapak Martini membuka pembicaraan, mengungkapkan kebingungannya memilih di antara keduanya. Lalu mempersilahkan Martini bicara dan memilih. Namun, Martini memutuskan untuk tidak memilih.
Martini bukan gadis yang lugu sejak ia masih remaja, berumur belasan. Ia menjawab lamaran kedua lelaki baik itu dengan sangat halus dan baik pula. Ia tak bermaksud menyakiti keduanya, tapi dalam hatinya yang paling kecil, Martini memang belum ingin menikah. Bukan dengan cara begini untuk membantu perekonomian keluarga sebagaimana syang dikatakan kakaknya.
“Sebelumnya, tolong maafkan saya,” keheningan di ruangan itu membuat jantung kedua lelaki dihadapannya itu semakin sesak. “Saya merasa bukan siapa-siapa jika diberikan wewenang untuk memilih. Seharusnya ini menjadi keputusan Bapak dan Ibu, Bapak dan Ibulah yang memiliki saya. Tapi beliau berdua telah menyerahkan kembali kepada saya.
“Begini Kang Sabri dan Kang Khilmi. Memang, gadis seusia saya di desa ini sudah layak untuk menikah, itu sudah menjadi kebiasaan, saya tidak dapat memungkirinya. Bahkan, beberapa teman saya sudah menikah dan memiliki momongan. Tapi saya merasa belum siap lahir dan batin. Terlebih usia saya yang masih sangat muda bagi saya untuk menikah, sembilan belas tahun. Secara mental masih labil, masih suka marah, rewel dan manja. Saya khawatir dengan dirinya saya sendiri, jika nanti akan merepotkan suami saya. Maaf, saya tidak bermaksud menyakiti hati Kang Sabri dan Kang Khilmi, tapi saya merasa belum siap. Itu saja.”
Selesai Martini berbicara, ibunya langsung manariknya ke dapur, memarahinya. Tak pantas jika seorang perempuan menolak pinangan lelaki baik-baik seperti kedua lelaki yang telah berada di rumahnya itu. Tapi kata-kata terlanjur keluar, pantang bagi Martini menariknya kembali. Resiko itu sebuah pilihan, prinsipnya. Martini hanya menangis di dapur. Ibunya meninggalkannya sendirian. Setelah kejadian itu seisi keluarganya mendiamkannya untuk beberapa waktu. Ia sendiri menjadi pendiam dan sering mengurung diri. Keluar rumah hanya di suruh-suruh saja. Tapi diam-diam, Bapaknya yang memiliki rasa sangat sayang padanya, sering menasehatinya di malam-malam ketika anggota keluarga lainnya sudah terlelap dengan mimpinya masing-masing.
Kabar penolakan Martini terhadap kedua lelaki baik itu menjamur di seluruh desa paginya. Setiap orang membicarakannya, terlebih ibu-ibu. Untuk beberapa waktu keluarga Martini mengurung diri di rumah karena malu. Keluar rumah hanya seperlunya saja.
Tapi kali ini bukan memutuskan soal lelaki, bukan soal jodoh. Ini lebih soal emosi, soal kasih sayang. Siapa pula yang ingin kehilangan kasih sayang? Memilih berarti kehilangan. Bukan hanya kebingungan yang menyelimuti hatinya, namun juag rasa sedih karena harus memilih. Jika ada pilihan lain, ia akan memilih keduanya.
“Martini,” panggil Fredy.
“Ya, Mas.”
“Aku tahu, ini sulit bagimu. Tapi keputusan adalah jalan yang akan kamu pilih.  Apa kamu mau tidak punya jalan?” Martini hanya diam. “Begini saja Martini. Pa, Ma, beri Martini waktu untuk memilih saya tahu, Martini telah memikirkan hal ini jauh sebelumnya.”
“Tapi, Nak. Martini harus memutuskan malam ini.” Jawab Mamanya Fredy.
“Iya, Ma. Malam ini. Paling tidak, Martini membutuhkan kepala yang dingin untuk memilih. Biarkan Martini sendiri dulu di kamarnya. Berikan waktu satu jam untuk memilih. Dan kamu Martini, jangan takut. Papa dan Mama akan menghargai pilihanmu. Jika kamu merasa tidak nyaman dengan bicara, silahkan tuliskan saja. Sekarang, silahkan ke kamarmu. Pikirlah baik-baik. Ini juga untuk kebaikanmu sendiri.”
Martini gadis yang baik. Martini gadis yang penurut. Tak lama setelah menghapus air matanya, Martini segera beranjak dari tempat duduknya menuju kamarnya yang terletak di belakang dekat dapur. Selang beberapa waktu, Fredy menuju teras rumah dengan menahan kekesalannya, menyalakan sebatang rokok filter. Papanya menyusul kemudian meninggalkan mantan istrinya sendirian di ruang keluarga.
Malam terasa dingin. Angin kencang. Ini bukan musim penghujan, tapi mungkin akan sampai ke penghujan.


II.

Seperti biasa, Martini tak tahan dengan udara dingin. Tangannya segera meraih remote control yang terletak di meja riasnya dan segera mematikan pendingin ruangan yang membuat kamarnya semakin lembab. Martini hanya menyalakan pendingin ruangan jika ia di luar ruangan, sebab hanya pendingin ruangan itulah yang memiliki parfum segar sehingga membuatnya betah di kamar kemudian. Setelah mematikan pendingin ruangan itu, ia segera menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan menutup mukanya dengan bantal. Beberapa saat kemudian ia menyingkirkan bantal itu dari mukanya. Nafas berat keluar dari mulutnya dan nama Tuhan keluar begitu saja seperti sebuah kelatahan.
Martinilah satu-satuya penghuni rumah ini yang paling betah menunggu penghuni-penghuni lain pulang dan menyambutnya dengan jamuan yang membuat mereka nyaman, senyum manis, bahasa yang santun, dan ia tidak akan membiarkan majikan atau anak semata wayang mereka menenteng tas memasuki rumah.
Martini satu-satunya pembantu di rumah ini dan memang keluarga ini lebih mempercayakan rumahnya kepada satu orang pembantu. Pembantu-pembantu lainnya sebelum Martini biasanya tidak kuat mengurus rumah sebesar itu dan selalu mengadu dan meminta untuk dicarikan teman. Tapi lain bagi Martini. Ada teman atau tidak, baginya sama saja. Ia sudah terbiasa dengan bekerja keras. Bapak dan ibunya di desa mengajarinya untuk menekuni apa yang sedang dikerjakan tanpa mengeluh.
Martini bangun subuh hari setiap harinya. Segera mandi dan mulai menyiapkan sarapan. Jika sang majikan tidak memesan masakan, Martini biasanya akan memasak masakan dari desanya. Itu ia lakukan untuk mengingat ibunya. Di rumah, jika ia memasak dengan ibunya, tak sekalipun ibunya bisa diam. Saat masak bersama itulah, sang ibu akan selalu menceritakan keadaan keluarganya sampai hal yang terkecil. Selesai memasak dan menyiapkan makanan di meja makan, ia akan segera menyapu seluruh isi rumah dan menyiram tanaman. Tapi biasanya Martini akan menghentikan pekerjaan itu sejenak karena sang majikan memanggilnya untuk sarapan bersama dan Martini tak pernah menolak ajakan itu.
Mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, ia tekuni dengan teliti dan kesabarannya. Sebagai perempuan Jawa, ia sadar betul dengan kejawannya. Memang itulah yang diajarkan oleh bapaknya, nerimo ing pandum. Menerima apa saja yang terjadi pada dirinya tanpa ada upaya untuk mengingkarinya.
