Langsung ke konten utama

Majalah Dinding Putih Abu-abu


I
SEHARUSNYA kami sudah berada di rumah, atau kalau tidak, jalan-jalan di mall, sekadar jalan-jalan saja, uang di saku kami tidak akan cukup untuk membeli bahkan barang yang paling murah sekalipun di mall. Uang di sakuku saja tinggal tiga ribu perak, hanya cukup untuk naik bus. Begitu juga dengan teman-temanku. Kantong kami selalu tipis dalam keadaan seperti ini. Menyebalkan memang, tapi date line tinggal dua hari lagi.
“Menyebalkan!” Aris muncul tiba-tiba dengan membanting daun pintu.
Seketika kegiatan kami tertunda dengan kemunculannya. Wajahnya terlihat lesu dan sedikit marah. Ia langsung duduk di kursinya yang berada di sebelah utara menghadap pintu.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Karlin, sekretarisnya.
Aris hanya menjawab dengan gelengan kepala berulang-ulang. Wajahnya menunjukkan kekesalan. Aku tahu pada siapa dia kesal.
“Apa maksudnya?” tanya Karlin lagi.
Aris berdiri dari kursinya, berjalan mengelilingi meja di depannya. Ia merubah gayanya menyerupai gaya Norman, ketua OSIS di sekolah ini.
“Tinggal dua hari lagi belum ada laporan? Apa maksudnya? Semakin lama pengurus mading kerjanya semakin seenaknya sendiri. Aku tidak mau kita ditertawakan banyak orang karena mading terlambat terbit. Ini akan sangat memalukan. Kamu tahu kan, kita harus selalu menyajikan info-info terkini yang berkembang di sekolah ini. Sebenarnya aku ingin menambahkan program kerja kalian, yang dari terbit satu kali dalam dua minggu menjadi satu kali dalam satu minggu. Jadi frekuensi kemunculan mading akan semakin marak,”
“Ha!” teriak semua orang yang berada di ruangan ini.
“Gila! Apa maksudnya?” kataku spontan.
“Sebentar belum selesai,” kata Aris sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arahku. “Dan lagi, info-info yang kalian sajikan banyak kurang menariknya. Harusnya kalian sebagai awak pers siswa harus tahu kabar paling akurat, aktual, dan terkini,”
“SCTV banget!” celetuk Ella.
“Jangan asal kabar yang kalian munculkan. Dan satu lagi, jangan melulu menghadirkan persoalan cinta. Cinta monyet!” Aris menyudahi aktingnya yang menyerupai Norman itu. Wajar saja kalau dia lihai berakting karena dia adalah salah satu anggota senior di teater Manyong, kegiatan ekstrakulikuler seni di sekolah kami.
Mendadak semua wajah di ruangan ini menjadi serius. Ditambah lagi dengan ruangan yang panas, suasana siang itu semakin menggerahkan. Kipas angin di ruangan ini sudah rusak. Kami sudah melaporkan perihal kerusakan itu pada pihak sekolah sebulan yang lalu, tapi hingga kini belum ada tanggapan apapun.
“Aku rasa, berita yang kita sajikan sudah aktual dan terkini. Penambahan gedung baru, peraturan baru, sampai pada kamar mandi yang sudah tidak layak pakai.” Kata Karlin dengan kesal.
“Terbit sekali dalam dua minggu saja kita sudah kuwalahan, apalagi satu kali seminggu. Memangnya kita tidak perlu mengerjakan PR, ekskul lain yang kita ikuti mau dikemanakan? Enak saja!” tambah Ella sambil mencibirkan bibir bagian bawahnya.
“Lagi pula tidak banyak siswa yang mau mengirimkan karyanya.” Kataku dengan nada datar.
“Dan yang dikirimkan selalu karya sastra yang berbau cinta. Ya, mau tidak mau kan kita harus sajikan itu sebagai bentuk apresiasi dan partisipasi siswa.” Sambung Irfan dengan sedikit bijaksana.
Semua diam sejenak. Tak ada bersuara. Aku melirik ke arah Karlin, Karlin balik menatapku. Ia mengangkat bahunya tanda bingung dengan yang akan dilakukan. Karlin melihat ke arah Irfan dan Ella, mereka berdua memberikan jawaban yang sama dengan yang diberikan Karlin padaku. Kami saling pandang. Tanpa dikomando, kami secara serentak dan kompak melihat ke arah koordinator yang sekaligus berperan sebagai pimpinan redaksi mading kami, Aris.
Aris masih menundukkan kepalanya. Tangannya memainkan bolpoin, memuta-mutarnya sambil sesekali diketuk-ketukkan ke meja. Kami berempat menunggu Aris bicara, mengharap akan ada solusi yang ditawarkannya. Karlin mulai kehilangan seleranya, ia melangkah menuju kursinya, mendudukinya. Ella memainkan gunting yang sejak tadi dipegangnya untuk menggunting kertas dan membentuknya menjadi kupu-kupu, mematuk-matukkan dua sisi gunting hingga mengeluarkan bunyi. Mata Irfan menerawang ke arah luar seolah mengharap ilham datang. Aku sendiri mendongakkan kepala ke langit-langit ruangan ini sembari berkali-kali mendenguskan nafas berat.
Setelah diam berselang cukup lama, akhirnya Aris bicara juga.
“Apa yang temen-temen omongkan barusan, sudah aku omongkan padanya. Bahkan aku sempet adu mulut dengan dia. Kami sama-sama tidak mau ngalah. Norman bersuara keras, aku lebih keras. Dia terus-terusan bicara politik. Katanya, mading kita harus memuat liputan politik agar siswa tidak hanya terpatok pada mata pelajaran dan persoalan remaja. Biar melek politik, katanya.” Kata Aris pelan.
“Memangnya urusan kita apa dengan politik? Kita belum saatnya bicara politik, men! Ah, Norman sialan! Mentang-mentang bapaknya politikus!” maki Ella.
“Ah sudah, sudah. Tidak ada gunanya kita meributkan itu,” Irfan melerai kemarahan Ella. “Lalu kesepakatan apa yang kamu buat dengan Norman?” tanyanya melanjutkan.
“Ketika kami ribut, saling berteriak, Pak Wardi mendengar keributan itu dari ruang guru dan menghampiri kami. Beliau mengatakan tidak ada salahnya kalau ide dari Norman itu dicoba. Itu ide yang tidak biasa dari siswa.”
“Yah, berarti esaiku tentang cinta segi tiga tidak dimuat, dong.” Gerutu Ella.
“Punyaku juga, El. Cinta Mencetak Penyair. Padahal tinggal nempel saja.” Kataku menyahut Ella. Aku dan Ella berpandangan lemas.
“Lalu apa yang harus kita perbuat sekarang?” tanya Karlin pada Aris.
Semua diam lagi, tak tahu apa yang musti dilakukan.
“Nah, begini saja. Ayo, semua duduk di kursi masing-masing. Kita rapat redaksi mendadak!” kata Aris tiba-tiba.
Kami pun bersemangat dan segera duduk di tempat kami masing-masing. Aris memang jago dalam membangkitkan semangat teman-teman. Harusnya dia yang menjadi ketua OSIS. Selain cakep, dia juga cerdas dan gampang bergaul. Ketika pemilihan ketua OSIS dulu, Aris banyak dijagokan oleh teman-teman, tapi entah apa penyebabnya Aris berada di urutan kedua setelah Norman. Berada diurutan kedua, seharusnya ia menduduki jabatan sebagai wakil ketua, tapi ia menolaknya dan memilih menduduki koordinator departemen informatika, mengurusi mading. Tidak semua siswa bisa bersikap seperti itu.
Aris mulai berbicara dengan semangat berkobar. Aku dan yang lainnya sibuk memperhartikan Aris bicara. Ia terlihat sosok sempurna jika bicara seperti itu. Siapa perempuan yang tidak terpikat hatinya melihat cowok ganteng, cerdas dan lihai berorganisasi sekaligus ahli dalam hal berakting. Diam-diam, aku, Ella dan Karlin sering membicarakannya di kantin atau ketika kami sedang jalan-jalan. Dia memang cowok idaman!
“Kita tidak perlu pusing dengan apa yang dikatakan Norman. Kalau kita bingung berarti kita bodoh! Pengurus mading dilarang bodoh! Apapun yang terjadi dan bagaimana mading ini berjalan adalah total tanggung jawab kita. Pengurus mading adalah tim yang mendokumentasikan apa yang terjadi di sekolah ini. Pendokumentasian adalah hal yang sangat penting. Oleh karena itu, teman-teman, kita tidak boleh larut dalam kemarahan dan kejengkelan kita. Kita harus berbuat, apapun yang bisa kita perbuat.”
Begitulah Aris menyemangati kami. Kami tahu, jauh dalam hatinya, ia masih menyimpan kemarahan yang luar biasa. Tapi dihadapan banyak orang, ia selalu berhasil menyembunyikan perasaannya. Tidak seperti Norman yang sialan itu!
Pengurus mading dilarang Bodoh! Itulah kata-kata yang selalu dimunculkan oleh Aris dalam kepengurusan mading ini. Bahkan, Irfan menuliskan kata-kata itu besar-besar dan menempelkannya di tembok ruangan ini. Kata-kata itu memang mampu membangkitkan semangat kami.
“Baiklah kita mulai dengan Karlin. Apa yang kamu tulis?”
“Aku menyalin kiriman siswa yang berhubungan kegiatan-kegiatan di sekolah,” jawab Karlin
“Barapa tulisan?”
“Dua,”
“Apa saja? Bacakan!”
“Kiriman pertama dari Romi, anak kelas 2A,” Karlin mulai membacakan apa yang disalinnya. “Ia berpendapat bahwa kegiatan yang dilaksanakan oleh OSIS memang sangat meriah dan terhitung sukses. Tapi jika dilihat dari efeknya, siswa menjadi urakan dan hal ini terlihat sebagai kegiatan yang hura-hura dan tidak mendidik. Selain itu, dana yang dikeluarkan oleh OSIS untuk kegiatan ini tidak sedikit. Dalam pandangannya, seharusnya dana yang cukup besar itu digunakan untuk kegiatan penelitian atau kegiatan-kegiatan yang memiliki hubungan dengan mata pelajaran. Pihak sekolah seharusnya mempertimbangkan hal ini dan tidak asal menyetujui kegiatan-kegiatan yang diusulkan oleh OSIS.”
“Kegiatan yang mana sih?” tanya Ella.
“Formulasi! Forum Musik Lintas Siswa.”
“Huh! Itu kan kegiatan keren. Dasar Romi sok alim!” gerutu Ella.
“Yang kedua.” Lanjut Aris tanpa mempedulikan gerutu Ella.
“Kiriman dari Johan kelas 3C,”
“Johan? Tidak salah?” Aris terlihat terheran-heran.
“Iya. Johan. Kenapa? Tidak boleh dimuat?”
“Tidak, tidak. Maksudku tumben sekali dia mau menulis.”
Johan memang siswa yang terkenal nakal di sekolah ini. Dia tetangga Aris dan mereka berteman dengan baik.
“Dimuat tidak?” tanya Karlin.
“Dimuat saja, kita kan memang mementingkan siswa yang jarang nulis untuk dimuat di mading. Lanjutkan, apa laporannya?”
“Ia menulis,” Karlin membacakan lagi. “Tentang les yang diadakan untuk kelas 3. Menurut saya, les yang diadakan 4 empat kali dalam satu minggu itu kurang dimanfaatkan secara maksimal, baik oleh siswa maupun pengajar sendiri. Hal ini terlihat dari materi les yang disampaikan sama dengan yang disampaikan di kelas. Seharusnya, apa yang disampaikan dalam les merupakan pendalaman pelajaran yang telah disampaikan di kelas, bukan mengulanginya. Hal ini membuat beberapa siswa menjadi malas untuk mengikuti les.
“Selain itu, pelajaran Bahasa Indonesia yang disampaikan di kelas saya, 3C, terkesan kurang bisa menyentuh seluruh isi buku yang sudah menjadi paket. Ini sangat terlihat sekali ketika mata pelajaran sampai pada materi apresiasi sastra. Guru seolah-seolah menganggap materi itu tidak ada dan beberapa kali sengaja melewatkan lalu meneruskannya dengan materi lain. Beberapa teman merasa kecewa dengan adanya hal tersebut. Mohon dari pihak sekolah untuk menindaklanjuti hal tersebut.”
“Hahaha... haha...” Aris tertawa keras. Semua yang berada di ruangan ini menjadi terheran-heran dengan tingkahnya. Semua mata tertuju padanya. Begitu menyadari bahwa semua mata tertuju padanya, dia menjadi salah tingkah dan malu.
“Bagiku ini tidak lucu, Ris.” Kata Karlin.
“Tidak... tidak. Aku hanya membayangkan Johan ketika menulisnya. Aku kenal betul dengan Johan, dan rasa-rasanya aku tidak percaya kalau dia menulis itu. Ini perubahan besar,” Semua masih diam menatapnya. “E... ini hanya intermezo. Baiklah kita lanjutkan, Lin.” Lanjutnya.
“Sudah selesai.”
“Kalau begitu sekarang giliran Ella.”
“Baiklah. Aku menulis tentang cinta segi tiga. Isinya begini,” Ella memegang sebuah kertas dan bersiap membacakannya. “Dalam keadaan kebersamaan seorang laki-laki dan perempuan, banyak hal yang...”
“E... sebentar. Kita tunda dulu esai itu. Kita lanjutkan pada Dina.” Kata Aris memotong Ella.
“Tapi kan kamu belum mendengar semuanya.” Keluh Ella dengan kecewa.
“Masih ada tugas yang lebih penting daripada cinta segitigamu itu. Ok?”
“Baiklah kalau begitu.”
“Bacakan tulisanmu, Din.” Lanjutnya.
Aku menjadi sedikit tergagap dan kelabakan ketika Aris menunjukku. Kukira habis menunjuk Ella, dia akan menunjuk Irfan untuk membacakan tulisannya.
“E... begini. Masih seputar cinta. Aku berfikir bahwa ketika orang jatuh cinta, rasa cinta yang ada dalam dirinya akan memenuhi pikiran dan hatinya. Ketika sebuah ruangan menjadi penuh, dia membutuhkan sesuatu untuk menumpahkannya. Seperti kalau kita mengisi sebuah gelas dengan air. Ketika gelas itu sudah penuh dengan air dan masih diisi terus, maka air akan tumpah di sisi-sisi gelas itu berdiri,” semua mata tertuju padaku. Mereka terlihat tertarik dan aku menjadi semangat untuk meneruskannya. “Nah, dalam hal ini, air itu berarti cinta. Cinta akan memenuhi pikiran dan hati sang pecinta, lalu ia akan membutuhkan penumpahan emosi. Penumpahan emosi yang paling mudah dilakukan adalah dengan menulis. Maka dari sini, akan muncul puisi-puisi yang lahir dari perasaan cinta. Inilah yang kusebut dengan cinta mencetak penyair. Itu ringkasannya.”
“Bagus! Tapi tunda dulu. Aku belum memutuskan esai itu akan dimuat atau tidak.” Kata Aris menanggapi esaiku.
Aku hanya diam tidak menjawab apa-apa. Aku merasa sedikit kecewa tapi tidak berani mengungkapkan. Aku hanya menundukkan kepala sebagai jawabanku atas tanggapan Aris.
“Kamu, Fan.”
“Tulisan ini tentang Teori Relativitas Einstein yang ditulis Michael H. Hart,”
“Siapa itu Einstein?” Tanya Aris
“Huuhhh...” Semua yang ada bersorak karena pertanyaan Aris.
“Aku ini betul-betul tidak tahu.”
“Makanya pelajari IPA.”  Sorak Ella.
“Tidak! Aku lebih suka Bahasa.”
“Dilanjutkan tidak ini?” tanya Irfan bermaksud menyela dan melerai olok-olok itu. “Ribut saja.” Lanjutnya.
“Iya, iya. Lanjukan.”
“Albert Einstein adalah seorang ilmuwan terhebat abad ke-20. Cendekiawan tak ada tandingannya sepanjang jaman. Termasuk karena teori "relativitas"-nya. Sebenarnya teori ini merupakan dua teori yang bertautan satu sama lain: teori khusus "relativitas" yang dirumuskannya tahun 1905 dan teori umum "relativitas" yang dirumuskannya tahun 1915, lebih terkenal dengan hukum gaya berat Einstein. Pepatah bilang, "semuanya adalah relatif." Teori Einstein bukanlah sekedar mengunyah-ngunyah ungkapan yang nyaris menjemukan itu. Yang dimaksudkannya adalah suatu pendapat matematik yang pasti tentang kaidah-kaidah ilmiah yang sebetulnya relatif. Hakikatnya, penilaian subyektif terhadap waktu dan ruang tergantung pada si penganut. Sebelum Einstein, umumnya orang senantiasa percaya bahwa dibalik kesan subyektif terdapat ruang dan waktu yang absolut yang bisa diukur dengan peralatan secara obyektif. Teori Einstein menjungkir-balikkan secara revolusioner pemikiran ilmiah dengan cara menolak adanya sang waktu yang absolut.
“Bayangkanlah sebuah pesawat ruang angkasa—sebutlah namanya X—meluncur laju menjauhi bumi dengan kecepatan 100.000 kilometer per detik. Kecepatan diukur oleh pengamat, baik yang berada di pesawat ruang angkasa X maupun di bumi, dan pengukuran mereka bersamaan. Sementara itu, sebuah pesawat ruang angkasa lain yang bernama Y meluncur laju pada arah yang sama dengan pesawat ruang angkasa X tetapi dengan kecepatan yang berlebih. Apabila pengamat di bumi mengukur kecepatan pesawat ruang angkasa Y, mereka mengetahui bahwa pesawat itu melaju menjauhi bumi pada kecepatan 180.000 kilometer per detik. Pengamat di atas pesawat ruang angkasa Y akan berkesimpulan serupa.
Nah, karena kedua pesawat ruang angkasa itu melaju pada arah yang bersamaan, akan tampak bahwa beda kecepatan antara kedua pesawat itu 80.000 kilometer per detik dan pesawat yang lebih cepat tak bisa tidak akan bergerak menjauhi pesawat yang lebih lambat pada kadar kecepatan ini.
Tetapi, teori Einstein memperhitungkan, jika pengamatan dilakukan dari kedua pesawat ruang angkasa, mereka akan bersepakat bahwa jarak antara keduanya bertambah pada tingkat ukuran 100.000 kilometer per detik, bukannya 80.000 kilometer per detik.
“Tampaknya merupakan kedahsyatan teoritis, dan memang bertahun-tahun orang menjauhi "teori relativitas" bagaikan menjauhi hipotesa "menara gading," seolah-olah teori itu tak punya arti penting sama sekali. Tak seorang pun membuat kekeliruan hingga tahun 1945 tatkala bom atom menyapu Hiroshima dan Nagasaki. Salah satu kesimpulan "teori relativitas" Einstein adalah benda dan energi berada dalam arti yang berimbangan dan hubungan antara keduanya dirumuskan sebagai E = mc2. E menunjukkan energi dan m menunjukkan massa benda, sedangkan c merupakan kecepatan cahaya. Nah, karena c adalah sama dengan 180.000 kilometer per detik (artinya merupakan jumlah angka amat besar) dengan sendirinya c2 (yang artinya c x c) karuan saja tak termaknai besar jumlahnya. Dengan demikian berarti, meskipun pengubahan sebagian kecil dari benda mampu mengeluarkan jumlah energi luar biasa besarnya.”
Sejak Irfan menjelaskan tentang teori itu, kami yang berada dalam ruangan itu seolah ditarik olehnya dengan penjelasannya yang menakjubkan. Kami semua diam dan memperhatikannya dengan baik-baik.
“Wow!” Aris takjub dengan pengetahuan Irfan.
“Aku tidak paham.” Kata Ella yang juga keheran-heran.
Kami semua memang terheran-heran, tapi bukan karena teori relativitasnya Einstein itu, melainkan pada pengetahuan Irfan yang melebihi kami itu. Dalam keherananku, aku hanya diam saja, berpura-pura bahwa itu biasa.
“Bagaimana kamu bisa memahami teori yang serumit itu?” tanya Karlin.
“Aku hanya meringkasnya dari buku yang ditulis Michael H. Hart. Aku juga tidak begitu paham.”
“Huuuhh...” Semuanya berteriak menyoraki Irfan. Kami tertawa terpingkal-pingkal.
Suasana di ruangan yang panas ini menjadi cair dan santai.
“Baiklah. Sekarang aku simpulkan rapatnya. Kalau ada yang mau usul, nanti setelah aku selesai ngomong,” kata Aris setelah semuanya tenang. “tapi sebelumnya, aku ingin tanya dulu, apa sudah yang kirim lagi? Cuma dua tadi aja?” lanjutnya.
“Iya. Tidak yang lain.” Jawab Karlin.
“Baiklah kalau begitu,” Aris bersiap-siap bicara untuk menyimpulkan rapat kami siang itu. Ia menata duduknya kembali dengan menegakkan punggungnya agar bisa lebih tinggi. “untuk Karlin, kamu muat saja dua kiriman tadi. Itu merupakan tanggapan yang bagus terhadap hal-hal yang terjadi di sekolah ini, yang terasa ganjal bagi mereka. Kemudian untuk Ella,” matanya tertuju pada Ella. “kamu cari berita tentang kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan oleh sekolah-sekolah lain dalam satu bulan ini. Buat resensi tentang kegiatan mereka. Barangkali saja, kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan oleh sekolah lain bisa menjadi inspirasi untuk sekolah kita mengadakan kegiatan-kegiatan yang bermutu dan mendidik. Dan kamu Dina, cari berita politik yang sedang hangat di kota ini atau kalau kamu bisa, cari berita politik yang terjadi di Indonesia,”
“Aku?”
“Iya,”
“Berita politik?”
“Iya. Ada yang salah?”
“Tentu saja tidak. Kamu keberatan.”
“sedikit sih.”
“Ya sudah. Kamu anu saja... e... apa ya?” Aris terlihat berfikir.
“Bagaimana kalau profil?” usulku.
“Boleh! Profil siapa?”
“Ya nanti aku cari.”
“Kok nanti?”
“Ya kan tidak bisa memutuskan sekarang. Harus dicari dulu, profil siapa yang tepat untuk dipublikasikan.”
“Oke. Itu kita bahas habis ini saja. Sekarang untuk Irfan. Meski hanya menyalin, kita muat saja. Mau tidak mau kita tetap butuh teori itu. Baiklah, berarti kolom emua kolom sudah terpenuhi. Kolom pertama adalah surat pembaca, yang berisi dua kiriman tadi. Kemudian kolom yang kedua adalah kolom ekskul, nanti diisi oleh Ella. Sebagai bahan informasi, di SMP 6, dua minggu lagi mereka mengadakan lomba seni dan sains. Mungkin itu bagus kalau diberitakan di mading edisi ini. Kamu punya kenalan orang OSIS di SMP 6 kan?” Ella mengangguk tanda mengiyakan.
“Kemudian kolom yang ketiga adalah kolom profil yang diisi oleh Dina. Sebagai bahan pertimbangan, aku usulkan Pak Manto. Beliau adalah guru yang kreatif yang patut dijadikan sebagai teladan para siswa. Selain cara mengajarnya yang enak, namanya sudah dikenal di luar sekolah. Tulisan-tulisannya sering kali kita jumpai di beberapa media massa,” Aku hanya diam, belum menyetujui usul Aris. Aris menatapku sebentar, dia seperti tahu kalau aku kurang setuju dengan usulnya.
“Kolom yang keempat adalah kolom IPTEK yang akan diisi Irfan. Untuk Irfan, nanti sumber bukunya ditulis di bagian akhir tulisnnya itu ya. Aku sendiri akan menulis berita utama tentang banjir yang akhir-akhir ini terjadi di kota kita dan pertarungan politik yang terjadi di Indonesia. Ada yang mau usul?”
“Sambutan redaksi?” tanya Karlin.
“Kamu yang tulis.”
“Oke! Oh iya, untuk gambar yang mau dijadikan backgroundnya belum ada lho.” Sambung Karlin lagi.
“Oh iya, iya. Apa ya?”
“Hutan saja.” Usul Irfan. “Warna dominan hijau. Tulisannya nanti akan ditempelkan pada pohon-pohon dan daun-daun.” Lanjutnya.
“Aku mau ada kupu-kupunya.” Usu Ella
“Huhhh...” Semuanya menyoraki Ella.
“Kan bagus. Lagi pula, di hutan kan juga ada kupunya.”
“Bagaimana Irfan?” tanya Aris pada Irfan untuk mempertimbangkan usul Ella.
“Bisa saja.” Jawab Irfan.
“Yes!” ketawa kami menggema kembali dengan tingkah Ella.
“Nanti kamu yang membuatnya, ya?” suruh Aris pada Irfan
“Hah! Aku?”
“Kamu yang usul.”
“Baiklah.”
“Sudah semua?” tanya Aris pada peserta rapat.
“Anu!” selaku bingung menjadi kata untuk mengawali pembicaraan.
“Apa?”
“Untuk profilnya jadi Pak Manto?”
“Itu usulku. Kalau kamu tidak setuju, ya tidak apa-apa.”
“Bagaimana kalau profil yang kita tampilkan adalah siswa saja?”
“Siswa teladan maksud kamu?”
“Tidak harus siswa teladan,”
“Lalu?”
“Siswa yang memiliki kelebihan, misalnya.”
“Siapa yang ingin kamu tulis?”
“Sudah ada sih dalam pikiran, cuma, boleh tidak kalau aku tidak mengungkapkan di sini. Aku pengen temen-temen suprise aja.”
“Cie... siapa nih?” ledek Ella.
“Aku tahu.”
“Siapa, Lin?” tanya Ella lagi
“Itu tuh...”
“Itu siapa, Lin?” Irfan ikut-ikutan penasaran.
“Boleh nih disebutin?” Karlin melirik ke arahku. Aku hanya memberikan senyum tersipu malu.
“Sebutkan saja. Sepertinya Dina juga tidak keberatan.” Rupanya Aris tahu maksudku.
“Benar, Din?” aku memberikan jawaban yang sama.
“Ayo sebutkan saja.” Desak Ella.
“Baik, baik,” mereka memperhatikan Karlin menunggu mulutnya mengeluarkan satu kata, nama lak-laki. “Umar!”
Ruangan ini kembali ramai dengan teriakan dan tawa sorakan dari teman-teman tentangku. Aku hanya tersenyum.
Aku sudah bisa menebak bahwa yang akan disebutkan oleh Karlin adalah si Umar. Tapi maksudku bukan dia. Aku memang sering membicarakan si Umar dengan Karlin. Tapi bukan berarti aku akan menuliskan profilnya di mading kami edisi ini. Lagi pula, aku hanya simpati pada Umar, tidak lebih. Sungguh!
Masih ada perbendaharaan nama lain di dalam kepalaku.
“Baiklah. Sepertinya semuanya sudah kita bahas. Masih ada yang mau usul?” semua diam tanda setuju bahwa semuanya telah selesai dibahas.
Ketika Aris akan menutup rapat mendadak itu, Karlin tiba-tiba menyela ingin bicara. “Kolom sastranya belum ada.”
“Iya, ya. Bagaimana aku bisa lupa? Tapi, sepertinya sudah penuh. Apa cukup kalau ditambahi dengan kolom sastra?” tanya Aris pada peserta rapat.
“Kalau hanya puisi mungkin cukup.” Jawab Irfan.
“Siapa yang mau ngisi puisi?” tanya Aris lagi.
“Dina saja.” Jawab Karlin.
“Cieee...” Ledek Ella.
“Dina bisa?”
Aku mengangguk.
“Puisinya sudah ada, Din?” tanya Ella.
“Sudah?”
“Dibawa?”
“Ya.”
“Nah, begini teman-teman,” kata Ella sambil berdiri. “bagaimana kalau rapat siang ini kita tutup dengan pembacaan puisi dari Dina. Semuanya setuju?”
“Setuju...”
“Tidak, ah.” Jawabku malu.
“Dina... Dina ... Dina... Dina...” Sorak teman-teman seperti menyoraki pemain bola di lapangan sepak bola. Aku tidak bisa mengelak lagi. Mau tidak mau aku harus melakukannya.
Aku membuka tas dan mengambil sebuah buku yang bisa aku gunakan untuk menulis puisi dan cerpen. Aku buka lembaran kertas itu pada halaman terakhir aku menulisinya. Sebuah puisi. Kemudian aku membacanya.