Ia Mengulang-ulang pekerjaan yang sama setiap hari dan tak pernah merasa bosan. Inilah tanggung jawab, batinnya suatu ketika. Ia tak akan bisa memaafkan dirinya jika tugasnya alpa barang sedikit pun. Pekerjaan rumah akan selesai sekitar pukul sebelas. Jika hari Minggu atau sang majikan atau anak semata wayang mereka meminta untuk memasak makan siang, ia akan melanjutkan memasak. Selain hari Minggu, dan itu pun sangat jarang, Martini tak perlu memasak makan siang. Majikan dan anak semata wayang mereka tak pernah ada di rumah di siang hari. Biasanya waktu senggang ini dimanfaatkan oleh Martini untuk tidur atau berkunjung ke rumah sebelah, tempat teman kecilnya yang berjasa membawanya ke rumah majikannya.
Kali ini Martini merasa sendirian. Keluarga majikan yang telah dianggapnya sebagai keluarganya sendiri, terasa jauh. Ia harus memutuskan ini sendirian, tanpa pertimbangan di luar dirinya. Satu persatu setiap kenangan dari awal ia menginjakkan kaki di rumah ini, kembali ia buka. Pelan-pelan ia telusuri setiap kenangan. Bukan untuk mencari kesalahan mana yang lebih banyak diperbuat oleh majikannya terhadap dirinya, toh akhirnya ia akan mengatakan bahwa majikannya tak pernah melakukan kesalahan terhadap dirirnya. Ia menelusuri setiap kenangan untuk melihat kembali, lebih banyak mana ia melakukan kesalahan terhadap kedua majikannya itu.
Selama tiga tahun bekerja di rumah ini, Martini memang menemukan banyak kesalahan tapi majikannya tak pernah menganggap kesalahan yang dilakukannya sebagai suatu kesalahan karena sang majikan memaklumi kesulitan mengurus rumah sebesar ini sendirian. Toh, kesalahan yang dilakukannya itu pada masa awal-awal ketika ia membutuhkan adaptasi dengan rumah yang besar dan alat-alat rumah tangga yang relatif baru baginya.
“Tuhan. Tunjukkan pilihan ke tiga-Mu.” Desah Martini.
Martini terjebak dalam kebingungan. Pikirannya tak bisa memilih dan memilah sebab ia tak memiliki daftar hitam bagi kedua majikannya itu. Keduanya sama baik. Martini sendiri bingung kenapa majikannya begitu baik terhadapnya. Bahkan kata teman kecilnya yang telah membawanya ke rumah ini, Martini merupakan pembantu yang paling beruntung se-komplek perumahan itu, bahkan se-Jakarta sekali pun. Sudah sejak lama ia sendiri mencari sebab kenapa sang majikan begitu baik padanya. Serajin ia mencari, jawaban tak pernah singgah di kepalanya. Ia lantas membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu membeku dan mati dalam pikirannya. Tapi sekarang, pertanyaan itu muncul kembali. Muncul di sela-sela udara dingin dari sisa-sisa pendingin ruangan yang telah dimatikannya beberapa waktu lalu. Udara dingin seperti merangsang sistem kerja otak kanan. Muncul secara perlahan, menyentuh bagian-bagian tubuh dan masuk ke dalam tulang-tulang. Pertanyaan itu lebih dingin dari udara di kamarnya. Otaknya menggigil. Tapi Martini mencoba tabah. Menahan air mata.
Ini kali memang harus diputuskan, pikirnya. Tapi bagaimana aku memutuskan? Sedang untuk memilih saja, aku tak punya pertimbangan.
Tidak hanya malam itu. Sebenarnya Martini telah memikirkannya jauh sebelumnya, beberapa bulan sebelum malam ini tiba. Tak disangkanya malam ini akan begitu sulit. Ia pikir, jika saat itu tiba ia hanya akan menerima keputusan, akan melanjutkan bekerja pada siapa atau, hal yang paling buruk dalam bayangannya adalah, tak bekerja pada keduanya.
Martini memang telah merasakan ketidaknyamanan hubungan anggota keluarga majikannya sejak beberapa bulan yang lalu. Di suatu malam, saat Martini terlelap tidur, di dapur yang memang tak jauh dari kamarnya, perlahan ia dibangunkan oleh suara isak tangis seorang perempuan. Mulanya ia mengira itu hanya suara makhluk halus yang mencoba mengganggunya. Lantas ia tidur kembali. Tapi suara tangis itu tak juga berhenti dan sangat mengganggunya. Ia pun berniat melihat siapa pemilik suara tangis itu. Ia mulai bangun tapi masih di tempat tidur. Sedikit keraguan muncul dalam hatinya.
Apakah benar itu suara tangis manusia? Lalu siapa yang menangis. Di rumah besar itu hanya Martini dan majikan perempuannya yang berjenis kelamin perempuan yang mungkin memiliki tangis seperti suara tangis itu. Apakah itu suara tangis Ibu? Ah, mana mungkin, batinnya. Ibu tak pernah menangis. Apalagi di tengah malam seperti ini. Kalau toh benar Ibu menangis, tentu ia akan menangis di kamarnya. Terus menerus tangis itu mengganggunya, keraguan untuk menghampirinya pun tak mau hilang. Jangan-jangan itu hanya makhluk halus, pikirnya.
Tiba-tiba Martini yakin, bahwa itu adalah suara manusia. Ia lantas mendekatkan telinga ke daun pintu, mencoba menerka-nerka suara tangis siapakah itu. Ia yakin bahwa itu suara tangis majikannya. Tapi ia masih merasa tak percaya. Ia dekatkan lagi telinganya ke daun pintu, lebih dekat dan lekat, lebih seksama mendengarkan dan menyelidik. Betul, batinnya. Itu suara Ibu.
Keraguan tentang pemilik suara itu telah hilang, namun meuncul keraguan lain lagi. Apakah ia harus menghampirinya majikan perempuannya itu? Ia justru khawatir jika ia menghampirinya, sang majikan perempuannya itu akan merasa terganggu. Ada dua pilihan bagi orang yang sedang sedih, minta ditemani atau ingin sendirian.
“Jika ingin Ibu ingin ditemani, tentu ia akan menangis di kamar dan meminta suaminya untuk mendengarkan keluhannya. Barang kali Ibu memang tidak ingin ditemani.” Pikir Martini.
Martini lantas melangkah kembali ke tempat tidurnya. Ia yakin sekali dengan pikirannya itu. Ia rebahkan tubuhnya di atas kasur dan menarik selimut yang tadi telah disingkapnya.
Di atas kasur, Martini belum lagi dapat memejamkan mata. Ia masih memikirkan majikan perempuannya. Masalah apa yang telah melandanya sehingga ia harus menangis seperti itu. Masalah terbesar dalam keluarga yang yang pernah Martini ketahui adalah ketika Fredy, anak semata wayang majikannya, tertangkap polisi karena dituduh menjadi provokator dalam suatu demonstrasi di Bandung. Jika masalah ini berhubungan dengan Fredy, tentu majikan perempuannya itu tak akan menengis sendiri dan di dapur, tentu suaminya akan menemani dan mencoba menenangkan.
“Atau, jangan-jangan Ibu ribut sama Bapak? Ah, mereka tak pernah ada masalah besar. Paling-paling juga masalah kecil, masalah ranjang, dan biasanya akan segera selesai dalam satu malam.”
Martini meyakinkan dirinya bahwa di antara majikannya tak ada masalah besar yang bisa mengganggu ketentraman keluarga ini. Martini pun mencoba tidur kembali. Ia pejamkan mata.
Semakin Martini mencoba memejamkan mata, semakin kuat suara tangis itu mengusiknya. Martini bukan orang yang tega melihat orang lain menangis atau pun menderita sebab ia telah merasakan penderitaan hidup di bawah garis kemiskinan bersama keluarganya di desa. Ia tak ingin siapapun mengalami hal sama dengan yang dialaminya. Apalagi saat ini yang menangis adalah majikan perempuannya. Seorang perempuan yang telah dianggap sebagai ibunya sendiri. Seorang perempuan yang telah memberikan kasih sayang dan menganggapnya sebagai anak sendiri. Martini tidak tega.