Kalau ini rindu,
Tak akan kusampaikan padamu
Agar jadi tembok tua
Tempat debu kenangan dan lumut masa muda menempel

Sebab rindu bukan kegelisahan,
Ia kedamaian pada hati yang mencari pucuk bulan
Biarlah ini kusimpan
Sebagai air minum
Kelak ketika aku dahaga akan rintik hujan
Yang mengantar rindu itu padaku.

Tetaplah tenang, Sayang.
Nikmati bahuku sebagai sandarmu
Agar tak menjadi luka
Biarlah kita tanami saja bunga-bunga.

Selesai membacakan puisi itu, aku seperti telah mengungkapkan sebuah perasaan yang tak pernah aku keluar dari mulutku sebelumnya. Sedikit lega rasanya. Aku menyimpan perasaan ini dengan rapi dalam hatiku. Sungguh! Tak ada yang mengetahui perasaan ini.
Teman-teman bersorak dan bertepuk tangan setelah aku membacakannya.
“Cie... buat siapa sih puisinya?”
“Keren...”
“Menyimpan cinta terlalu lama itu kurang baik bagi kesehatan lho... Harus cepat-cepat diungkapkan agar cepat pula berbuah. Percayalah!”
Semuanya segera berkemas dan bersiap untuk pulang.
“Din, kamu mau ikut? Aku sama Karlin mau ke mall dulu. Mau lihat barang-barang baru.” Kata Ella mengajakku.
Sebenarnya aku ingin sekali ikut mereka. Sekadar untuk menghilangkan kepenatan dan melupakan sejenak perasaan yang terus mendesak dalam hatiku. Tapi sudah aku bilang tadi, uangku tinggal tiga ribu rupiah. Hanya cukup untuk ongkos pulang ke rumah.
Aku segera saja mencari-cari alasan agar bisa lolos dari ajakan mereka.
“Maaf. Sebenarnya aku ingin ikut, tapi tadi ibuku berpesan agar pulang lebih cepat. Aku disuruh bantu ibuku memasak, nanti malam saudara ada yang mau datang ke rumah. Jadi aku harus bantu-bantu di rumah.” Kilahku.
“Ya sudah deh,” jawabnya, “kalau begitu, kita hanya berdua.” Lanjutnya pada Karlin.
“Eh, aku duluan ya.” Pamit Irfan.
Sementara aku berkemas, memasukkan segala macam alat tulis dan alat potong-memotong, Ella dan Karlin menyusul Irfan. Mereka keluar dari ruangan ini dengan suara teriakan mereka. Aku tahu, mereka berteriak karena membicarakan puisiku dan si Umar. Aku tidak pernah menggubris siapapun jika ada yang membicarakanku dengan si Umar. Toh, aku memang tidak ada perasaan apapun sama dia.
Sekarang tinggallah kami berdua. Aris memang selalu pulang terakhir di antara kami berlima, karena dia yang memegang kunci ruangan ini. Aku menjadi salah tingkah dan grogi ketika dia memperhatikanku merapikan barang-barang, memasukkannya ke dalam tasku. Dia tidak berkemas karena memang tidak ada barang yang dikeluarkannya dari tasnya.
Dia antara kami berlima, kalau aku tidak pulang bersama Ella dan Karlin, aku selalu pulang terakhir sebelum Aris. Dari sinilah, hal itu tumbuh. Cinta itu tumbuh. Diam-diam aku sering memperhatikannya. Dan ini tak ada yang mengetahuinya.
Ketika kami tinggal berdua saja di ruangan ini, tidak jarang Aris menawarkan diri untuk mengatarku sampai rumah. Tapi tidak tahu kenapa, aku selalu saja menolak. Anehnya, Aris tidak pernah berhenti menawarkan diri untuk mengantarku. Sebenarnya, aku ingin sekali menerima tawarannya itu, tapi seperti ada perasaan yang selalu mengatakan untuk tidak menerima tawaran itu. Seperti di siang panas ini.
“Kamu mau langsung pulang?” tanya Aris tiba-tiba.
Sapaan Aris membuatku semakin gugup saja.
“Ya. Aku harus bantu-bantu pekerjaan rumah.”
“Untuk kesekian kalinya, aku ingin menawarkannya padamu. Bagaimana?”
“Menawarkan apa? Bagaimana apanya?”
“Ah, kamu ini pura-pura tidak tahu saja, Din.”
“Apa maksudmu?”
“Hari ini tidak ada yang membonceng motorku.”
“Jadi jok belakangmu kosong?”
“Ayolah, Din. Jangan berpura-pura.”
“Kamu tidak mengatakan maksudmu kan?”
“Baiklah, aku katakan. Din, untuk kesekian kalinya. Aku menawarkan padamu untuk mengantarmu sampai rumah.”
“Aris, untuk kesekian kalinya aku minta. Aku ingin naik angkot saja.”
Aku selesai berkemas. Aris berdiri. Kami keluar ruangan bersama. Aku melangkah lebih dulu dan Aris berada dibelakangku karena harus mengunci ruangan ini.
Setelah ruangan ini terkunci, Aris sedikit berlari mengejarku. Kami jalan bersama, aku menuju pinta gerbang dan dia menuju tempat parkir motornya. Tempat parkir motor di sekolah ini memang tidak jauh dari pintu gerbang. Sebenarnya ada jalan yang lebih dekat untuk menuju tempat parkir, tapi entahlah, kenapa Aris lebih memilih sejalan denganku.
Bukannya aku jual mahal padanya, tapi sudah kubilang tadi, aku menyimpan perasaan ini sedemikian rapi dalam hatiku hingga tak ada yang mengetahuinya, pun dia. Dan kukira, apa yang dilakukan Aris bukan merupakan sesuatu yang khusus atau istimewa bagiku, dia sering sekali menawarkan bantuan pada siapapun. Meski, sungguh! Aku sangat tersanjung. Aku berusaha menjawab pertanyaannya dengan setegas-tegas mungkin agar dia tidak mengetahui apa yang kusembunyikan. Tapi aku tetap menjaga keramahan agar tidak ada kesungkanan di antara kami. Dia memang orang yang baik.
“Din, tunggu!” Aris memanggil dari belakang. Aku menengok ke belakang dan dia berlari kecil menujuku.
“Kamu tidak ikut jalan-jalan sama Ella dan Karlin?”
“Kan sudah aku bilang tadi. Kukira kamu dengar.”
“Ya. Maksudku tidak banyak anak perempuan di sekolah yang mau bantu orang tuanya.”
“Ah, kata siapa? Banyak kok. Kamu aja yang tidak tahu.”
“Oh ya? Barangkali aku saja yang tidak tahu.”
“Mungkin.”
“Oh iya, Din. Aku melihat ada perkembangan dalam puisimu.”
“Apa iya?”
“Betul kok? Kamu tidak percaya?”
“Ya aku juga merasakannya.”
“Bagus kalau begitu. Tapi yang terakhir kamu bacakan tadi, aku rasa puisi yang paling bagus di antara beberapa puisimu yang pernah kubaca.”
Wow! Dia memuji puisiku.
Biasa memang, orang-orang di sekolah ini memuji puisiku. Guru Bahasa Indonesiaku juga sering malakukannya. Tapi yang ini lain, Aris memuji puisiku. Aku sedikit berbangga dalam hati, menggembung perasaanku. Ini pertama kalinya dia memuji karyaku.
“Kenapa tidak dikirim saja ke media massa?”
“Pak Rusli, guru Bahasa Indonesia, juga bilang begitu. Tapi kukira belum saatnya. Aku masih ingin menambah perbendaharaan puisiku sebelum aku kirim ke media.”
Ada dua Pak Rusli di sekolah kami, yang satu Pak Rusli guru matematika. Guru matematika ini terkenal galak. Banyak di antara siswa di sekolah yang tidak menyukainya. Meski begitu, aku akui dia sangat disiplin, baik pelajaran maupun peraturan sekolah.
“Menambah perbendaharaan ambil mengirimkannya ke media kan ada baiknya juga.”
“Iya, memang. Tapi aku lebih memilih caraku.”
“Bagus! Eh, aku duluan ya.”
Aris belok kanan menuju parkiran, sedang aku lurus menuju gerbang.
Sampai di gerbang, aku berdiri sendiri menunggu mobil angkutan kota yang mengarah ke rumahku. Suasana sekolah sudah sepi. Maklum sudah hampir jam setengah tiga. Di sekolah kami, jam pelajaran berakhir sampai jam dua siang. Jadi wajar saja jika jam segini sekolah sudah sepi.
Aku menengok ke arah kanan, berharap segera ada angkutan yang menghampiriku. Aku menjadi sedikit gelisah karena angkutan belum juga muncul dihadapankan. Ini sudah menit ke sepuluh aku berdiri sendirian dan menunggu anguktan kota lewat. Melelahkan betul hari ini. Panas matahari juga tidak surut-surut.
Ketika untuk kesekian kalinya aku menengok ke arah kanan, aku mendengar bunyi klakson motor di sebelah kiriku. Ketika menengok, aku sedikit kaget. Rupanya Aris belum pulang. Aku kira tadi dia lewat gerbang sebelah timur sekolah ini.
“Belum ada angkutan juga?”
“Belum. Kamu sendiri? Aku kira kamu sudah pulang dari tadi.”
“Belum. Tadi aku ketemu dengan Pak Romli. Kami ngobrol sebentar.”
“Ngobrolin apa saja?” tanyaku.
“Bukan apa-apa. Hanya ngobrol tentang kegiatan terdekat di sekolah, dan Pak Romli memintaku untuk menjadi ketua panitianya.”
“Oh ya? Kegiatan apa?”
“Lomba Pidato Bahasa Asing.”
“Wow keren!”
“Sepertinya begitu. Nanti juga dibantu mahasiswa kok.”
“Mahasiswa mana?”
“Tidak tahu. Pak Romli belum menjelaskan.”
“Kamu menerimanya?”
“Aku belum putuskan. Aku pikir-pikir dulu.”
“Terima saja. Jarang-jarang lho siswa dapat kesempatan begitu.”
“Iya. Aku pikir juga begitu.”
Ketika kami tengah ngobrol, tiba-tiba dari arah belakang ada suara klakson motor berbunyi. Aku dan Aris sempat kaget. Baru saja kami membicarakannya, orangnya muncul di belakang kami. Aris mendorong motornya sedikit ke depanku untuk memberikan jalan pada Pak Romli. Pak Romli maju dan mengisi tempat Aris tadi yang kini kosong.
“Dina belum pulang?”
“Belum, Pak. Nunggu angkutanm, lama sekali.”
“Sudah, pulang sama Aris saja. Kalian terlihat cocok lho!” Pak Romli tertawa.
“Ah, Bapak ini ada-ada saja.” Aku membayangkan mukaku sedikit merah karena diledek Pak Romli tapi aku mencoba menyembunyikannya dari Aris. Aris hanya tersenyum-senyum sedikit.
“Bapak duluan ya.”
“Ya Pak hati-hati.” Jawabku hampir bersamaan dengan Aris.
Kami hanya diam. Hanya suara bising knalpot dan klakson kendaraan yang berseliweran di depan kami. Aris melihat-lihat ke arah jalan.
“Kamu tidak pulang dulu?” aku mencoba memberanikan diri bertanya lebih dulu.
“Betul, kamu tidak mau aku antar?”
“Terima kasih. Tapi aku lebih suka naik angkot.”
“Baiklah. Kalau begitu aku temani kamu nunggu angkot.”
“Tidak usah, kamu pulang saja dulu.”
“Sudah tidak apa-apa.”
Untuk kedua kalinya dalam hari ini aku tersanjung dengan apa yang dilakukan Aris padaku.
Aris segera turun dari motornya dan menyangganya dengan standar. Dia berdiri di sampingku. Aku kembali grogi. Jari-jariku juga merasakannya.
Udara semakin panas saja kurasakan. Angin yang bertiup dari arah utara membuat rambutku yang hanya sebahu tergerai dan menutupi pandanganku. Aku lupa mengikat rambutku dengan karet pengikat rambut. Biasaya aku tidak pernah lupa mengikat rambutku. Tapi entahlah untuk hari ini. Tak ada alasan untuk menjelaskannya. Aku menyibakkan rambutku. Aku selipkan beberapa helai rambut ke daun telinga. Aku membayangkan rambutku sangat kacau karena angin kencang siang.
Tidak lama setelah Aris berdiri di sampingku dan kmai belum sempat ngobrol lagi angkutan datang dan aku bersiap-siap untuk menaikinya.
“Ris, itu angkutan sudah datang. Aku duluan ya.”
“Ya. Hati-hati.”
“Terima kasih sudah menemaniku.”
“Sama-sama. Hati-hati.”
“Kamu juga hati-hati.”
Angkutan kota itu mendekat ke arah kami dan aku sedikit maju ke pinggir jalan dan melambaikan tangan. Sopir angkutan menghantikan mobilnya tepat di depanku. Aku meraih pegangan di pingir pintu dan menarik diriku untuk naik ke dalam angkutan. Aku melambaikan tangan kepada Aris ketika sudah di atas mobil. Aris pun melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan. Mobil angkutan yang kutumpangi kini mesinnya menderu dan melaju meninggalkan Aris sendirian. Aku belum lagi ingin duduk, memperhatikan Aris yang semakin jauh dan terlihat semakin mengecil. Ketika sopir membelokkan mobilnya, aku baru kebingungan mencari tempat duduk.
“Belakang sini kosong, Mbak.” Kata Kernet bis angkutan.
“Iya, Pak.”
Aku melangkah pelan menuju kursi yang ditunjuk Kernet angkutan ini. Kursinya kosong dan aku duduk di pinggir dekat kaca. Aku memang lebih suka duduk dekat kaca karena bisa melihat-lihat apa saja yang dilalui bis angkutan kota setiap kali berangkat dan pulang sekolah. Hal yang paling kusuka ketika naik bis adalah memperhatikan aspal jalan raya yang seolah-olah merupakan bagian dari kehidupanku.
Aku pernah membayakan diriku jadi aspal jalan raya karena dia begitu berjasa. Mengantarkan setiap saja ke tempat tujuannya. Tapi malang nasibnya, dia selalu berada di bawah dan diinjak-injak. Meski begitu, aku kira aspal jalan raya itu tidak pernah mengeluh. Bukankah itu sudah menjadi tugas dan fungsinya? Inilah yang kupikirkan, tidak mengeluh. Dalam setiap keadaan, selalu saja ada yang dikeluhkan manusia. Tentang hujan misalnya, kalau hujan turun, banyak orang memaki-maki hujan dan menganggapnya hanya mendatangkan bencana saja. Namun jika hujan tidak turun, orang akan mengutuki panas karena membuat gerah dan membuat kulitnya jadi terbakar dan meminta hujan diturunkan. Ah, aku jadi ingat, dalam rapat tadi Aris mengatakan akan mencari berita tentang bencana banjir yang melanda kota ini. Apakah Aris akan menulis hal yang sama dengan yang kupikir tentang hujan dan panas. Aku jadi tersenyum-senyum sendiri.
Dalam laju mobil angkutan kota, pada kaca yang tembus pandang, aku perhatikan setiap kendaraan yang melewatinya dan yang datang dari arah berlawanan. Dari arah yang berlawanan, aku melihat seorang lelaki sedang mengendarai sepeda motor. Tubuku seketika menjadi hangat dan deg-degan. Persis! Ia sangat mirip dengan Aris. Ah, aku mencoba mengilah dari apa yang baru saja aku lihat. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa apa yang baru saja aku lihat adalah karena dalam pikiranku, saat ini, sedang terisi bayangannya hingga aku membayangkan dirinya pada apa saja yang aku lihat.
Semakin aku mengelak, semakin ah... Sungguh! Aku tidak membuat-buatnya. Dia terus muncul dalam benakku.
Aku butuh luapan! Tanganku membuka tas dan merogoh isi di dalamnya. Tanganku mengambil buku catatan harian. Aku membukanya dan memegang bolpoin berwarna biru yang selalu ada dalam buku catatan itu.

Angin menghembusku
Menerpaku
Aku hirup
Kamu di dalamku
;mataku, benakku, jantungku.

Sampai pada kalimat itu, imajinasiku berhenti, tak mau bergerak. Aku mencoba membuka-buka dalam pikiranku, mencoba menemukan kata-kata yang ingin ditulis tanganku. Tapi ini terasa sulit.
Aku mengangkat kepalaku yang dari tadi menunduk karena menulisi buku catatan harian. Sedikit terasa pegal kepalaku. Sedikit gerakan akan membuatnya terasa enak kembali. Aku putar sedikit ke arah kiri dan kemudian ke arah kanan. Ketika aku sedikit memutar kepala ke arah kanan, aku melihat Aris di sebelahku, di sebarang kaca. Rupanya dia mengejarku. Ketika attapan kami berpapasan, dia memberikan senyumannya. Dan aku masih terdiam kebingungan melihat yang dilakukannya. Dia sudah gila! Mengejarku yang sedang naik angkutan kota.
“Aku ingin mengantarmu sampai rumah.” Katanya keras sekali.
Aku tak bisa menjawab apa-apa. Mulutku hanya ternganga tak mengeluarkan kata-kata. Rupanya dia tahu kalau aku mengkhawatirkannya.
“Aku akan baik-baik saja.” Katanya lagi.
Ini tindakan bodoh, tindakan berbahaya. Tubuhku terasa hangat dan keringat kurasa mengaliri tubuku. Sekarang mulutku jadi berat, aku ingin mengatakan padanya supaya dia tidak usah melakukan ini. Aku ingin mengatakan padanya, tunggu saja aku di rumah, jangan lakukan ini di jalan, ini berbahaya. Tapi mulutku berat, tidak bisa berbicara apa-apa. Aris! Aku mohon menepilah dari tengah jalan.
Dari arah berlawanan, aku melihat mobil kijang melaju dengan kecepatan cukup tinggi karena akan menyalip mobil di depannya yang melaju lebih lambat. Bis yang aku tumpangi juga tidak mau kalah kencang karena ingin ngejar setoran. Sedang Aris juga memacu motornya dengan kecepatan tinggi agar bisa sejajar dengan tempat dudukku di dalam bis. Dia terus saja melaju mengikuti kecepatan bis yang semakin kencang. Saat kulihat mobil kijang tadi akan melewati mobil di depannya, aku melihat... aku melihatnya... dengan mataku sendiri... Aris...
Aku ingin berteriak tapi mulutku tak bisa mengucapkan apa-apa. Aku tidak tega. Aku tutup kedua mataku dengan telapak tangan.
“Mbak. Mbak!”
Sialan! Aku cuma melamun. Kernet itu membangunkan lamunanku.
“Ongkosnya.”
“Iya, Mas. Maaf!”
Aku memberikan dua ribu padanya dan dia pun berlalu dari hadapanku.
Aku tersenyum-senyum sendiri. Ini seperti dalam adegan di sinetron-sinetron layar kaca. Tidak kukira adegan di sinetron-sinetron itu akan tersimpan di memori dalam benakku. Aku hampir saja tidak percaya dengan apa yang terjadi baru saja. Mungkin ini karena aku terlalu memikirkannya, Aris.
Tak terasa ternyata bis ini sudah hampir sampai di depan gang menuju rumahku. Aku berdiri dan mendekati pintu untuk turun.
“Kiri, Mas.” Kataku pada Kernet bis itu untuk menghentikan bisnya.
Bis berhenti tepat di depan gang menuju rumahku. Kernet turun dulu untuk memberiku jalan. Aku turun dan mesin bis menderu meninggalkanku. Aku berjalan kaki menuju rumah. Seratus meter lagi aku akan sampai rumah kemudian istirahat, tidur. Tak ada acara di rumah. Hanya alasan untuk menghindar dari ajakan Ella dan Karlin kalau di rumahku akan ada saudara yang akan datang ke rumah.
Ketika sampai di rumah, melihat ibu di ruang keluarga sedang menonton televisi. Ayah pulang, begitu pula kakak. Aku menyapa ibu lalu ke kamar.


II

SUDAH setengah jam waktu waktu berlalu tanpa aku bisa menuliskan apapun. Duduk di kursi, hanya menatap kertas kosong dan disoroti lampu belajar. Tangan kananku kini meletakkan bolpoin yang dari tadi tak mengeluarkan tintanya dan memgang saklar lampu belajar.
Mataku masih menatap kertas kosong di depanku. Tangan kananku menekan-nekan saklar lampu belajar hingga lampunya mati-nyala mati-nyala. Aku mencoba memfokuskan pikiran lagi. Aku pegang bolpoin dan menulis sekenanya. Satu kata, dua kata, dan seterusnya mulai nampak di kertas. Tapi bukan kata-kata itu yang kuinginkan. Lalu kusobek kertas itu, meremasnya lalu membuangnya, bukan di tempat sampah. Entah kertas itu nyangsang ke mana, aku hanya melemparkannya ke belakangku.
“Kanapa sulit sekali? Ayolah!”
Aku mencoba untuk tetap optimis. Profil ini harus selesai malam ini agar besok tinggal urusan nempel-menempel. Pak Manto? Menulis tentang Pak Manto itu mudah karena aku akan bisa berfikir subyektif tentangnya. Tinggal menulis apa yang baik dan apa yang pernah dilakukannya. Itu saja sudah cukup dan besok pagi tinggal konfirmasi padanya dan meminta keterangan tentang karya apa saja yang pernah buatnya.
Tapi dalam pikiranku bukan yang sosok Pak Manto yang ingin kutuliskan, melainkan Aris. Aku ingin menulis tentang dirinya untuk kolom profil mading edisi ini. Semakin aku berfikir tentangnya, semakin aku pusing dibuatnya. Tapi aku tak ingin menyerah, kembali aku pegang bolpoin erat-erat, mencoba menulis kembali.
“Siapa yang tak mengenalnya? Sosok laki-laki yang hampir selalu sibuk setiap hari di sekolah ini. Kecakapannya dalam berorganisasi seringkali membuat kita kagum dan menggeleng-gelengkan kepala. Ia aktif menjadi pengurus OSIS sebagai kepala departemen media Infomatika, khususnya mading. Tidak hanya itu, ia juga aktif di hampir semua kegiatan ekstrakulikuler sebagai anggota senior. Kegiatan ekstrakulikuler yang diikutinya saat ini adalah pencak silat, pramuka, teater, bola voli, karya ilmiah remaja.
“Dialah Aris Susityo. Kepala departemen media infomatika ini juga merangkap sebagai pimpinan redaksi. Ide-idenya tentang bentuk dan konsep mading yang ditawarkan seringkali membuat awak madingnya berdecap kagum. Ia selalu membuat hal-hal yang baru dalam setiap terbitan mading di sekolah yang sudah sering kita lihat dalam setiap terbitannya. Hal yang paling nampak ia lakukan adalah terbitnya mading yang semula satu bulan sekali menjadi dua kali dalam sebulan. Hal ini merupakan kesetiaannya terhadap mading hingga hampir separuh dari waktunya ia korbankan untuk kepentingan mading. Meski begitu, ia juga tidak melupakan tugas-tugas dari kegiatan ektrakulikuler yang ia ikuti. Selain itu, Ia seringkali mendapat juara dalam beberapa perlombaan.
“Lomba baca puisi, misalnya. Sebulan yang lalu, ia baru menyabet juara satu dan telah membuat sekolah ini bangga padanya. Akan tetapi, ia bukanlah sosok manusia sempurna, setiap manusia pasti memiliki kekurangan. Hal ini juga terdapat pada dirinya. Untuk hal ini ia juga kembali membuat awak mading dan beberapa guru menggelengkan kepala karena prihatin. Meski ia lihai dalam berbagai bidang, nilai belajar dalam kelasnya, meski bukan nilai merah, termasuk nilai terendah dalam kelasnya.
“Di dalam kepengurusan mading periode ini, ia memunculkan kata-kata yang menjadi jargon dalam melaksunakan tugas dan kewajiban pengurus, yaitu Pengurus Mading Dilarang Bodoh!”
Ukh! Akhirnya selesai juga.
Lega rasanya bisa menyelesaikannya. Aku sandarakan punggungku di sandaran kursi untuk sejenak, sekadar untuk meluruskan punggung yang dari tadi duduk membungkuk. Setelah sedikit terasa enak, aku kembali membungkuk menghadap tulisan yang baru selesai. Aku baca kembali dengan pelan-pelan sebelum aku salin ke kertas yang akan ditempel di papan mading. Aku membacanya dengan sangat teliti dan memberikan tambahan sedikit-sedikit.
Setelah selesai membacanya, aku mengambil kertas warna hijau yang akan aku gunakan untuk menyalin tulisan profil tentang Aris. Kertas hijau itu aku potong hingga membentuk kotak sama sisi. Aku mulai berfikir kembali akan aku bentuk seperti apa kertas hijau segi empat sama sisi ini agar sesuai jika ditempel di papan mading. Background yang akan dibuat oleh Irfan adalah hutan dengan pohon-pohon hijaunya.
“Kertas hijau kurang cocok. Ia akan menjadi tidak kelihatan karena backgroundnya.” Kataku dalam hati.
Lalu aku melihat ke arah rak buku yang kujadikan sebagai tempat penyimpan kertas-kertas dan buku-buku. Dari tumpukan kertas yang berjajar itu, aku mengambil kertas yang berwarna coklat. Kukira warna coklat akan sesuai dengan warna kayu di hutan. Kertas coklat itu aku potong sama seperti kertas hijau tadi dan sisi-sisinya kubakar untuk membuat kesan klasiknya. Selesai dengan kertas itu, aku salin ulang tulisan tadi. Selesai juga akhirnya.
Ups! Catatan yang kutempel di dinding depan meja belajarku mengingatkan aku bahwa masih ada hal yang mesti dikerjakan, PR dari Pak Romi. Catatan di dinding itu memang untuk mengingatkan tentang hal-hal yang perlu kukerjakan berikut dengan dead linenya.
Aku ambil buku pelajaran sejarah yang tertata rapi di rak buku. Buku-buku itu aku tata berdasarkan urutan mata pelajaran setiap harinya. Besok pagi adalah rabu, berarti aku harus mengambil buku sejarah itu di kotak rak nomor empat. Begitu aku mendapatkan buku yang kucari, segera aku buka-buka halamannya. Soal dari Pak Romi Cuma satu tapi bagi kami sekelas hal itu sangat sulit meski jawaban dari soal itu sebenarnya sudah ada dalam buku paket sekolah.
Pak Romi memberikan soal tentang revolusi Perancis. Kami diminta untuk menguraikan terjadinya revolusi Perancis berikut dengan peristiwa-peristiwa yang menyertainya. Aku mulai mengambil buku tulis dan bolpoin dan menuliskan apa yang ada dalam buku setelah menemukan halaman yang menjelaskan tentang revolusi Perancis.
Aku mulai merangkum agarmenjadi sepadat mungkin, sebab kata Pak Romi pekerjaan kami tidak boleh sama persis dengan yang ada dalam buku paket. Jadi untuk menghindari itu, aku hanya mengalihbahasakan menjadi bahasaku sendiri.
Revolusi Perancis. Revolusi Perancis adalah suatu perubahan dratis yang terjadi dalam sistem kekuasaan pemerintahan negara dan masyarakat Perancis dari ssitem pemerintahan yang bersifat monarki-absolut menjadi sistem pemerintahan yang bersifat demokratis. Recolusi Perancis meletus karena protes terhadap kebobrokan hidup di lingkungan pemuka agama dan keangkuhan kaum bangsawan yang menimbulkan kebencian dan ketidakpuasan rakyat Perancis. Sebelum revolusi, masyarakat Perancis terbagi atas beberapa golongan, yaitu pemimpin militer, agama dan kaum tani serta para bangsawan. Tetapi setelah terjadinya revolusi di Perancis terjadi perubahan-perubahan yang cepat dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya.
Secara umum revolusi Perancis terjadi yang terjadi pada tahun 1789 itu disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya adalah pengaruh gerakan renaissance dan humanisme, pengaruh gerakan rasionalisme dan ausklarung, pengaruh perang kemerdekaan Amerika, dan pemerintah monarki absolut yang bobrok.
Sebelumnya, pada masa Raja Louis XIII (1610 – 1643), Perancis menganut sistem pemerintahan monarki absolut (1624). Pelopornya adalah Perdana menteri Richelieu (1624 – 1643), kemudian dilanjutkan oleh Perdana Menteri Mazarin (1643 – 1661). Ketika itu raja yang berkuasa adalah Raja Louis XIV (1643 – 1715). Sistem monarki absolut itu diilhami oleh buku Il Principe (The Prince), artinya Sang Raja, karangan Niccolo Machiavella (1527 – 1649) dari Italia. Inti ajarannya adalah tentang negara kekuasaan. Menurut Machiavelli, negara yang berdasarkan atas kekuasaan belakan, dapat diterima sebagai sesuatu yang sah asalkan tindakan itu ditujukan untuk kepentingan raja atau negara. Hal itu tercermin dalam ungkapannya yang terkenal: “menyucikan segala tindakan yang baik atau buruk, asalkan tujuan bisa tercapai”. Dengan kata lain, “menghalalkan segala cara”.
Di samping penyebab umum yang sudah saya tuliskan di atas, ada juga penyebab khusus yang melatarbelakangi terjadinya revolusi Perancis, yaitu sebagai berikut.
a.       Politik perang raja yang lalim dan tamak
Raja Louis XIV (1643 – 1715) adalah seorang pemimpin yang kejam dan tamak dan memerintah secara absolut. Ia memungut pajak tinggi dan memerintahkan rakyatnya pergi ke medan perang dalam rangka memperluas pengaruh dan wilayahnya, baik di dalam maupun di luar Eropa.
b.      Pemborosan keuangan negara
Sejak pemerintahan Raja Louis XV (1710 – 1774) dengan permaisurinya Madame de Pompadour yang hidup boros, negara mulai kekurangan dana. Keadaan ini terus berlanjut ketika pemerintahan beralih kepada Louis XVI (1774 – 1792) dengan permaisuri Maria Antoinette yang juga terkenal boros dan suka pesta-pesta serat menghambur-hamburkan uang. Begitu juga dengan bangsawan lingkungan istana. Akibatnya, negera kekurangan anggaran belanja.
c.       Beban pajak yang terlalu berat
Penduduk warga kota terutama para pengusaha dan pedagang diwajibkan membayar pajak yang sangat tinggi. Upaya tersebut ditempuh untuk menutupi kekosongan kas negara akibat perang dan pemborosan yang dilakukan oleh kalangan istana.
d. Penjualan Lettre de Cachet
Untuk menutupi kekosongan kas negara, Raja Louis XVI menjual Letrre de Cachet, yakni blanko surat yang sudah ditangdatangani agar dapat menangkap orang yang patut dipenjarakan tanpa proses pengadilan. Para pembeli blanko tersebut umumnya terdiri dari para bangsawan.
Disamping sebab-sebab yang sudah disebutkan di atas, muncul juga gerakan yang menentang kekuasaan absolut raja.  Gerakan tersebut dipelopori oleh warga kota (borjuis). Mereka adalah pendukung gerakan pembaruan seperti renaissance, humanisme, dan aufklarung. Di samping itu, para warga borjuis memiliki dasar-dasar kehidupan yang bercorak paura (kekotaan), seperti menjunjung tinggi asas persamaan, menjunjung tinggi asas kebebasan, menggunakan akal pikiran, menjunjung tinggi kehidupan yang bersifat dinamis.
Golongan borjuis semakin berpengaruh karena segala tindakan mereka didasarkan pada konsep pemikiran kekuasaan seperti yang dilontarkan oleh para pemikir kenegaraan, yakni John Locke, Jean Jaques Rousseau, dan Voltaire.
Saat keuangan negara semakin memburuk, Raja memanggil anggota Dewan Perwakilan Rakyat (Etats Generaux) untuk melakukan sidang. Tujuan dari sidang tersebut adalah untuk membahas usaha-usaha menaikkan pungutan pajak. Sidang Dewan Perwakilan Rakyat ini merupakan sidang yang pertama setelah seratus 175 tahun dibekukan. Akan tetapi, segala upaya ini gagal karena tidak adanya kesepakatan masing-masing golongan dalam dewan, terutama golongan ketiga (pedagang dan orang terkemuka) yang mayoritas menulak usulan raja.
Di ujung peristiwa ini, golongan ketiga mengadakan sidang sendiri pada tanggal 17 Juni 1789. tujuannya adalah menyusun konstitusi baru bagi negara Perancis. Upaya ini kemudian berlanjut dengan memproklamasikan Etats Generaux sebagai Dewan Nasional atau Perwakilan Bangsa Perancis (Assemblee Nationale). Tindakan itu sangat penting karena sidang dewan sebelumnya terdiri atas golongan-golongan, berubah menjadi sidang rakyat Perancis tanpa golongan.
Urutan terjadinya revolusi Perancis dimulai dari kekacauan yang terjadi di tengah rakyat Perancis, mendorong mereka untuk bangkit menentang kekuasaan absolut. Akhirnya pada tanggal 14 Juli 1789, penduduk kota Perancis menyerbu Penjara Bastille yang merupakan labang kekuasaan raja absolut sebagai tempat dipenjarakannya para pemimpin rakyat. Sejak penyerbuan tersebut, Perancis sementara waktu berada di bawah pemerintahan revolusi. Langkah awal pemerintahan revolusi adalah membentuk pasukan keamanan nasional yang dipimpin oleh Jenderal Lafayette. Pemerintahan ini selanjutnya membentuk Majelis Konstituante untuk menghapus hak istimewa raja, bangsawan, dan pendeta. Semboyan rakyat Perancis waktu itu hingga saat ini ialah liberte (kebebasan), egalite (persamaan), dan fraternite (persaudaraan) yang dicetuskan oleh J.J. Rousseau diabadikan bersama bendera nasional Perancis (merah-putih-biru) dalm posisi vertikal. Rakyat Perancis menjadikan tanggal 14 Juli 1789 sebagai Hari Nasional Perancis. Akhirnya Perancis menjadi negara kerajaan yang berkonstitusi (monarki-konstitusional) yang dibentuk pada tahun 1791 oleh Dewan Perancang undang-undang yang trediri dari dua partai (partai Feuillant dan Jacobin).
Kemudian pada tahun 1793 – 1794 pemerintahan Perancis disebut sebagai pemerintah teror karena sikap dan tindakan pemegang pemerintahan sangat keras, tegas, bahkan radikal terhadap upaya-upaya penyelamatan negara. Tindakan ini dilatari oleh situasi yang semakin tegas atas dua partai atau kelompok kekuatan yakni Girondin dan Motagne.
Melihat situasi demikian, kelompok Montagne yang berkuasa di bawah pimpinan Robespierre (juli 1793 – 1794) mengambil sikap tegas dan keras sampai akhirnya membentuk pemerintahan teror. Pemerintahan yang menelan korban yang cukup banyak itu berakhir setelah berlangsung perebutan kekuasaan antara pengikut kelompok Girondin dan Montagne. Perebutan kekuasaan itu menjatuhkan hukuman pancung bagi Robespierre karena kemenangan Girondin atas Montagne, bahkan Maria Antoinette menjadi korban hukuman mati.
Pada tahun 1795 – 1799 lahirlah pemerintahan Directoire karena situasi mengerikan sebagai akibat revolusi yang sekana-akan menelan anak revolusi itu sendiri. Maksudnya, kelompok Montagne diburu dan dihukum mati karena persaingan kekuasaan di antara mereka yang mencetuskan revolusi. Pemerintahan ini adalah kukuasaan eksekutif yang dipegang oleh lima orang direktur. Kelimanya memiliki wewenang yang berbeda-beda sesuai dengan kepentingan-kepentingan yang diberikan oleh negara. Masing-masing menangani masalah ekonomi, pertahanan keamanan, politik, sosial, dan keagamaan.
Namun, pemerintahan ini tidak dipercaya oleh rakyat, bahkan memandangnya sebagai pemerintahan lemah karena banyak korupsi. Meskipun begitu, dari segi militer, Perancis mengalami kemajuan pesat berkat tokoh militer bernama Napoleon Bonaparte. Keadaan seperti ini dimanfaatkan oleh Napoleon untuk merebut kekuasaan Pemerintahan Directoire pada tahun 1799 dan sanggup menyelamatkan Perancis dari keruntuhannya.
Di bawah pimpinan Napoleon, Perancis bukan lagi negara demokrasi, melainkan pemerintahan Otokrasi dari Napoleon. Napoleon bertindak sebegai Konsul Pertama, Cambaceres Konsul Kedua, dan Lebrun sebagai Konsul Ketiga. Pada masa ini Perancis mencapai puncak gemilang. Napolen tidak hanya handal dalam militer tetapi ia juga mampu menjalankan tugas di bidang pemerintahan. Setelah empat tahun berkuasa sebagai konsul Republik Perancis, ia diangkat menjadi Kaisar Republik Perancis dalam suatu pemungutan suara.
Namun, yang terjadi selanjutnya adalah sebaliknya, model kekaisaran Napoleon menjurus ke arah sistem pemerintahan absolut yang tidak disukai oleh rakyat. Rakyat menjadi frustasi karena menurut rakyat Napoleon terlalu mudah membelokkan arah revolusi dan memberikan peluang kepada keturunan raja Louis XVIII (1815 – 1824), Raja Karel Charles X (1824 – 1830), dan Raja Louis Philipne (1830 – 1848).