Martini duduk di atas kasurnya. Menimbang-nimbang apakah ia akan menghampirinya majikan perempuannya dan menanyakan masalah apa yang sedang dialaminya. Ia mencoba mencari alasan yang kuat untuk menghampiri majikan perempuannya itu. Ia sadar posisinya bukan siapa-siapa di keluarga ini, hanya pembantu rumah tangga. Dianggapnya ia sebagai anak sendiri tidak membuat Martini melonjak seenaknya. Ia tetap menyadari posisinya.
“Pantaskah seorang pembantu menanyakan masalah yang sedang dihadapi majikannya? Sopankah?” pertanyaan itu membuat Martini terjebak dalam keraguan. Jiwa Jawa-nyalah yang sering membuat ia ragu dan sungkan dalam berhadapan dengan orang-orang, terutama para pemilik rumah ini. Unggah-ungguh, sopan santun masih ia pegang dengan kuat.
Akhirnya Martini sampai pada kesimpulan bahwa siapa pun orangnya, jika sampai pada kondisi kepepet atau terjepit pasti akan memerlukan kehadiran orang lain. Ia pun lantas melangkah pelan-pelan. Suara sandalnya sengara ia keraskan agar majikan perempuannya tahu kalau ada yang menghampiri. Ia lihat lampu dapur menyala dengan terang. Ia semakin mantap untuk menghampiri majikan perempuanya itu.
Sesampainya ia di dapur. Ia melihat majikan perempuannya duduk sambil sesenggukan di atas kursi. Tangannya memegang sapu tangan, separuhnya telah basah oleh air mata. Beberapa kali majikan perempuannya itu menyapu air matanya dengan sapu tangan, mencoba menyembunyikan dari Martini. Jelaslah, bahwa masalah yang dihadapi majikan perempuannya bukan lagi masalah yang kecil. Itu terlihat dari tangisnya. Matanya merah, tak pernah semerah itu sebelumnya, dan sembab seperti telah menangis selama sehari semalam.
Sejenak keduanya hanya saling berpandangan tanpa bergerak. Martini kembali ragu untuk menghampiri majikan perempuannya lebih dekat. Ia lebih memilih menunggu tindakan majikannya lalu ia akan segera merespon. Sementara sang majikan menunggu Martini mendatanginya. Sepertinya sang majikan perempuan sangat ingin memeluk Martini. Bukan Martini yang dibutuhkan sebenarnya, tapi lebih tepatnya seseorang, seseorang untuk dipeluknya, untuk menumpahkan rasa sedihnya.
Sang majikan perempuan lantas mengulurkan kedua tangannya tanda ingin dipeluk. Ia mengulurkan kedua tangganya tapi masih tetap duduk di kursinya, seperti seorang ibu yang memangil anaknya untuk dipeluk. Tapi uluran kedua tangannya itu lebih mirip seperti seorang anak yang menunggu ibunya datang untuk menggendongnya. Martini pun tahu maksudnya, segera ia meresponnya. Martini melangkah menghampiri majikan perempuannya dan membungkuk untuk memeluknya.
Majikan perempuan memeluk Martini dengan sangat erat, seperti ingin menumpahkan segala bebannya kepada Martini. Air matanya terus mengalir dan sesenggukannya semakins keras, seolah seorang anak dipelukan ibunya. Martini pun meneteskan air matanya. Bukan karena masalah yang dihadapi majikan perempuannya itu, melainkan lebih kepada pelukannya. Bagi Martini, pelukan majikan perempuannya itu lebih seperti pelukan ibunya. Telah lama ia tak memeluk ibunya. Ia rindu.
Martini merasakan bahunya basah oleh air mata. Tapi ia membiarkan saja. Toh ini tidak sering terjadi. Pelukan itu sangat erat. Dari kejauhan mereka lebih seperti seorang pasangan yang sedang kasmaran dan bertemu dalam rindu yang sangat dalam. Cukup lama mereka berpelukan, tapi sang majikan perempuan belum juga mau melepaskannya.
“Maaf mengganggumu, Tin,” kata majikan perempuannya.
“Tidak apa-apa, Bu.” Jawab Martini.
“Tadinya,” kata majikan perempuannya lagi sambil sesenggukan. “Ibu ingin mengetuk kamarmu. Tapi sepertinya kamu sudah tertidur lelap. Jadi Ibu urungkan. Ibu tidak kuat menahan ini.”
Pelukan sang majikan perempuan perlahan mengendur dan Martini pun mencoba melepaskan. Setelah pelukan mereka lepas, Martini melihat ke sisi dapur mencari kursi yang lain untuk didudukinya. Ia pun menemukan kursi yang dimaksudnya. Segera ia mengambilnya dan duduk di sebelah majikan perempuannya. Ia pun mulai bertanya-tanya. Rasa ragu dan sungkan telah hilang kini.
“Jika boleh tahu, Ibu tidak kuat menahan apa?” tanya Martini memulai pertanyaannya.
Hanya suara sesenggukan yang Martini dengan dari mulut majikan perempuannya. Terlihat beberapa kali sapu tangan mengeringkan air matanya dan mencoba menenangkan dirinya.
“Bapak, Tin.” Jawab sang majikan perempuan.
“Kenapa dengan Bapak, Bu?”
“Kamu kan tahu, akhir-akhir ini Bapak jadi sangat jarang pulang rumah. Ternyata Bapak punya wanita lain.”
Mungkin ekspresi Martini saat mendengarnya sama seperti majikan perempuannya itu. Martini kaget. Sesaat nafasnya tertahan. Ia tak percaya majikan laki-lakinya melakukan itu. Sepanjang pengetahuan Martini, majikan laki-lakinya adalah laki-laki yang baik dan penuh tanggung jawab. Jadi wajar saja, Martini merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Aku pun sama dengan kamu, Tin, tidak percaya. Tapi itu keluar sendiri dari mulut Bapak.” Kata majikan perempuannya lebih lanjut.
Martini masih tercengang dalam ketidakpercayaannya. Seorang laki-laki yang selama ini dianggapnya sebagai bapaknya sendiri telah melakukan hal yang baginya menjijikkan.
“Dan yang lebih menyakitkan lagi, Bapak minta cerai.”
Belum selesai Martini dengan ketidakpercayaannya bahwa majikan laki-lakinya selingkuh, sekarang ditambah lagi dengan permintaan cerai dari majikan laki-lakinya. Martini mulai merasa tidak menyukai majikan laki-lakinya. Selama ia bekerja di rumah besar ini, seratus persen Martini mempercayai bahwa keluarga ini keluarga baik-baik. Tapi kenyataannya sekarang?
Tapi Martini masih memiliki akal sehat. Lima puluh persen ia percaya dengan kabar yang baru saja diterimanya. Lima puluh persen lagi Martini yakin bahwa majikan laki-lakinya melakukan itu karena memiliki alasan yang kuat karena dalam pikirannya, itu bukan tindakan orang yang berpendidikan, bukan tindakan orang terhormat, bukan tindakan majikan laki-lakinya, bukan tindakan seorang Andi Kolle Reso Putra, laki-laki yang sudah dianggapnya sebagai bapaknya sendiri.
Majikan laki-lakinya bilang pada Martini, kalau dia jarang pulang karena sedang banyak proyek yang harus diselesaikan dan sering ada meeting di malam hari. Bahkan beberapa kali sang majikan laki-laki mengatakan keluar kota atau keluar negeri. Martini pun tak pernah menaruh curiga.
Ia hanya diam. Sementara majikan perempuannya sibuk dengan sesenggukannya. Ia tak sepenuhnya menyalahkan majikan laki-lakinya. Majikan perempuannya juga sering keluar rumah jika suaminya tidak ada di rumah, dengan alasan ada berbagai macam acara dengan teman-temannya. Bahkan, pernah sampai menginap. Tapi Martini yakin, sebagaimana yang dikatakan teman-teman seprofesinya, majikan perempuan mereka sering keluar rumah untuk arisan dan hura-hura bersama teman-temannya.