Selesai mengerjakan PR Sejarah dari Pak Romi, punggungku terasa sakit dan pegal-pegal. Maklum sudah dua jam aku duduk di kursi ini. Mataku juga sudah mulai melemah. Sedikit gerakan ke kanan dan ke kiri, rasa sakit dan pegal-pegal sedikit hilang. Lalu aku berdiri siap-siap menuju kasur empuk yang siap kutiduri. Kasur itu selalu menggodaku untuk tidur di atasnya. Di samping empuk, spray yang kusarungkan padanya adalah warna kesukaanku, hijau.
Aku banting tubuhku ke atas kasur itu dan merentangkan kedua tangan dan kakiku. Setelah enak untuk berangkat tidur, aku meraih bantal yang berada disampingku dan kuletakkan dibawah kepalaku. Mulutku mulai menguap dan mataku berair. Aku rangkul guling, menghadap ke arah barat.
“Dina!”
Ah! Suara kakakku mulai mengusik kenyamananku untuk tidur.
“Ya!” jawabku singkat.
“Ada telepon buatmu.”
“Siapa sih malam-malam begini telepon?”
“Ella!”
Ukh! Malas sekali rasanya untuk bangun. Ella? Ada apa lagi sih? Dia memang biasa telepon jam segini dan biasanya pula yang dibicarakan tidak terlalu penting. Bukannya aku tidak mau meneirma teleponnya tapi ini hari aku ingin istirahat.
“Dina!”
“Iya, iya. Bentar!”
Dengan terpaksa aku bangun dan menuruni tangga dengan sangat malas. Aku hampiri telepon yang berada di ruang keluarga. Di ruang keluarga hanya ada kakakku yang sedang nonton film. Ayah dan ibu mungkin sudah tidur. Ayah memang selalu tidur lebih awal karena ia selalu pulang yang terakhir di antara aku dan kakakku. Ayah selalu sibuk setiap harinya, bahkan di hari minggu pun jarang sekali ia bisa diganggu. Untuk jalan-jalan sekeluarga saja, kami harus menunggu ayah punya waktu senggang.
“Angkat tuh sudah dari tadi!” kata kakakku.
“Iya. Cerewet banget sih!”
“Bukan masalah cerewet, tapi kasihan Ella sudah nunggu lama!”
Aku tidak mempedulikan omelan kakakku. Segera aku angkat gagang telepon yang sudah terbuka.
“Hai, ada apa?” kataku menyapa duluan.
“Dari mana saja sih?”
“Dari kamar.”
“Ngapain?”
“Nanya lagi!”
“Ya, siapa tahu lagi nglamunin cowok.”
“kamu itu pikiran cowok melulu!”
“Sori deh, sori.”
“Ada apa? Ngomong! Sudah ngantuk nih!”
“PR-mu sudah selesai?”
“Yang mana?”
“Memangnya PR-nya ada berapa sih?”
“Ya ampun, Ella. Dari dulu kamu tidak pernah berubahnya. Katanya ingin sekolah dengan bener?”
“Lho, siapa yang tidak bener?”
“Itu buktinya. PR saja kamu tidak tahu.”
“Ya maklumlah, Din. Kan madingnya lagi dead line.”
“Itu bukan alasan!”
“Ah. Kasih tahu aja apa PR-nya?”
“Sejarah!”
“Itu aku sudah. Terus apa lagi?”
“Bahasa Indonesia!”
“Hah! Bahasa Indonesia? Capek deh!
“Aku tahu, kamu benci bahasa Indonesia. Ya, kan?”
“Kira-kira begitu.”
“Kenapa kamu benci bahasa Indonesia? Itu kan bahasa kita.”
“Lagian pelajaran kok me-kan, di-kan, imbuhan me, akhiran i. Kan tidak ada mutunya, Din.”
“Ya protes saja sama sekolah. Jangan protes sama aku. Kamu mau ngerjain tidak?”
“Ya, iyalah!”
“Genit, ah!”
“Hei, PR-nya gimana? Suruh ngapain?”
“Suruh cari makna kata,”
“Maksudnya?”
“Kamu itu susah sekali kalau pelajaran bahasa Indonesia! Bu Yuni kasih beberapa kata untuk dicari maknanya. Gitu!”
“Terus kata-katanya apa saja? Cari maknanya di mana?”
“Di mall!”
“Aku serius ini!”
“Habis kamunya aneh! Cari maknanya kok di mana. Ya di kehidupan sehari-hari dan buku. Bisa juga di Kamus Besar Bahasa Indonesia.”
“Iya deh, iya. Terus kata-kata apa saja?”
“Mana aku ingat.”
“Tolong dong, Din.”
“Huh! Dasar pemalas! Ya sudah aku ambil buku dulu. Ini mau dimatiiin dulu tidak?”
Meskipun aku sedikit jangkel setiap kali ada PR bahasa Indonesia, aku tidak tega mendengar sahabat baikku ini memelas.
“Tidak usah! Cepetan tapi ya!”
“Maksa!”
“Bantunya ikhlas tidak sih!”
“Cerewet!”
 Aku dan Ella memang sering saling memarahi jika salah satu dari kami ada yang pemalas. Bahkan bukan hanya kami berdua saja, tapi Karlin juga. Kami sudah seperti saudara sendiri.
Aku berlari-lari kecil menuju kamar dan mencari-cari buku bahasa Indonesia yang sudah aku siapkan dari tadi. Begitu kutemukan buku itu, aku segera turun lagi menuju telepon rumah berada.
“Hallo.”
“Sudah, Din?”
“Belum!”
“Bacakan cepet!”
“Sabar dikit! Yang pertama, makna apakah yang disandang kata bebas parkir?, ke dua, samakah arti negeri dan negara?,  ke tiga, apakah arti waris, warisan, mewarisi, mewariskan, dan pewaris?, ke empat, apa makna kata canggih? Ke lima, apa yang dimaksud dengan kata aktivis?, ke enam, apa yang dimaksud dengan kata jihad?, ke tujuh, makna apakah yang disandang kata prakiraan itu?, ke delapan, apakah arti kumpul kebo? Ungkapan bahasa Indonesia yang benarkah itu?, ke sembilan, benarkah namun demikian dipakai sebagai pengungkap hubungan antarkalimat?, ke sepuluh, apakah makna debirokratisasi dan deregulasi? Sudah. Cuma itu.”
“Yang terakhir diulangi dong.”
“Apakah makna de-bi-ro-kra-ti-sa-si dan de-re-gu-la-si itu?” aku diam sebentar menunggu Ella ngomong.
“Sudah belum.” Kataku kemudian.
“Sudah. Apa aku bilang. Bahasa Indonesia itu PR-nya tidak mutu. Masa PR kok mencari arti kata.”
“Ya, terserah kamu mau ngerjain atau tidak.”
“Ya jelaslah, Din. Tapi... he...he...”
“Wah, pertanda buruk nih.”
Sudah kuduga, Ella pasti bertanya tentang jawabanku. Suara senyuman yang aku dengar dari telepon menandakan bahwa dia memintaku untuk membacakan jawabanku.
“Tidak keberatan kan, Din?”
“Apanya?”
“Jangan pura-pura tidak tahu.”
“Apanya?”
“Bacakan, Din?”
“Bacakan apa?”
“Jawabanmulah!”
“Duh, gimana ya? Udah malam nih.”
“Cuma sebentar kok, Din.”
“Bukan sebentar tahu! Jawabannya tuh panjang banget!”
“Bacakan secara singkat deh. Tidak akan sama kok, jawbaanmu dengan jawabanku.”
“Ya, iyalah. Kamu kan pinter banget kalau disuruh ngedit. Tapi awas saja kalau sampai sama.”
“Tenang saja!”
“Tidak, ah!”
“Ayolah, Din. Kamu kan pinter bahasa Indonesia. Masa tidak mau membantu sahabatmu ini yang sedang dalam kesulitan.”
“Ini sih namanya bukan membantu sahabat, tapi nyontek!”
“Kali ini aja.”
“Setiap kali juga kamu bilang kali ‘ini aja’”
“Nanti aku aku pasang pengumuman deh kalau kamu cantik.”
“Ih, rayuan gombal.”
“Pliss...”
“Keuntungan bagiku apa?”
“Coklat satu batang.”
“Cuma satu?”
“Dua deh.”
“Kalau begitu aku tutup saja teleponnya ya?”
“Tiga, tiga!”
“Tiga dan kamu tidak boleh minta!”
“Dasar pelit!”
“Itu hukuman buat pemalas.”
“Ya sudah. Mulai!
“Nih jawaban pertama. Kata bebas parkir. Kata bebas parkir diartikan orang ‘dibebaskan dari pembayaran parkir’. Untuk menyatakan arti itu, sebaiknya digunakan kata parkir gratis atau parkir cuma-Cuma dalam kurung free parking. Bebas parkir seharusnya diartika ‘dilarang parkir’ dalam kurung no parking. Jadi, keduanya dapat digunakan dengan makna yang berbeda.
“Sudah?”
“Yang ke dua.”
“Samakah arti negeri dan negara? Kata negeri tidak sama artinya dengan negera. Negeri berarti ‘kota, tanah tempat tinggal, wilayah atau sekumpulan kampung dalam kurung distrik di bawah kekuasaan seorang penghulu dalam kurung seperti Minangkabau’. Kata negeri bertalian dengan ilmu bumi. Negara berarti ‘persekutuan bangsa dalam suatu daerah yang tentu batas-batasnya dan diurus oleh badan pemerintahan yang teratur’. Kata negara berpadanan dengan kata state dalam kurung Inggris atau staat dalam kurung Belanda. Kata negara digunakan jika bertalian dengan sudut pandang politik, pemerintahan, atau ketataperajaan. Berdasarkan pengertian kedua kata itu, kita telah mengubah bentuk pegadaian negeri, kes negeri, ujian negeri, menjadi pegadaian negara, kas negara, ujian negara. Sejajar dengan perubahan itu, jika kita bertaat asas pada pengertian negeri dan negera, sebaiknay bentuk pegawai negeri, sekolah negeri, perguruan tingi negeri, pengedilan negeri diubah menjadi pegewai negara, sekolah negara, perguruan tinggi negara, pengadilan negara jika memang badan-badan itu diurus oleh badan pemerintah secara teratur.
“Ke tiga,”
“Lebih pelan ya, Din.”
“Apakah arti waris, warisan, mewarisi, mewariskan, dan pewaris?” lanjutku tanpa mempedulikan permintaan Ella meskipun aku menurutinya. “Waris berarti ‘orang yang berhak menerima pusaka dalam kurung peninggalan orang yang telah meninggal’. Warisan berarti ‘harta pusaka peninggalan’. Mewarisi berarti satu ‘mendapat pesakan dari titik-titik’, misalnya tidak ada yang berhak mewarisi harta benda orang itu selain anak cucunya atau karib baidnya. Dua ‘menerima sesuatu yang ditinggalkan’, misalnya bangsa Indonesia nilai budaya luhur peninggalan nenek moyang yang hidup di zaman dulu.
Mewariskan berati satu ‘memberi pusaka peninggalan kepada titik-titik’, misalnya saya akan mewariskan tiga perempat dari harta kekayaan kepada anak-anak saya. Dua, ‘menjadikan waris’, misalnya meskipun bukan waris jika diwariskan oleh oleh orang yang meninggal itu menjadi waris juga. Pewaris berarti ‘yang memberi pusaka’, misalnya Panglima Besar Sudirman adalah pewaris perjuangan, melawan penjajahan Belanda, bagi bangsa Indonesia.
“Capek, El. Ngantuk lagi!” Aku membuat mulutku menguap sebagai alasan untuk mengeluh. Tapi dasar Ella, tidak akan menyerah kalau keinginannya belum terpenuhi.
“Bentar, Din. Tahan sebentar ya kantuknya.”
“Aku ini sudah ngantuk dari tadi.”
“Pliiss...”
“Iya, iya!”
“Ngomong-ngomong di situ kok ramai, Din?”
“Kakakku lagi nonton film.”
“Woi, Ella. Garap PR tidak boleh nyontek. Aku bilangin gurunya lho!” celetuk kakakku begitu aku menyebutnya.
“Tuh, dengar tidak kakakku ngomong? Tidak boleh nyontek!”
“Biarin! Kakakmu dulu juga suka nyontek kakakku kok.”
“Apa iya?”
“Tanyain aja!”
“Kak, apa dulu kakak suka nyontek Mbak Uni, kakaknya Ella.”
“Sampai sekarang juga masih.”
“Ih malu-maluin! Mahasiswa masih suka nyontek.”
“Yang penting bukan nyonteknya, tapi otaknya. Uni kan pintar, kalau aku cerdas. Cerdas nyontek. He... he...”
“Dasar!”
“Lanjut, El,” kataku pada Ella. “Yang ke berapa?”
“Ok! Ke empat.”
“Kata canggih. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan Poewadarminta Canggih bermakna ‘suka mengganggu dalam kurung ribut, rewel’. Kalau demikian, peralatan yang canggih bermakna ‘peralatan yang bawel’.
“Pada mulanya kata canggih itu bermakna ‘suka mengganggu, ribu, bawel’. Namun, untuk kepentingan ilmu dan dan teknologi, kata canggih itu diberi makna baru sehingga dapat menampung konsep yang disandang oleh kata sophisticated dalam kurung Inggris. Dengan demikian, kata canggih kini bermakna satu, ‘banyak cakap, bawel, ribut’, dua ‘suka mengganggu dalam kurung ribut’, tiga ‘tidak dalam keadaan wajar, murni, atau asli’, empat ‘kehilangan kesederhanaan yang asli dalam kurung seperti sangat rumit, ruwet, atau terkembang’, lima ‘banyak mengetahui atau berpengalaman dalam kurung dalam hal-hal duniawi’, enam ‘bergaya intelektual’. Jadi perlatan yang canggih bukan makna ‘peralatan yang cerewet’, melainkan ‘peralatan yang rumit dan peka’, seperti makna nomor empat. Sekarang yang ke lima,