Bukan suatu hal yang mustahil jika majikan perempuannya juga melakukan perselingkuhan. Jika keduanya saling melakukan seharusnya tak mereka tak saling meributkannya mengingat anak mereka, yang hanya semata wayang. Ini tentu akan menyakiti hati anaknya. Tapi jika sang suami telah menyatakan dengan terang-terangan bahwa dirinya memiliki wanita lain dan menyatakan cerai, tentu ini ada sebab yang kuat.
Sejak malam itulah, majikan perempuannya lebih sering mengurung diri dan kalau ia ingin berbincang, Martinilah sebagai tempat curhatnya. Ia tak mempercayakan hal ini kepada orang lain, kecuali Fredy, anak semata wayangnya. Meskipun Martini sendiri lebih sering diam dan tidak memberikan masukan ketika segala permasalahan majikan perempuannya tumpah di atas pangkuannya.
Sejak malam itulah, Fredy lebih sering berada di rumah. Jika sebulan sekali ia pulang, sejak malam itu, menjadi lebih sering, satu atau dua minggu sekali. Ia pun menghilangkan kebiasaannya yang sering ngeluyur bersama teman-temannya. Ia lebih sering mengundang teman-temannya ke rumah, mungkin ia tidak ingin membiarkan ibunya sendirian. Tentu saja Martini menjadi lebih sibuk. Martini lebih sering membersihkan rumah dan jatah masak juga semakin banyak. Tapi Martini menjalaninya dengan ikhlas.
Sejak malam itulah, majikan laki-laki tak pernah ada di rumah. Tentu saja selalu berada di rumah wanita barunya. Bukankah barang baru selalu menarik?
Sejak malam itulah, Martini selalu memikirkan keluarga ini. Ia sendiri tidak menginginkan keluarga ini berantakan. Dalam hatinya paling kecil, ia menangis, keluarga ini juga keluargaku, katanya dalam hati. Hingga sidang perceraian tiba, Martini terus memikirkannya. Ini juga penting baginya. Apakah nanti ia akan bekerja dengan majikan laki-laki, majikan perempuan, atau kemungkinan paling buruknya adalah tak bekerja pada keduanya.
Tapi beban pula baginya tak bekerja pada keduanya. Jika bekerja dengan majikan yang lain belum tentu ia akan mendapatkan hal yang serupa ia dapatkan dari majikannya sekarang ini. Atau akan kembali ke desanya? Bukan bermaksud menjadi Malin Kundang, tapi pulang ke desanya berarti dia harus menyiapkan diri untuk dipinang.
Dari semua kemungkinan dalam pikirannya, tak ada satu pun yang dipilihnya. Semua terlalu beresiko. Martini berfikir lagi. Dahinya mengerut. Barangkali tak ada kasus yang menyamai kasusnya ini. Beberapa teman-temannya seprofesinya yang bekerja di kompleknya, jika ada majikan yang cerai, pembantu dibiarkannya begitu saja. Bahkan beberapa malah disuruh ke kampungnya dan diberi pesangon secukupnya.
Ia pun lantas ingat ketika di persidangan. Bahwa semua yang dimiliki soleh kedua suami-istri, jika terjadi sengketa maka bisa disidangkan agar menemui jalan tengah. Waktu itu, Fredy yang mau disidangkan, tapi Fredy menolak dengan alasan dirinya sudah dewasa dan sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk sekaligus memilih.
Ya. Lebih baik mengajukan untuk disidangkan saja. Pikirnya. Ini akan lebih aman bagi Martini karena tidak memilih sendiri. Lebih baik ada hakim yang menghakimi diri sendiri daripada menghakimi diri sendiri. Persoalan dana untuk mengurus persidangan, akan ia ambilkan dari tabungannya selama ini.
Akhirnya Martini sampai pada keputusannya, pengadilan. Ia lantas menyusun bahasa yang halus untuk kemudian disampaikan kepada majikannya. Ia melakukan ini agar dalam penyampaian maksudnya nanti tidak menyinggung sang majikan.


III.

Udara malam yang dingin. Menghamburkan apa saja yang mencoba menghalanginya. Debu-debu berhamburan tanpa dapat dilihat mata manusia. Sampailah debu-debu itu ke teras sebuah rumah mewah di salah satu komplek perumahan mewah di Jakarta. Terlihat di sana, seorang papa dan anaknya sedang duduk bersebelahan. Di tengah-tengah mereka dipisahkan oleh sebuah meja bundar.
Sang anak menghisap rokonya dengan sangat dalam, menahan beban berat, lantas mengeluarkannya bersama hembusan asap nikotin. Tak mudah baginya menghadapi masalah ini. Ia hanya khawatir pada dirinya sendiri jika tak kuat menahan beban ini. Ia akan memiliki papa dan mama tiri. Dan yang lebih mengkhawatirkan adalah seperti yang terjadi pada teman-temannya yang brooken home. Banyak dari mereka yang menggunakan minum-minuman keras sebagai pelarian. Meski ia sendiri pernah minum-minum keras dengan kadar yang sangat minim bukan berarti dia akan lepas dari minuman keras jika suatu ketika ia akan stress menghadapi masalah keluarganya yang sudah menjadi dua belah durian. Selain minuman, teman-temannya juga foya-foya dengan berganti-ganti pasangan. Ia tak ingin munafik pada dirinya sendiri. Hal itu mungkin saja terjadi pada dirinya.
Telah habis sebatang rokok, tapi keduanya tetap diam dengan dirinya masing-masing. Sang Papa merasa bersalah pada anaknya. Wajar saja, karena ia anak semata wayang. Tak pernah sekalipun sang Papa menolak permintaan anak, dalam hal apapun. Segala fasilitas untuk hidup dan kuliah di Bandung disediakan. Bahkan pernah sang Papa menawari rumah dan seorang pembantu, tapi sang anak menolak. Kapan mandirinya, Pa? Jawab sang anak ketika itu. Sang Papa pun tak banyak berkomentar lagi.
Rasa bersalah itu larut dalam hati sang Papa. Menggumpal. Menyesal. Tak pernah ada dibenaknya hal ini akan terjadi pada keluarganya. Ketika masih kuliah dulu, ia termasuk aktivis yang banyak menolak tentang kekerasan dalam rumah tangga, termasuk perceraian. Baginya dulu, perceraian bukan menyelesaikan masalah yang menemui buntu, melainkan hanya akan menambah masalah baru. Pembagian harta, anak, perwalian dan warisan merupakan serentetan masalah yang menyertainya. Apa yang ditentangnya justru kembali pada dirinya sendiri. Tapi tak sepenuhnya kesalahan ada pada dirinya.
“Pa,” kata Fredy.
“Tentu. Tentu Fredy sangat kesal. Papa minta maaf.”
“Tentu ini tak akan terjadi jika Papa tak melakukannya.”
“Melakukannya? Maksud Fredy?”
“Papa! Dalam keadaan begini Papa masih mau mengelak?”
“Maksud Fredy apa? Papa pergi dengan perempuan lain begitu?”
“Apa lagi? Dan tak ada gunanya lagi kata maaf.”
“Fredy, rupanya kamu hanya mendengar separuh dari masalah ini.”
“Papa jangan menganggapku anak kecil. Aku sudah dewasa, Pa. Sudah bisa membedakan baik buruk.”
“Bukan itu maksud Papa.”
“Lalu apa?”
“Papa tak akan melakukannya jika tak ada yang mulai.”
“Apa?”
“Papa tak akan melakukannya jika tak ada yang mulai.” Kata sang Papa mengulangi.
“Maksud Papa, Mama juga melakukannya dan itu lebih dulu dari Papa sehingga papa melakukan ini?”
“Martini saksinya. Martini tidak pernah cerita pada siapapun tentang kegiatan Mama jika Papa tidak di rumah. Pada Papa pun Martini tidak cerita. Papa justru mengetahuinya dari kolega Papa. Betapa malunya Papa. Fredy tentu tahu dan paham kedudukan Papa di kantor. Ketika itu Papa memang sedang tidak di rumah karena harus bertugas di luar kota bersama Pak Apri. Papa tidak tahu yang terjadi di rumah. Beberapa hari kemudian, salah seorang teman Papa meledek karena melihat Mama di sebuah hotel dan dikiranya bersama Papa sehingga teman Papa itu urung untuk menyapa. Khawatir mengganggu orang pacaran, katanya. Papa yang tak merasa apapun menjadi terheran-heran. Lalu Papa jelaskan padanya kalau waktu itu Papa sedang di luar kota. Sejak saat itulah Papa mulai terganggu.
Awalnya Mama tidak mau mengaku tapi ketika Papa terus mendesaknya, Mama mulai mengakui. Papa pun tidak percaya begitu saja meski itu Mama yang mengakuinya sendiri. Papa mencoba bertanya sama Martini. Ia hanya mengatakan kalau Mama memang sering pergi-pergi jika Papa sedang tidak di rumah tapi Martini tidak tahu ke mana perginya.”
Sang anak tercengang mendengar pengakuan Papanya. Kepalanya pun penuh dengan kecurigaan-kecurigaan. Jangan-jangan apa yang dilakukan Mamanya lebih dari itu. Sejauh manapun kecurigaan itu, ia mencoba menepiskan. Mamanya memang tidak pernah cerita tentang hal yang satu ini. Tentu saja sang Mama akan menutupi kesalahannya untuk mendapatkan pembelaan dan pembenaran atas dirinya. Bukankah setiap orang hidup dengan pembenarannya masing-masing, Batinnya.
Entah kepada siapa sekarang kepalanya berpihak. Semuanya menjadi seakan-akan tidak penting dan semakin buruk. Ia merasa dirinya berada di tengah-tengah laut, seorang diri. Bingung ke mana arah angin melaju. Sementara ombak mengombang-ambing kapalnya. Jika tidak segera menepi, ia bersama kapalnya akan ditelan laut.
Meski begitu, ia tak sepenuhnya menyalahkan Papa dan Mamanya. Mungkin ada berbagai alasan yang dapat menjelaskan hal itu. Ia yakin bahwa tak segampang itu orang akan memutuskan untuk selingkuh, apalagi mereka telah menjalani masa pernikahan selama hampir dua puluh lima tahun. Sakit bagi sang anak, tentu hal ini sakit pula bagi kedua orangtuanya.
Tak disangkanya, orangtuanya yang selama ini ia sayangi dengan setulus hati, berbuat hal bertentangan dengan nuraninya. Di kampusnya, ia merupakan sekelompok mahasiswa aktivis yang menolak kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, poligami, poliandri, pernikahan dini, dan semacamnya. Tentu saja ia melakukan demikian karena sebelumnya ia begitu banyak mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya, meski lebih banyak berbau materi, ia cukup mensyukurinya.
Bagaimana pun ia mencoba memahami orangtuanya yang sibuk dengan berbagai hal. Sang Mama, meski tidak bekerja sesibuk papanya, menurut cerita Mamanya, ia mempunyai seabrek kegiatan yang cukup membuatnya sibuk dengan berbagai hal karena menjadi anggota dalam sebuah lembaga swadaya masyarakat. Sehingga wajar saja jika kedua orantuanya hanya mampu memberikan kasih sayang lewat materi. Lagipula jarak mereka berjauhan, Jakarta-Bandung.
Awalnya, ia, sang anak, berfikiran positif. Namun setelah kejadian ini dan mendengar penjelasan dari Papanya, pikiran-pikiran buruk menyeruak ke dalam kepalanya. Ia menjadi tidak percaya kepada kedua orangtuanya. Keduanya sama-sama mengkhianati satu sama lain, juga mengkhianati anaknya. Inikah cara kaum intelektual menuangkan emosinya?
Sang Papa sudah tak bisa diragukan lagi, pendidikan sampai S3 dan ditempuhnya di Australi, sedangkan sang Mama, meski tak setinggi Papanya, cukup banyak mengenyam pendidikan. Sang Mama menamatkan S1-nya di sebuah universitas ternama di Jakarta. Keduanya bertemu dalam sebuah seminar politik.
Saat itu, sang Papa baru saja menyelesaikan studi S3-nya dan pulang ke Indonesia. Dalam seminar itu ia menjadi pembicara. Dan sang Mama mahasiswi tingkat yang akan dan dalam penyusunan skripsi. Ia mengikuti seminar sebagai bahan penyusunan skripsi. Merasa tidak puas dengan hasil seminar, sang Mama lantas menemui pembicara yang tak lain adalah sang Papa. Dari perkenalan singkat itu, mereka lantas saling berhubungan hingga skripsi sang Mama rampung. Begitu sang Mama selesai studi, sang Papa lalu meminangnya.
Sang Mama lebih memilih karirnya untuk bergabung dengan LSM daripada menjadi bagian partai politik seperti Papanya. Sang Papa sudah melarang sebenarnya, tapi tekat keras dari sang Mama mampu meluluhkan hati sang Papa. Selain kegiatannya yang tidak jelas, paling tidak ini menurut Papanya, gajinya juga tidak seberapa. Kedua berkiprah di jalan yang beda.
Awal pernikahan begitu indah, keduanya tak ingin melewatkan sehari tanpa sarapan dan makan malam bersama. Tiap malam dihidupkan dengan berbagai kejutan dan kebehagiaan yang belum pernah diperoleh sebelumnya. Pendeknya, tiap malam, dunia ini milik mereka.
Meski begitu, tak selamanya hal baik akan diakhiri hal baik pula. Sesuatu yang sebaliknya justru terjadi dalam keluarga mereka. Tak seorang menginginkan hal buruk. Namun orang tak merasakan hal buruk kecuali dari dirinya sendiri. Dan yang paling menyakitkan adalah bertanggungjawab atas hal buruk yang menimpa. Terlebih lagi, darah daging mereka terkena getahnya. Getah yang begitu pekat dan kental.
Tak perlu bagi sang anak untuk kemudian mengorek-orek kesalahan kedua orangtuanya. Yang terjadi harus terjadi, resiko harus dihadapi. Paling tidak itulah yang menjadi prinsipnya untuk bertahan hidup dan menyingkirkan segala ideologi-ideologi yang menyerangnya.
Jika kedua orangtuanya tak dapat dipercayainya lagi, kepada siapa hati akan beradu? Keluarga dari orangtuanya cukup jauh. Sang Papa dari Surabaya dan Mama dari Semarang. Di Jakarta dan Bandung mereka tak memiliki ikatan famili dengan siapapun. Satu-satunya yang paling dekat dengannya adalah Martini, seorang pembantu dari desa.
Sang anak menyingkirkan hal-hal buruk yang terjadi pada keluarganya. Ia hanya dapat mengambil pelajaran dari kejadian ini. Toh ia sendiri mesti menyusun keluarga di atas kakinya sendiri. Dalam hatinya ia bersumpah bahwa apa yang terjadi pada keluarganya saat ini tak akan terjadi dalam keluarganya nanti. Ini bukan sikap kaum intelektual. Ini lebih seperti sikap kaum primitif.
Dalam pikirannya, kini Martini yang singgah. Siapa yang akan dipilih Martini sebagai tempat bekerja atau dengan bahasa Martini “mengabdi”. Kemungkinan terburuk adalah Martini merasa bosan dan tak ingin memilih di antara keduanya. Kehilangan Martini, baginya adalah kehilangan panutan. Diam-diam, sang anak banyak mempelajari sikap sang pembantu. Sikap seorang Jawa. Meski hal ini tidak pernah diungkapkan pada Martini, bukan sebab ia malu belajar sari seorang pembantu melainkan lebih bahwa Martini akan merasa sungkan dan risih jika gerak-geriknya dipelajari dan ditiru.
Di tengah kebisingan metropolitan dan dunia modern, sang anak rupanya rindu pada hal-hal tradisional dan mendasar. Teman-temannya di kampus yang berasal dari Jawa telah kehilangan kejawaannya. Begitu orang turun di kota metropolitan, dengan cepat ia akan berubah dan mengikuti gaya hidup metropolitan dan modern.