“Santai saja.”
“Aku sudah ngantuk. Mau dilanjut, tidak?”
“Ya, ya!”
Aktivis. Aktivis adalah orang yang bekerja untuk kepentingan suatu organisasi politik atau organisasi massa lain. Dia mengabdikan tenaga dan pikirannya, bahkan seringkali mengorbankan harta bendanya untuk mewujudkan cita-cita organisasi. Misalnya, beberapa aktivis lembaga sosial masyarakat mengingatkan pentingnya lingkungan hidup yang sehat. Ke enam. Jihad. Kata jihad berasal dari bahasa Arab, yaitu al jihad, yang berarti ‘perjuangan’. Dalam bahasa Indonesia, kata jihad digunakan dengan pengertian sebagai berikut.
Jihad adalah usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kebaikan menusia secara keseluruhan. Misalnya, kita berjihad melawan kemiskinan. Makna jihad yang lain ialah perjuangan membela agama dengan cara mengorbankan harta benda, jiwa, dan raga. Contohnya, orang yang berjihad di jalan-Nya adalah orang yang berjiwa mulia. Prakiraan, selanjutnya.
“Kata prakiraan berpangkal pada prakira. Prakira berpangkal pada bentuk pra- dan kira. Di dalam bahasa Indonesia bentuk pra- mempunyai makna yang beragam, tetapi masih bertalian. Hal itu bergantung pada kata yang digabung dengan pra- titik dua. Satu, pra- bermakna dalam kurung di, muka, misalnya prakata. Dua, pra- dipakai dengan makna ‘sebelum’ atau ‘mendahului’, misalnya prasejarah, pra-Perang Dunia I. Tiga, pra- dapat juga bermakna sebagai ‘persiapan’, misalnya prasekolah, praseminar, prapromosi. Empat, pra- bermakna ‘terjadi’ atau ‘dilakukan sebelum peristiwa’ atau ‘perbuatan lain terjadi’, misalnya, prasangka, pracampur, prarekam.
“Kata kira dapat bermakna ‘menaksir, berhitung’. Misalnya, hendaknya kaukira dulu, berapa rupiah yang akan kaubelanjakan itu. Kata prakira mengandung unsur makna ‘hitung’ dan ‘sebelumnya’, jadi kata prakira berbeda maknanya dengan kira-kira yang juga berasal dari kata yang sama. Dari kata prakira dapat dibentuk kata memperakirakan yang bermakna ‘menghitung sebelumnya’ dan hasilnya disebut prakiraan yang bermakna ‘perhitungan sebelumnya’. Prakiraan adalah hasil memprakirakan, sedangkan prosesnya disebut pemrakiraan. Prakiraan cuaca digunakan dalam bidang meteorologi sebagai padanan weather forecast. Selain itu, padanan prakira untuk forecast memungkinkan terhindarnya dari keharusan menggunakan istilah peramal atau juru ramal.
“Kak bagi minumnya, dong.” Kataku pada kakakku yang sedang asyik menonton film.
Kakakku mengambil gelas yang berisi air putih dihadapannya dan menyodorkan tangannya yang sudah memegang gelas ke arahku. Aku segera meraihnya gelas itu dan menuangkannya ke dalam mulutku yang mulai kering karena banyak bicara. Aku berikan lagi gelas itu pada kakakku dan ia menyahutnya kemudian meletakkannya ke atas meja kembali. Matanya masih tertuju pada layar kaca di depannya.
“Haus ya?” tanya Ella.
“Sudah tahu, nanya!”
“Besok aku traktir deh!”
“Beneran ya!”
“Santai saja.”
“Baksa sama jus alpukat susu ya?”
“Boleh. Tapi sekarang dilanjutkan ya.”
“Yang ke berapa sekarang?”
“Kumpul kebo!”
“Apa?”
“Soal yang ke delapan itu kumpul kebo, sayang.”
“Iya, iya! Kirain ngomong saru.”
“Pikiranmu saja yang kotor.”
“Lanjut! Kumpul kebo yang berarti ‘hidup bersama sebagai suami istri di luar pernikahan’ dipakai orang untuk menggantikan kata samenlevel (Belanda). Ungkapan ini bukanlah yang benar dalam bahasa Indonesia karena kumpul kebo diambil dari bahasa daerah. Jika kita menghendaki kumpul kebo menjadi ungkapan bahasa Indonesia, bentuknya harus kita ubah menjadi kumpul kerbau karena kata Indonesia yang benar adalah kerbau bukan kebo.
Namun demikian, selanjutnya. Kata namun mempunyai makna sama dengan tetapi, menghubungkan dua hal yang berlawanan. Bentuk tetapi demikian yang seharusnya yang seharusnya sama dengan namun demikian tidak pernah dipakai karena janggal. Atas dasar itu, bentuk namun demikian boleh dikatakan sebagai bentuk yang tidak benar. Bentuknya yang benar adalah namun. Sebagai kata penghubung, namun dapat digunakan sebagai penghubung antarkalimat dalam paragraf. Soal terakhir, makna kata debirokrasi dan deregulasi,
“Kata birokrasi berasal dari kata bureaucracy yang bermakna ‘administrasi yang dicirikan oleh kepatuhan pada aturan, prosedur, dan jenjang kewenangan sehingga sering mengakibatkan kelambanan kerja, kerumitan perolehan hasil, dan penundaan gerak’. Sedanghkan kata birokratisasi yang berasal dari bureacratization bermakna ‘hasil tindakan yang berhubungan dengan, atau yang bercorak birokrasi’. Kata regulasi yang berasal dari regulation bermakna ‘tindakan pengurusan berbagai aturan dalam kurung yang berkekuatan hukum’.
“Unsur de- yang melekat pada kata serapan dari bahasa asing, misalnya bahasa Inggris, bermakna, satu, melakukan hal yang sebaliknya. Dua, mengalihkan sesuatu dari. Tiga, mengurangi. Empat, suatu ubahan dari. Dan lima, keluar dari. Jadi debirokratisasi bermakna ‘tindakan atau proses mengurangi tata kerja yang serba lamban dan rumit agar tercapai hasil dengan lebih cepat’, sedangkan deregulasi bermakna ‘tindakan atau proses mengurangi atau menghilangkan segala aturan’. Perlu diingat bahwa pada kedua bentuk itu sudah terkandung makna tindakan. Oleh sebab itu, jika kita akan membentuk kata kerja tidak perlu menambah imbuhan –kan. Jadi cukup mendebirokratisasi atau menderegulasi.
“Selesai...”
Lega juga akhirnya dan berarti aku bisa dengan segera menuju tempat tidur. Aku diam sejenak menunggu Ella komentar. Beberapa detik aku tunggu, Ella sama sekali tidak mengeluarkan suara apa pun. Hingga satu menit, dua menit, tiga menit...
“Ella... Ella...? Kamu masih di situ?”
Belum juga ada jawaban. Aku sedikit gelisah. Meskipun kami tidak pernah “akur”, tapi kami saling menyayangi. Jadi wajar saja jika aku sedikit khawatir padanya. Hal itu sama saja jika terjadi sesuatu pada Karlin. Kami menjadi sahabat sudah sejak kelas satu SMP karena selalu satu kelas. Sampai sekarang berarti sudah empat tahun lebih.
“Ella?”
Kakakku mendengar suaraku memanggil nama Ella dengan nada sedikit gelisah dan menengok ke arahku. Ia mendongakkan kepalanya beberapa kali dan matanya terlihat penasaran menandakan ia juga ingin tahu keadaan Ella. Aku mengangkat kedua bahuku dan berkata tidak tahu tanpa suara sebagai jawabanku. Kakakku mendekatkan tubuhnya ke tubuhku dan meletakkan kupingnya di belakang gagang telepon yang kupegang.
“Panggil lagi!” suruh kakakku.
“Ella.” Aku memanggilnya.
Belum juga ada jawaban.
“Ella.” Kakakku ikut memanggil dengan nada yang lebih keras.
Sepi di sana. Ella tak menjawab apa-apa. Kakakku juga mulai ikutan, ia naikkan kedua kakinya ke atas kursi. Mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, melekatkan telinganya ke balik gagang telepon, lebih dekat, lebih lekat. Mata kami saling berpandangan menunggu ada yang bicara di antara kami untuk memberikan solusi tindakan, tapi kami sama-sama diam dan memilih menunggu ada jawaban dari seberang sana.
Hanya suara kresek-kresek yang terdengar seperti suara jika telepon digesek-kesekkan pada suatu benda atau seperti suara angin yang bertiup kencang.
“Din, tolong ulangi makna debiroktarisasi.” Kata Ella tiba-tiba.
Kami sunguh kaget mendengar jawaban Ella yang tiba-tiba itu. Kakakku bahkan sampai menjauh dari gagang telepon dan menghembuskan nafas berat dan mengelus dadanya. “Ya ampun! Salahku apa Tuhan?” jawabannya latah. Lalu dengan perasaan jengkel dan mencibirkan bibirnya ke arahku, ia melangkah menjauh dan duduk lagi menghadap televisi.
Aku sendiri masih dalam keadaan kagetku dan belum menyahut Ella. Aku shok!
“Din, Dina!”
Aku mendengar suara Ella memanggil namaku tapi mulutku belum bisa menjawabnya padahal aku ingin sekali menjawabnya dan memarahinya.
Aku diam cukup lama hingga kakakku terheran-heran dan melihatku. Kakakku akhirnya mendektaiku dan mengoyang-goyangkan tubuhku.
“Dik. Dik...? Kamu ini sama saja dengan Ella. Bikin bingung orang saja.”
Aku tersadarkan oleh kakakku. Aku mendengar suara Ella memanggil-manggilku kembali.
“Kamu kenapa, Din? Kok kakakmu bilang kalau kamu sama dengan aku. Memangnya aku ngapain bisa bikin bingung?”
“Kamu merasa tidak berdosa, to?”
“Memangnya aku berbuat apa pada kalian?”
“Tadi kamu kemana saja?”
“Tidak kemana-mana. Dari tadi aku memegang gagang telepon ini.”
“Terus kenapa kamu diam lama? Tidak menjawab panggilanku, he!”
“Aku terlalu fokus memikirkan apa yang kamu bicarakan dan otakku mencernanya dengan sangat seksama jadi ketika begitu selesai tadi otakku masih memperosesnya. Kesimpulannya aku belum paham dengan satu kata, debirokratisasi.”
“Tapi kan kamu bisa menjawab ketika aku memanggilmu?”
“Memanggilku?”
“Aku tidak mendengar kamu memanggilku.”
“Ah, ya sudahlah.”
“Ulangin.”
“Apanya?”
“Heeggh! Kamu budek ya? Debirokratisasi!”
Debirokratisasi bermakna ‘tindakan atau proses mengurangi tata kerja yang serba lamban dan rumit agar tercapai hasil dengan lebih cepat’. Sudah!”
Untuk kesekian kalinya aku jengkel pada Ella.
“Oe! Sudah belum?!”
“Iya, ya sudah tuan ratu. Marah-marah terus dari tadi.”
“Habis kamunya, sih.”
“Apalagi?”
“Tugas mading udah selesai, Din?”
“Sudah. Kenapa? Kamu belum selesai, minta digarapin lagi? Ogah!”
“Ya maaf, Din. Aku sudah selesai dari tadi. Eh, Din, ternyata SMP 6 keren banget.”
“Memangnya di sana ada apa?”
“Mereka akan mengadakan lomba seni dan sains. Kerennya lagi panitianya terdiri dari siswa-siswinya.”
“Lombanya apa saja sih?”
“Memangnya kamu belum mendengar kabarnya?”
“Belumlah.”
“Ada lomba baca puisi, lomba mading, lomba karya ilmiah remaja, seminar narkoba, dan di akhir lomba ada malam puncak yang dengan menampilkan band-band pelajar yang ada di sekolah mereka.”
“Wow keren!”
“Kita mesti ikutan, Din.”
“Harus tuh!”
“Pak Pimred sudah tahu?”
“Ya sudahlah. Kan dia yang suruh cari kabar itu.”
“Kok pengumumannya belum sampai ke sekolah kita ya?”
“Kata Farah, temanku yang sekolah di sana, dia ketua panitianya, pengumuman sudah diantar ke sekolah kita tadi pagi. Jadi mungkin baru besok pagi dipasang sama Pak Arifin.”
“O, begitu. Ya sudah, El. Kita bicarakan ini besok saja. Aku sudah ngantuk.”
“Ok. Aku juga pengen tidur kok. Terima kasih, sahabatku. Have a nice dream.”
“Sama-sama.”
Aku letakkan gagang telepon ke tempatnya semula.