Dari Martinilah sang anak belajar sabar, menerima, dan bersyukur. Pengetahuan agamanya sangat minim sehingga ia dapat menerima begitu saja ajaran-jaran Jawa yang paling mendasar, yang baginya juga tidak bertentangan dengan norma dan ajaran agama. Selama itu tidak terjadi, sang anak akan mudah menerimanya. Ia juga bukan ahli ibadah, bahkan jika dihitung-hitung, ia lebih sering absen ibadah daripada melakukannya.
Sejak kecil, sang anak memang jarang sekali bersentuhan dengan agama. Kedua orantuanya lebih berorientasi pada ilmu-ilmu pengetahuan yang mendukung kecerdasan otak dan sebagai bekal hidupnya.
Tentu mudah baginya untuk mempelajari Jawa dari berbagai buku, tapi hal itu dianggapnya tidak efektif karena melulu pada teori dan pengelaman yang subyektif. Namun jika ia dapat melihat langsung seperti yang dilakukan Martini, ia lebih bisa merasakan dan mengambil kesimpulan sendiri, bukan sikap yang sudah disimpulkan secara subyektif oleh penulis dalam buku-buku.
Selain itu, masih ada sebab lain yang lebih kuat yang membuat keluarga ini menahan dan begitu menyayangi martini.
“Lalu apa yang akan Fredy lakukan?” kata Papanya tiba-tiba. Pikirannya yang tadi dipenuhi oleh Martini tiba-tiba hilang begitu saja dan menyeretnya kembali ke masalah keluarganya.
“Maksud Papa?”
“Fredy akan ikut siapa?”
“Fredy punya jalan sendiri, Pak.”
Diam kembali menyerang keduanya. Sang anak rupanya belum yakin jika hanya alasan itu yang digunakan Papanya untuk memilih wanita lain.
“Pa, alasan apalagi yang membuat Papa harus melakukannya?”
“Ya. Jauh sebelumnya, di antara kami, Papa merasa tidak nyaman. Hubungan suami-istri pun terjadi hanya ala kadarnya. Papa juga tak sepenuhnya menyalahkan Mama. Mungkin karena itu pula, Mama melakukannya.”
“Kenapa Papa mengungkapnya dalam pengadilan?”
“Buat apa? Itu justru akan memperburuk keadaan.”
Fredy mengambil dan menyalakan rokok filternya, lantas masuk ke dalam rumah tanpa berbicara setelah diam menyerang mereka berdua beberapa saat. Sang Papa lantas menyusul.


IV.

Jika masih boleh memilih, ia akan kembali ke masa lalu dan menjadi istri yang setia dan ibu yang baik. Tapi siapa lagi yang menanggung perbuatan kalau bukan yang diri sendiri.
Penyesalannya telah selesai berhari-hari dan berminggu-minggu yang lalu ketika suaminya memutuskan untuk menceraikannya. Tangis karena penyesalannya semakin membuncah ketika pengadilan meresmikan perceraian mereka. Sebenarnya pengadilan memutuskan mereka tidak cerai karena tidak ditemukan kesalahan pada sang istri.
Sang istri, dalam pengadilan sama sekali tidak menceritakan hal-hal yang dilakukannya dan sang suami pun tidak banyak mengusik diamnya. Tapi bukan Andi Kolle Reso Putra namanya, bukan politisi profesinya jika tak bisa menang dalam pengadilan, apalagi hanya urusan cerai. Pengadilan pun akhirnya memutuskan cerai.
Tak ada lagi kini penyesalan, juga tangis. Semuanya telah selesai. Hanya tinggal Martini yang menjadi persoalan kemudian. Selama ini, kepada Martinilah curahan hatinya dituangkan. Selain itu, ada alasan lain bagi sang istri untuk menahannya, terlebih perasaan sebagai seorang ibu.
Itulah kenapa sebabnya, sang istri lebih sering bersama Martini sejak suaminya memutuskan untuk cerai. Jika hanya untuk mencari tempat curhat, banyak yang bisa dia datangi.
Sang istri tidak lagi berfikir tentang hal-hal yang akan dihadapinya, cemoohan dari teman-temannya, aib sebagai janda dan tentunya persoalan finansial. Ia sudah menjadi bagian dari resiko yang harus dihadapinya. Sedangkan untuk meminta pertanggungjawaban selingkuhannya juga tidak mungkin. Selain selingkuhannya sudah memiliki istri dan anak, selingkuh itu dilakukan atas dasar suka sama suka dan keduanya tak memiliki beban apapun ketika melakukannya.
Ia lebih tegar sekarang. Hanya saja, dalam hatinya, ia sangat mengharap Martini mau tetap bersamanya. Meski ia sebenarnya yakin dalam hati, bahwa ia akan berpisah dari Martini.


V.

“Tin...”
“Iya, Mas. Sebentar. Saya sudah selesai kok.” Jawab Martini begitu mendengar Fredy mengetuk dan memanggilnya.
Martini segera bangun dari tempat tidurnya dan melihat wajahnya di cermin, menghapus sisa-sisa tangis. Matanya merah. Selesai di depan cermin, Martini lantas menuju pintu dan membuka pintu. Di depan pintu Fredy telah menunggu.
“Sudah ada keputusan?” tanya Fredy
“Tidak tahu, Mas.”
“Lho?”
“Saya bingung, Mas.”
“Jawab saja sesuai dengan yang kamu rasakan. Semuanya akan baik-baik saja. Saya juga sudah punya jawaban atas ini.”
“Iya, Mas.”
“Papa dan Mama sudah menunggu.”
Fredy melangkah lebih dulu. Martini menguntitnya.
Sampai di ruang keluarga, kedua majikannya masih duduk ditempat semula. Sejenak masing-masing dalam diamnya. Kemudian Fredy mengawali pembicaraan.
“Ada baiknya jika ini lebih cepat. Biar kita semua segera tahu apa keputusan Martini.” Fredy melihat pada Martini. Kedua orangtuanya melihat ke arah yang tidak jelas. Mata mereka terlihat kosong namun jelas terlihat bahwa mereka sedang berfikir. “Martini, silahkan.”
Menit-menit yang menegangkan bagi mereka yang duduk di atas sofa di ruang tamu itu. Menanti keputusan seorang pembantu yang datang berdasarkan kebutuhan untuk mengurus rumah dan ternyata memiliki arti lebih dari seorang pembantu. Bagi Martini sendiri, ini merupakan pengadilan tanpa hakim, jaksa dan pembela. Atau justru hakim, jaksa dan pembela itu berada dalam dirinya sendiri.
Belum juga martini tahu, mengapa dirinya sampai diperebutkan seperti ini. Dia merasa hanya seorang pembantu biasa yang datang dari desa. Tak ada yang istimewa darinya. Postur tubuh yang biasa, bentuk muka yang biasa pula jika memang diukur dari segi fisik. Sama sekali tak ada yang istimewa. Namun, apapun yang ada dalam pikirannya, malam ini, menit ini, detik ini, Martini harus membuat keputusan.
Pandangan kedua majikannya tidak berubah, memandang ke sesuatu yang tidak jelas. Namun ketegangan yang terasa di mata mereka tak bisa ditutupi. Mereka menunggu seperti dalam pengadilan beberapa waktu lalu, siapa yang akan menjadi pemenang?
Sementara Fredy memandang bergantian antara Martini, Papa dan Mamanya. Mungkin Fredy juga memiliki kecurigaan-kecurigaan dan mencoba menebak-nebak siapa yang akan dipilih Martini. Tatapan matanya bertemu dengan pandangan Martini yang telah memandang bergantian kepada kedua majikannya sebelum memulai berbicara.
“Bapak, Ibu juga Mas Fredy, maafkan saya sebelumnya. Jika nanti keputusan saya tidak memuaskan atau justru membuat suasana keluarga ini semakin keruh, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.” Kata Martini sebagai pembukaan.
“Bapak, Ibu juga Mas Fredy, jujur. Saya masih bingung kenapa ini dibebankan kepada saya. Saya merasa bukan siapa-siapa di rumah ini, saya stak lebih dari seorang pembantu. Sebelum saya memutuskan, saya ingin bertanya dulu. Di mana posisi saya di rumah ini selain sebagai pembantu. Jika saya hanya seorang pembantu, saya pikir, tidak layak untuk diperhitungkan. Saya yakin dalam hati saya, ada sesuatu yang belum saya ketahui. Jika diperbolehkan, saya ingin tahu.”
Kedua majikannya melihat ke arah Fredy, anak semata wayang mereka. Pandangan kedua orantuanya itu mengisyaratkan agar Fredy menjelaskan hal sebenarnya kepada Martini sehingga ia diperhitungkan begitu pentingnya. Namun Fredy ragu-ragu untuk mengungkap rahasia keluarganya yang selama ini ditutupi dari Martini.
“Fredy.” majikan laki-lakinya memanggil anak semata wayangnya. Panggilan itu juga merupakan penegasan bagi Fredy untuk menjelaskan hal sebenarnya kepada Martini.
Fredy pun lantas berdiri dari tempat duduknya dan menuju kamarnya. Kamar di rumah sebesar ini adalah hal yang privasi bagi masing-masing penduduknya. Hanya Martini yang tidak memberlakukan itu terhadap kamarnya. sebab, sekali lagi, ia merasa bukan siapa-siapa.
Tak selang lama, Fredy pun kembali dengan menenteng album foto dalam tangannya. Segera ia duduk di tempatnya semula, memandang kepada kedua orantuanya dan Martini. Fredy meletakkan album foto itu di meja, tepat di depan kursi yang didudukinya.
“Begini, Tin. Sebelum kamu masuk ke rumah ini, sebenarnya kami telah mendapatkan seorang pembantu dari sebuah yayasan penyalur pembantu rumah tangga. Kami sudah kontrak dengan mereka, akan mempekerjakan pembantu itu selama tiga tahun. Sebelum pembantu itu sampai ke rumah ini, seorang temanmu yang bekerja di rumah sebelah membawa ke rumah ini. Begitu melihatmu, tanpa ada komando, kami merasa sepakat. Kami menerimamu dan membatalkan kontrak dengan yayasan itu, meski kami harus mengganti ongkos ganti rugi.”
Martini kaget mendengar pengakuan dari anak majikannya itu. Mukanya merah. Ia terharu. Ingin sekali ia meneteskan air mata tapi urung niat itu. Di balik itu, ia semakin bingung, apa yang menyebabkan ia diterima begitu saja padahal telah ada kontrak dengan yang lain sebelumnya.
Martini memang tidak tahu menahu tentang kontrak itu, sebab ia tidak berangkat dari sebuah yayasan, melainkan dari seorang teman. Dan betapa sekarang ia merasakan keberuntungannya langsung diterima di rumah besar ini.
“Tapi kenapa, Mas?” tanya Martini kepada Fredy, masih dalam kebingungannya.
Fredy pun lantas menyentuh album foto yang tadi  ia letakkan di atas meja dan disodorkannya kehadapan Martini. “Mungkin ini akan menjawab pertanyaanmu.”
Dengan rasa ragu-ragu, Martini menyentuh album foto itu lalu meletakkannya di atas pangkuannya. Ia belum ingin membuka album itu. Ia menyiapkan dirinya sebelum menemui jawaban atas pertanyaannya. Ia yakin, apa yang ada dalam album itu pasti hal yang mengagetkan baginya sehingga harus menjadi rahasia selama ia bekerja di rumah ini.
Helaan nafas panjang dan berat dari mulut Martini. Sementara yang lain menunggu respon Martini ketika melihat album itu. Sekali lagi Martini memperhatikan satu persatu wajah majikan dan anak semata wayangnya. Hanya Fredylah yang mau menatapnya. Kedua majikannya masih asyik dengan pandangannya masing-masing, tapi mereka menunggu dengan keadaan tubuh panas-dingin.
Setelah merasa siap, Martini lantas membuka album foto itu. Di lembar pertama, ia temukan majikan perempuannya menggendong bayi yang terbungkus kain dan beberapa lainnya, foto-foto bersama keluarga besar mereka. Lembar berikutnya masih menggambarkan kebahagiaan keluarga ini bersama seorang bayi hingga lembar ke tiga.
Di lembar ke lima, ia melihat seorang gadis kecil tertawa dengan riangnya, memperlihatkan beberapa giginya yang menjadi hitam dan hilang karena terlalu sering makan permen dan coklat. Tiga lembar selanjutnya keceriaan dan kelucuan anak gadis itu menghiasi indahnya keluarga ini.
Ketika Martini membuka lembar ke delapan, ia mulai merasakan keringatnya keluar dari pori-porinya. Ia merasakan itu.
Lembar demi lembar ia buka hingga ia begitu tercengang ketika melihat beberapa lembar sebelum lembar terakhir, wajah perempuan seumurnya yang sama sekali mirip dengan wajah. Tanpa terasa air matanya menetes di atas foto itu. Taulah ia sekarang, bahwa ia mirip dengan anak pertama mereka. Martini merasa cukup dan menutup album foto itu. Ia tak bisa lagi menahan air matanya.
Majikan perempuannya ikutan menangis. Barangkali teringat anak perempuannya. Begitu pula dengan majikan laki-lakinya, matanya merah menahan tangis. Hanya Fredy yang mencoba kuat dengan kenyataan ini.
“Itulah sebabnya, Tin.” Fredy menyela tangis. “Sebenarnya kami tak ingin memperkerjakanmu sebagai pembantu, tapi itulah satu-satunya alasan agar kamu bisa bertahan di sini. Kami menginginkanmu, lebih tepatnya, menginginkan kakakku.” Lanjutnya.
“Lalu sekarang di mana?” tanyanya di sela-sela tangis.
“Lihatlah dua halaman terakhir.” Jawab Fredy.
Martini lantas meraih album foto itu kembali dan membuka dua halaman terakhir. Ia melihat wajah perempuan yang mirip dengannya terbaring tanpa daya di atas ranjang di sebuah rumah sakit dengan seluruh tubuh penuh dengan perban. Di foto yang lain, wajah perempuan dalam foto itu sudah tidak terlihat, seluruhnya ditutupi dengan perban kecuali matanya.
Ia kembali tercengang ketika melihat barisan orang-orang berbaju hitam dalam foto di lembar terakhir sedang menghadap sebuah mayat yang siap dimakamkan. Beberapa di antaranya terlihat menangis. Empat foto terakhir dalam album foto itu membuat Martini tak bisa berkata apapun.
Empat foto itu bercerita tentang pemakaman anak pertama majikannya. Tangisnya semakin membuncah. Ada perasaan tidak tega melihat keadaan seperti itu. Martini sesenggukan menahan tangis. Jika ia masih hidup, ingin sekali Martini mengenalnya lebih jauh. Sayang sekali hanya dipertemukan lewat foto.
“Ia meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil ketika akan berlibur ke Puncak. Mobilnya hancur. Tiga penumpang sedan yang dikendarainya meninggal ditempat dan satu-satunya yang selamat dan dibawa ke rumah sakit meninggal dua belas jam setelahnya. Itu terjadi delapan tahun yang lalu, jauh sebelum kamu kesini. Jika ia masih hidup, mungkin sudah menikah dan punya anak.” Jelas Fredy yang ternyata juga tak tahan menahan tangisnya. Bagaimana tidak, kakak perempuannya adalah satu-satunya saudara kandungnya. Meski ketika masih hidup mereka seringkali meributkan banyak hal namun ada kerinduan yang mendalam ketika maut menjemputnya, hingga malam itu.