III.

RUPANYA pagi tak secerah yang kuharapkan. Sedikit mendung. Jam enam pagi aku sudah siap berangkat ke sekolah. Ini di luar kebiasaan tentu saja. Biasanya jam tujuh kurang seperempat aku baru siap untuk berangkat ke sekolah. Tapi hari ini lain, ada yang harus aku kerjakan bersama teman-teman pengurus mading lainnya, dead line menunggu kami.
Begitu keluar kamar, aku bertabrakan dengan tubuh kakakku yang juga baru saja keluar kamarnya. Ia marah-marah.
“Jalan yang bener, dong!” bentak kakakku.
“Maaf, Kak. Maaf.” Aku tidak begitu mempedulikannya. Segera aku berlari menuju meja makan dan menuangkan nasi ke atas piring. Aku makan sendirian di meja makan pagi ini. Dengan terburu-buru, aku lahap semua isi piring. Selesai makan aku langsung berpamitan kepada kedua orangtuaku dan berlari ke tepi jalan untuk naik bis. Syukurlah, aku tak perlu menunggu lama. Begitu aku sampai jalan raya, sebuah bis yang akan ke arah sekolahku langsung berhenti di depan gang menuju rumahku. Sepertinya ia tahu kalau aku sedang buru.
Di dalam bis pikiranku tidak tenang. Takut kalau-kalau aku terlambat. Aku kena kena damprat pengurus lain jika sampai terlambat. Jam enam lebih seperempat kami harus sampai di sekolah.
Aku memeriksa kembali barang bawaanku, siapa tahu ada yang ketinggalan. Aku membuka tas, dan melihat-lihat isi di dalamnya. Tepat! Semuanya lengkap aku bawa. Tidak ada satu pun yang tertinggal. Sesuai rencana.
Begitu sampai di depan sekolah, bis itu berhenti karena kernetnya tahu bahwa beberapa penumpangnya pasti akan berhenti di sekolah itu dilihat dari seragamnya. Aku turun dengan beberapa siswa lain. Aku tidak begitu mengenal mereka, hanya sering melihat wajahnya saja.
Aku segera berlari menuju ruang kami. Ya, ampun. Masih sepi. Aku hanya melihat Aris sedang menyalin tulisan ke lembar kertas berwarna ungu. Ia terlihat khusyuk. Hingga ia tidak sadar ketika aku masuk dan menyapa. Aku segera meletakkan tas kemudian membuka dan mengeluarkan bahan-bahan untuk mading.
Tidak lama kemudian, Ella datang sambil menggebrak pintu karena terburu-buru.
“Ella apaan sih?” kataku kaget.
“Sorry. Terburu-buru,” Jawabnya singkat. “Ups! Aku belum nyalin.” Lanjutnya begitu melihat Aris sedang serius menyalin tulisannya.
Ella bergegas membuka tasnya dan mengeluarkan semua isinya. Ia mencari-cari hasil tulisannya  tadi malam untuk disalin di kertas yang telah disediakan.
“Lho di mana tulisanku?” Ella menggerutu sendiri.
Sepagi ini kami sudah sibuk dengan urusan dan tugas masing-masing. Dua teman kami lainnya belum datang, Karlin dan Irfan. Entah kebingungan apa lagi yang akan mereka bawa.
Aku menghampiri Ella, menagih janjinya.
“Alooww Ella sayang...” sapaku mesra.
“Apaa?” gayanya cuek sambil mengeluarkan bolpoin dari tempatnya.
“Mana janjimu?”
“Ups!”
“Jangan pakai banyak alasan.”
“Iya, iya. Aku ingat kok. Tapi kan ini lagi banyak tugas. Sabar ya...”
“Jam istirahat, tiga coklat.”
“Beres, Bos.”
“Mau dong coklatnya.” Kata Aris tiba-tiba sambil nulis dan tanpa melihat kami barang sedikit pun.
“Minta sama Dina, dong.”
“Enak saja. Minta saja Ella, aku juga cuma dikasih Ella kok.”
Tapi Aris kembali sibuk dengan tulisannya, tak lagi menggubris kami. Ella sedikit kesal memperhartikan tingkah Aris pagi itu. Ella mencibirkan bibirnya ke arah Aris.
Aku meninggalkan Ella dengan kesibukannya dan menuju ke almari, tempat penyimpanan kertas dan alat-alat lainnya untuk perlengkapan mading. Aku mengeluarkan kertas besar untuk menempelkan hasil gambar Irfan yang nantinya akan diisi oleh tulisan-tulisan kami, menyiapkan gunting dan lem perekat. Semuanya kutaruh di atas mejaku karena di antara kami bertiga diruangan ini hanya aku yang telah selesai dengan tugasku. Dengan begitu akan mempersingkat kerja. Begitu Irfan datang dengan gambar hutannya, ia dapat langsung menempelnya di atas kertas besar dan lalu aku menempelkan hasil tulisanku dan disusul dengan yang lainnya.
Suara langkah kaki tergesa terdengar dari ruangan kami. Aku yakin yang datang adalah Irfan. Aku bersiap menyambutnya dengan siap membantunya untuk menempelkan hasil gambarnya. Aku sedikit kecewa ketika mengetahui yang membuka pintu adalah tangan mungil milik seorang perempuan. Ah, itu tangan milik Karlin.
“Sudah selesai, Lin?” tanyaku menyembunyikan rasa kecewa.
Meskipun ia sedikit tergesa-gesa, wajahnya terlihat tenang.
“Tentu sudah, dong. Anak rajin.” Jawabnya singkat.
“Rajin apaan?!” balas Ella.
“Ih, sirik!” Karlin menimpali.
“Dasar perempuan! Sepagi ini sudah ribut-ribut!”
“Ah, Pak Ketua. Sudah selesai, Pak!” tanya Karlin malu-malu karena merasa dirinya terlambat.
“Sudah. Semuanya sudah?” tanya Aris pada semua yang ada di ruangan itu.
“Saya belum.” Jawab Ella.
“Dasar pemalas!” olok Karlin.
“Cerewet!” Balas Ella.
“Lho! Irfan belum datang juga?” tanya Aris lagi.
“Belum.” Jawabku.
“Ya sudah kita tunggu saja. Oh iya, Dina jadinya nulis profil siapa?” tanya Aris melanjutkan.
“Seorang teman.”
“Baguslah. Setelah kupikir lagi, lebih baik kita memang mengangkat nama teman kita daripada guru.”
“Pikiran saya juga sependapat”
“Sependapat apa sependapat...” goda Karlin.
“Jangan mengada-ada kamu!” kata Aris.
“Sukurin!” kataku kepada Karlin.
Sudah pukul setengah tujuh, Irfan belum juga datang. Ini tentu saja membuat kami khawatir. Aris menargetkan hari ini mading sudah harus terbit. Paling tidak ketika istirahat atau sepulang sekolah mading itu sudah harus ada di papannya. Ini diluar kebiasaan. Irfan biasanya tak pernah seterlambat ini.
Aris keluar ruangan mencoba menghirup udara segar pagi ini. Sementara kami bertiga sibuk dengan kertas-kertas. Karlin membantu Ella dengan membacakan hasil tulisan Ella. Sesekali mereka terlihat ribut karena tulisan Ella tidak terbaca oleh Karlin. Keributan terlihat akrab sekali. Saling ejek adalah hal biasa di antara kami.
Aku mencoba menyusun antara tulisanku, Karlin, dan Aris agar sesuai dengan potongan kertasnya. Ketika Aris masuk lagi ke ruangan, aku menyembunyikan tulisanku. Aku ingin ini surprise buatnya. Tapi rupanya gelagatku diketahui olehnya.
“Apa yang kamu sembunyikan?” tanyanya padaku.
“Tidak! Tidak apa-apa.”
“Alah mengaku saja. Aku melihatnya kok, kamu menyembunyikan sesuatu.”
“Huss! Sepagi sudah ribut-ribut! Apa kalian tidak tahu, kamis sedang sibuk!” balas Karlin.
“Iya, Bu. Maaf.”
“Bu, bu! Emangnya kapan aku kawin sama bapakmu?”
“Ih, cantik-cantik judes...” goda Aris.
Karlin diam. Tapi aku tahu karlin tersanjung. Tidak biasanya Aris memuji orang, apalagi perempuan. Pipi Karlin memerah. Ini membuatku sedikit cemburu. Tapi untunglah, Aris mendekatiku dan mencoba membantu meletakkan kertas-kertas hasil tulisan dan rupanya ia telah melupakan kertas yang kusembunyikan tadi. Ia merubah semua yang telah kuletakkan.
“Sudah jam berapa ini? Kenapa Irfan belum juga datang?”
“Bantu orang tuanya kali.” Jawab Karlin sambil membacakan tulisan Ella dan Ella masih saja menulis di atas kertas berwarna coklat seperti kertas yang kutulisi.
“Duh, sepuluh menit lagi bel masuk akan berbunyi.”
“Nanti juga akan datang. Sabar saja.” Kataku menenangkan.
“Kalau ini tidak bisa sabar lagi. Masalahnya di luar kebiasaan.”
Aris kelihatan berfikir. Aris memang tak ingin apa yang sudah ditergetkan meleset. Jika ia menginginkan hari ini, maka hari ini pun mading itu harus terbit. Kami sebagai pengurus hanya bisa manut apa yang diinginkannya. Memang dia yang lebih banyak berkorban demi terwujudnya mading di sekolah ini.
“Begini saja,” katanya tiba-tiba. “Jika nanti bel berbunyi, kalian masuklah ke kelas dulu. Aku akan di sini menunggu Irfan.”
“Eit! Tidak bisa. Kita kan seperjuangan. Kalau nunggu satu ya nunggu semua. Kalau masuk kelas satu, ya masuk semuanya,” kata Ella. “Aku sudah selesai.” Lanjutnya melapor.
“Kalau mati satu, harus mati semua, gitu? Lalu yang akan meneruskan perjuangan siapa jika semuanya mati? Enak saja kalau ngomong. Sudah. Kalian ikuti saja usulku.”
“Baik, Pak Ketua.” Kata Karlin.
“Pak, pak. Kapan aku kawin dengan ibumu.” Balas Aris. Kami pun tertawa terbahak-bahak. Dalam keadaan yang genting seperti ini, Aris masih saja bisa bercanda.
“Nanti letakkan saja hasil tulisan kalian di atas kertas itu.” Aris menunjuk pada kertas yang telah kusiapkan tadi.
Tidak selang lama bel sekolah pun berbunyi memanggil seluruh siswa untuk masuk ke kelasnya masing-masing.
“Aris betul, mau menunggu Irfan di sini?” tanya sedikit mengkhawatirkan.
“Iya. Percaya saja padaku.”
“Baiklah kalau begitu. Kami masuk kelas dulu.”
“Dah... Pak Ketua.”
“Dah...”
Ella dan Karlin melangkah lebih dulu, dan kemudian aku menyusul sambil meletakkan hasil tulisanku dengan cara terbalik. Untunglah Aris tak melihatnya karena dia mengolok-ngolok Karlin yang terus memanggilnya dengan sebutan Pak.
“Saya duluan, Ris.” Sapaku.
“Iya. Belajar yang rajin.” Aku melangkah seolah tak peduli dengan kata-kata Aris.
“Kamu juga ya.” Balasku. Sungguh, aku tersanjung.
Di dalam kelas, perasaan sedikit khawatir dengan keadaan Aris. Seharusnya ia tak perlu melakukan itu. Bisa saja kan menunggu ketika jam istirahat dan kemudian meminta ijin kepada guru untuk mencari Irfan.
Kalau sampai Aris tidak masuk kelas gara-gara menunggu Irfan dan salah seorang guru mengetahuinya, bisa-bisa Aris kena skors. Ini berbahaya. Ke mana saja kamu Irfan! Batinku kesal. Irfan keterlaluan.
“Sseeiit!” aku mencoba memanggil Ella yang bangku besebrangan denganku.
“Apa?”
“Aris belum masuk kelas.”
“Santai saja.”
“Santai saja, bagaimana?”
“Tenang saja. Aris tahu yang dia perbuat. Kita percaya saja sama dia.”
“Tapi aku punya firasat buruk.”
“Sudahlah. Simpan saja firasatmu. Itu hanya kekhawatiranmu padanya. Karena kamu... mencintainya. Hihihi...” Ella malah meledekku dan terkikih-kikih karena menahan tawanya.
Tak puas jawaban Ella, aku menulis pesan singkat di kertas untuk kuberikan pada Karlin karena bangkunya selesih dua bangku di depanku.
“Lin, aku punya firasat buruk tentang Aris. Sepertinya dia belum masuk kelas.” Aku memberikan kertas itu kepada teman bangku depanku untuk disampaikan kepada Karlin.
Aku menunggu sejenak. Pikiran tak lagi konsentrasi pada pelajaran. Dalam otakku hanya ada Aris. Teman bangku depanku mengulurkan tangannya tanda ada pesan untukku dari Karlin.
“Aku juga sama. Jangan-jangan ia mencari Irfan ke tempat biasa mereka nongkrong.”
Aku pun segera membalasnya.
“Kalau itu sampai terjadi dan ketahuan sama guru, dia bisa dihukum atau diskors.”
Aku kembali mengulurkan tangan ke teman bangku depanku. Tak selang lama, balasan pun datang.
“Kita urus nanti saja. Jam istirahat.”
Aris memang pandai menyelesaikan masalah. Pandai menyelsaikan masalah bukan berarti dia akan lepas dari hukuman. Jika dia memang bersalah, tentu saja dia akan kena hukuman. Itu sudah menjadi resiko.
Kali ini firasat burukku sangat kuat terhadap Aris. Tak biasanya aku memiliki firasat sekuat ini dan aku yakin bahwa firasatku kali ini memang benar.
Aku mencoba menenangkan hatiku sendiri. Berfikir positif adalah kuncinya, bahwa tak akan terjadi apa-apa pada Aris. Semoga Aris baik-baik saja.
Aku buang jauh-jauh segala pikiran burukku tentang Aris. aku tidak boleh terus-terusan memikirkannya. Aku harus fokus ke pelajaran. Lagipula siapa aku dan siapa Aris. Kami hanya teman. Tak ada yang spesial di antara kami.


IV

JAM istirahat. Beberapa kelas telah mengakhiri jam pelajarannya dan siswa berhamburan keluar. Terdengar suara berisik dari luar kelas kami. Guru kami pun segera mengakhiri pelajarannya.
Dari dalam kelas terdengar suara olok-olokan para siswa. Aku jadi penasaran siapa kali ini yang kena hukuman. Karlin dan Ella  menghampiriku.
“Di luar ramai sekali. Siapa yang dihukum?” tanya Karlin.
“Mana kutahu.” Jawab Ella pendek.
Aku mengemasi buku-buku pelajaran dan memasukkannya ke dalam tas lalu ke dalam laci mejaku.
“Sudahlah, jangan pedulikan. Paling juga anak kelas tiga, kan mereka yang sering bikin onar. Kita ke ruang mading aja. Kita selesaiakn yang sempat tertunda.”
“Ups! Mungkin...” kata Ella menduga-duga.
“Apa?” tanyaku penasaran.
“Jangan-jangan...” kata Ella.
“Jangan-jangan apa?” tanyaku lagi mendesak.
“Ke ruang mading sekarang!” sahut Karlin.
“Tapi...” belum selesai aku bicara, Ella dan Karlin sudah meluncur ke luar kelas. Aku sedikit bingung. Aku segera menyusul mereka..
Kami bertiga langsung berhamburan menuju ruang mading. Jalan kami menuju ruang mading memang melewati lapangan sekolah, tempat kami biasa melakukan upacara bendera di Senin pagi, tapi kami tak sempat memperhatikan siapa yang dihukum. Kami sibuk dengan praduga kami. Lagipula pandangan kami menuju lapangan dihalangan-halangi banyak siswa lain yang mengolok-olok terhukum. Ada saja cemooh yang dikeluarkan. Memang begitulah kebiasaan di sekolah kami. Setiap kali ada yang kena hukuman, pasti para siswa akan menontonnya beramai-ramai dan mengolok-olok. Meski begitu, hampir setiap hari ada saja siswa yang kena hukuman dengan berbagai kesalahan yang beda-beda.
Sesampainya di ruangan mading, kami hanya melihat Irfan duduk di bangkunya dan terlihat sangat lesu. Ia seperti menyesal karena melakukan kesalahan yang sangat besar. Pasti ada sesuatu yang terjadi, batinku.
Lagi-lagi pikiran buruk menyergap otakku.
“Mana Pak Ketua?” tanya Karlin.
Irfan hanya diam saja. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Aku merasakan bahwa firasatku mulai menemukan kebenarannya.
“Di mana Pak Ketua? Aku tanya kamu, Fan! Jawablah! Jangan hanya diam saja!” ulang Karlin, kali ini membentak. Tapi Irfan tetap diam saja dan kepalanya masih menunduk. Ia seperti menyembuyikan suatu masalah yang dapat membuatnya menyesal seumur hidup.
Aku perhatikan meja tempat aku meletakkan kertas-kertas hasil salinan tulisan teman-teman sudah bersih. Gunting beserta lem perekat juga sudah tidak ada di tempatnya. Mungkin sudah masuk almari.
Bekas-bekas potongan kertas pun tak ada satu pun. Tidak biasanya ini akan bersih dengan sendirinya. Bersih-bersih dan mengembalikan barang-barang ke tempatnya semula adalah pekerjaan yang paling malas kami lakukan. Biasanya kami lakukan itu bersama-bersama untuk menjaga semangat. Ini menandakan bahwa mading telah terpasang di papannya.
“Siapa yang dihukum?” tanyaku pelan.
Pelan-pelan Irfan mendongakkan kepalanya.
“Aris.”
“Hhaaa!!!” teriak Ella dan Karlin.
“Kok bisa!” kata Ella tak percaya.
“Ceritanya gimana dan kamu ke mana saja tadi?” tanya Karlin bertubi-tubi ingin segera mengetahui sebab-sebabnya.
Firasatku ternyata tidak salah. Pasti akan terjadi sesuatu pada Aris dan sekarang Aris sedang berdiri di bawah tiang bendera di tengah-tengah lapangan. Ini memalukan.
“Aku bangun kesiangan karena semalaman mengerjakan gambar hutan untuk background mading.” Kata Irfan menjelaskan.
“Ya ampun, Faaan.” Kataku.
“Lalu bagaimana Aris bisa dihukum?” tanya Karlin lagi.
“Bagaimana ceritanya?” tambah Ella seolah mereka tak mau lagi menunggu untuk mengetahuinya.
“Dia menjemputku ke rumah. Ketika sampai di sekolah, aku disuruhnya mengendap-endap lewat gang sekolah dan Aris berjalan dengan santai lewat ruangan guru untuk mengelabuhi agar tak ada yang melihat aku. Begitu sampai ke ruangan ini, aku langsung menempel-nempel kertas dan ketika pergantian jam pelarajan pertama, aku langsung memasangnya di papan mading dan masuk kelas. Tapi ternyata Pak Yono tidak masuk sekolah karena istrinya sedang dirawat di rumah sakit. Jadi aku kembali lagi ke ruangan ini.” Jelas Irfan penuh penyesalan.
Kami bertiga, aku, Ella dan Karlin tak lagi memperhatikan Ifran. Tak ada gunanya lagi marah-marah. Semuanya sudah berkorban untuk terbitnya mading dan tak adil jika kami harus memarahi Irfan. Ini sudah resiko.
Kami segera berlari menuju tempat Aris di hukum.
Ia masih bisa tersenyum ketika melihat kami berdiri berjajar melihatnya. Kami bertiga prihatin dengan yang terjadi padanya. Beberapa bagian seragam sekolahnya telah basah oleh keringat. Matahari siang ini begitu panas. Dia penuh dengan pengorbanan. Aku tidak tega melihatnya. Aku menundukkan kepala. Aku merasa tidak rela Aris dihukum seperti dan dipermalukan banyak siswa.
“Kalian tenang saja. Ini cuma sebentar kok.” Kata Aris menenangkan kami.
Di antara kerumunan siswa yang menertawakan Aris, tiba-tiba terdengar suara mengejek yang bagiku sangat menyakitkan. Tentu saja bagiku, karena aku yang menulisnya.
“Jadi ini siswa teladan itu?”[]Djogjakarta, 2008.


Komentar

Pos populer dari blog ini

Strukturalisme Genetik Goldmann

Pendahuluan
Strukturalisme genetik ditemukan oleh Lucien Goldmann, seorang filsuf dan sosiolog Rumania-Perancis. Teori ini dikemukakannya pada tahun 1956 dengan terbitnya buku The Hidden God: a Study of Tragic Vision in the Pensees of Pascal and the tragedies of Racine. Teori dan pendekatan yang dimunculkannya ini dikembangkan sebagai sintesis atas pemikiran Jean Piaget, Geogre Lukacs, dan Karl Marx. Menurut Faruk (2003: 12) Goldmann percaya bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur. Artinya, ia tidak berdiri sendiri, melainkan banyak hal yang menyokongnya sehingga ia menjadi satu bangunan yang otonom. Akan tetapi, Goldmann tidak secara langsung menghubungkan antara teks sastra dengan struktur sosial yang menghasilkannya, melainkan mengaitkannya terlebih dahulu dengan kelas sosial dominan. Sebab, struktur itu bukanlah sesuatu yang statis, melainkan merupakan produk dari sejarah yan terus berlangsung, proses strukturisasi dan destrukturisasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat as…

Mengupas Makna Tadarus, Antologi Puisi “Tadarus” karya; Musthofa Bisri

Gus Mus—panggilan akrab A. Mustofa Bisri—menggubah puisi (baca; Al qur'an) menjadi puisi. Apa yang ada di dalam Al qur'an beliau terjemahkan lagi dalam puisi Indonesia. Meski hal ini tidak bisa menandingi, bahkan mustahil untuk menyamai isi dari alqur'an, tapi puisi yang digubah oleh Gus Mus sudah cukup menggerakkan seluruh bulu roma dan mengendorkan sendi-sendi tubuh. Tentu saja hal ini tidak lepas dari pandangan tentang proses kreatif yang dilakukan oleh Gus Mus.
Gus Mus yang tak pernah tamat atau lulus sekolah belajar kesenian dengan mengamati masa kecilnya. Jiwa pelukisnya tumbuh saat beliau teringat bahwa pada masa kecilnya beliau pernah memenangkan lomba menggambar dan warnai. Sejak saat itu, beliau sadar bahwa dalam dirinya ada bakat untuk melukis. Kemudian mulailah Gus Mus melukis hingga pada saat ini lukisan beliau sangat terkenal. Salah satu lukisannya yang hanya bertuliskan alif di atas kanvas terjual hingga puluhan juta rupih.
Untuk bakat menulisnya sendiri, be…

Satu Cinta Untuk Eva Dwi Kurniawan

1.Penyair Eva merupakan penyair yang sangat produktif. Dalam kurun waktu lima bulan, ia menyulap puisi-puisi itu dan jadilah antologi Swara Dewi yang berjumlah 64 judul. Angka genap yang terkesan ganjil, kenapa tidak dibulatkan menjadi 65 saja? Tentu ini memiliki alasan tertentu. Ia menuliskan puisinya dari bulan Januari hingga Mei 2012. Baru kali ini saya melihat ada penyair sedahsyat dan seproduktif ini. Mungkin hidupnya didedikasikan hanya untuk puisi. Dan dengan membaca antologi tersebut, kesan pertamanya adalah menulis puisi itu gampang. Antara kurun Januari hingga Mei saya kembali bertanya, di mana bulan april? Tak ada satu pun puisi yang ditulis bulan April masuk dalam antologi ini. Mungkin bulan April terlalu menyakitkan baginya? Mungkin ia pernah patah hati di bulan April. Tampaknya, Penyair Eva tidak menganggap bulan itu begitu penting, melainkan ia memilih puisi-puisi yang memiliki tema sama. Ini terlihat dari adanya puisi di bulan Desember 2012 yang diikutkan dalam antologi…