Suasana menjadi hening. Hanya isak tangis yang memenuhi ruang keluarga itu. Rupanya hanya majikan laki-lakinya yang mampu menahan air mata jatuh meski matanya menjadi merah. Suasana menjadi tak keruan.
Beberapa saat kemudian, tangis masing-masing mereda. Bagi keluarga sang majikan, mungkin kesakitan itu terlalu berlangsung sekian lama sehingga tak perlu terlalu meratapi. Mereka tak ingin larut dalam kesedihan. Tapi lain bagi Martini, ia seperti dapat merasakan kesakitan pada saat meninggalnya anak perempuan majikannya. Terlihat tangisnya belum juga berhenti.
“Sudah, Tin. Tak ada yang perlu disesali. Semua ini sudah kehendak yang kuasa.” Kata majikan perempuannya mencoba menenangkan Martini.
“Iya, Bu.” Martini pun segera menahan tangisnya.
Sesaat setelah tangis Martini terhenti, Fredy kembali berbicara.
“Sekarang kamu sudah tahu semuanya. Tak baik jika kamu terus membuat kami menunggu dengan keputusanmu. Sekarang katakanlah.”
“Baik, Mas,” Martini menghela nafas dalam-dalam. “Keluarga ini sudah saya anggap sebagai keluarga saya sendiri,” lanjutnya. “Tapi saya sadar betul posisi saya sebagai pembantu dan saya bukan siapa-siapa dalam keluarga ini. Jadi saya memutuskan untuk tidak memihak siapapun dalam keluarga ini. Saya tidak bisa memilih. Semua yang ada dalam keluarga ini sama sekali tak punya catatan hitam dalam otak saya. Tetapi saya mengikuti saja jika masih diperbolehkan mengabdi, jika saya akan pulang kampung sambil menunggu jika ada yang memanggil untuk bekerja lagi. Maaf jika jawaban saya mengecewakan.”
Semua memandang ke arah Martini. Majikan laki-laki dan perempuannya menatapnya dengan rasa bingung sebab tak ada pilihan ketiga. Namun Fredy sudah menduga jawaban Martini akan seperti itu. Ia telah menyiapkan tanggapan atas jawaban Martini.
Kedua majikannya tak berkomentar sama sekali. Sama-sama diam. Mereka sadar, tak seharusnya melibatkan pembantu dalam urusan keluarga. Apalagi sejauh ini, tapi alasan mereka cukup kuat untuk mengikat Martini dalam keluarga mereka sebelum pada akhirnya Martini akan kembali kepada keluarganya di desa.
 “Terima kasih atas jawabanmu, Tin. Tidak ada yang salah dalam keputusanmu. Tentu kamu sudah memikirkannya matang-matang, dan Fredy yakin, kamu telah memikirkannya jauh-jauh hari sebelumnya. Paling tidak, kamu sudah bertanggungjawab atas keputusanmu sendiri.” Kata Fredy pada Martini. “Pa, Ma,” lanjutnya kepada Papa dan Mamanya. “Tentunya Papa dan Mama masih ingat ketika tahun-tahun pertama Fredy kuliah. Papa dan Mama pernah menawarkan pada Fredy sebuah rumah di Bandung. Kalau Fredy pikir-pikir lagi, Fredy memang butuh rumah itu sekaligus seorang pembantu yang akan mengurusnya. Karena Fredy sendiri tidak mungkin untuk mengurus rumah sendirian. Dan juga jika diperbolehkan, Fredy ingin mengajak Martini untuk tinggal di Bandung. Biar Martini yang mengurus rumah di Bandung.”
Semua yang ada tercengang atas keputusan Fredy, terlebih Martini. Tak terbayangkan sebelumnya jika akan berakhir seperti ini. Tapi bagi Martini, tak pantas seorang pembantu menolak permintaan majikannya. Ia pun menurut saja, apalagi ia telah mengatakan akan mengikuti saja jika diperbolehkan mengabdi. Dan sekarang, kesempatan mengabdi itu telah terbuka lebar. Tentu sebagai orang Jawa, Martini tak boleh cidro ing janji.
Bagi kedua orangtua Fredy sendiri, tak mampu menolak permintaan anak semata wayangnya. Ia tak ingin lagi melukai hati anaknya untuk kedua kalinya. Paling tidak Martini masih bersama keluarganya.[]Djogjakarta, November 2008.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Strukturalisme Genetik Goldmann

Pendahuluan
Strukturalisme genetik ditemukan oleh Lucien Goldmann, seorang filsuf dan sosiolog Rumania-Perancis. Teori ini dikemukakannya pada tahun 1956 dengan terbitnya buku The Hidden God: a Study of Tragic Vision in the Pensees of Pascal and the tragedies of Racine. Teori dan pendekatan yang dimunculkannya ini dikembangkan sebagai sintesis atas pemikiran Jean Piaget, Geogre Lukacs, dan Karl Marx. Menurut Faruk (2003: 12) Goldmann percaya bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur. Artinya, ia tidak berdiri sendiri, melainkan banyak hal yang menyokongnya sehingga ia menjadi satu bangunan yang otonom. Akan tetapi, Goldmann tidak secara langsung menghubungkan antara teks sastra dengan struktur sosial yang menghasilkannya, melainkan mengaitkannya terlebih dahulu dengan kelas sosial dominan. Sebab, struktur itu bukanlah sesuatu yang statis, melainkan merupakan produk dari sejarah yan terus berlangsung, proses strukturisasi dan destrukturisasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat as…

Mengupas Makna Tadarus, Antologi Puisi “Tadarus” karya; Musthofa Bisri

Gus Mus—panggilan akrab A. Mustofa Bisri—menggubah puisi (baca; Al qur'an) menjadi puisi. Apa yang ada di dalam Al qur'an beliau terjemahkan lagi dalam puisi Indonesia. Meski hal ini tidak bisa menandingi, bahkan mustahil untuk menyamai isi dari alqur'an, tapi puisi yang digubah oleh Gus Mus sudah cukup menggerakkan seluruh bulu roma dan mengendorkan sendi-sendi tubuh. Tentu saja hal ini tidak lepas dari pandangan tentang proses kreatif yang dilakukan oleh Gus Mus.
Gus Mus yang tak pernah tamat atau lulus sekolah belajar kesenian dengan mengamati masa kecilnya. Jiwa pelukisnya tumbuh saat beliau teringat bahwa pada masa kecilnya beliau pernah memenangkan lomba menggambar dan warnai. Sejak saat itu, beliau sadar bahwa dalam dirinya ada bakat untuk melukis. Kemudian mulailah Gus Mus melukis hingga pada saat ini lukisan beliau sangat terkenal. Salah satu lukisannya yang hanya bertuliskan alif di atas kanvas terjual hingga puluhan juta rupih.
Untuk bakat menulisnya sendiri, be…

Satu Cinta Untuk Eva Dwi Kurniawan

1.Penyair Eva merupakan penyair yang sangat produktif. Dalam kurun waktu lima bulan, ia menyulap puisi-puisi itu dan jadilah antologi Swara Dewi yang berjumlah 64 judul. Angka genap yang terkesan ganjil, kenapa tidak dibulatkan menjadi 65 saja? Tentu ini memiliki alasan tertentu. Ia menuliskan puisinya dari bulan Januari hingga Mei 2012. Baru kali ini saya melihat ada penyair sedahsyat dan seproduktif ini. Mungkin hidupnya didedikasikan hanya untuk puisi. Dan dengan membaca antologi tersebut, kesan pertamanya adalah menulis puisi itu gampang. Antara kurun Januari hingga Mei saya kembali bertanya, di mana bulan april? Tak ada satu pun puisi yang ditulis bulan April masuk dalam antologi ini. Mungkin bulan April terlalu menyakitkan baginya? Mungkin ia pernah patah hati di bulan April. Tampaknya, Penyair Eva tidak menganggap bulan itu begitu penting, melainkan ia memilih puisi-puisi yang memiliki tema sama. Ini terlihat dari adanya puisi di bulan Desember 2012 yang diikutkan dalam antologi…